Selamanya Milikku

Selamanya Milikku
Jadi ayah


__ADS_3

Sudah satu bulan sejak Vania dan Rama menikah, kondisi mereka pun tetap sama. Vania masih saja acuh dan tak peduli pada suaminya.


Malam ini Rama pulang terlambat karena banyak pekerjaan menumpuk di kantornya. Dilihatnya makanan di meja makan yg masih utuh belum tersentuh, sore tadi ia meminta pegawainya untuk mengirimkan Vania makanan karena tahu dirinya tak bisa pulang cepat.


Dengan segera ia menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan memeriksa istrinya. Dilihatnya Vania tertidur nyenyak dibalik selimut, sebenarnya ia tak tega membangunkan, namun ia juga khawatir karena istrinya belum makan apapun.


"Sayang bangun, kamu belum makan kan? makan dulu yuk, setelah itu kamu bisa tidur kembali." Ucap Rama lembut membangunkan istrinya.


Vania enggan bangun, ia malah memeluk erat guling di sampingnya.


" Hmmm baiklah, tapi besok kamu harus sarapan ya, selamat tidur istriku". Mencium kening Vania kemudian ikut tertidur di sampingnya.


Pagi ini Rama terbangun lebih pagi karena mendengar istrinya muntah2 dikamar mandi. Ia pun khawatir dan segera menyusulnya.


"Sayang kamu gppa? Kita ke rumah sakit ya, atau mau aku panggilkan dokter." Ucap Rama khawatir dibalik pintu kamar mandi.


Beberapa saat kemudian Vania keluar tanpa menjawab pertanyaan Rama, raut wajahnya terlihat pucat, dan tidak bertenaga. Rama pun sigap segera memapah istrinya kembali ke tempat tidur.


Karena khawatir ia segera menghubungi dokter pribadinya untuk datang dan memeriksa Vania.


Setengah jam kemudian dokter itu pun datang dan langsung memeriksa istrinya.

__ADS_1


"Gimana? istriku sakit apa?". Tanya Rama segera setelah dokter itu selesai.


"Tidak ada apa2, selamat istrimu hamil." Kata dokter itu tersenyum sambil menepuk pundak Rama.


"Benarkah? aku akan jadi ayah?". Ucap Rama antusias matanya berbinar bahagia.


"Iya, jaga istrimu baik2 Ram, jangan biarkan dia kelelahan dan perhatikan pola makannya. Aku juga sudah memberinya vitamin. Kalau gitu aku pergi dulu ya, sekali lagi selamat untuk kalian." Jawab dokter itu lalu bergegas meninggalkan kamar Rama.


Rama teramat senang mendengar berita itu, ia segera menghampiri Vania dan memeluknya.


Sedangkan Vania hanya diam, seperti tak ada kebahagiaan sedikit pun mendengar ia akan jadi seorang ibu.


"Terima kasih sayang sudah mau mengandung anakku. Aku janji akan selalu menjaga kalian. Aku mencintai kalian berdua." Ucap Rama yg masih memeluk Vania.


"Baiklah aku akan membuat sarapan dulu untuk kita, kamu disini saja biar aku bawa kemari sarapannya nanti."


Melihat Rama yg telah pergi, sejenak Vania termenung mengingat bagaimana nasib anaknya kelak. Ia sama sekali tak mencintai ayah bayi ini. Entah ia harus merasa bahagia atau sedih. Karena dengan adanya anak ini maka ia akan benar2 terikat dengan Rama.


Maafkan bunda nak, bunda belum bisa menerima ayahmu. Tapi bunda janji bunda akan selalu disisimu dan menemanimu.


Ucap Vania sembari mengelus perut ratanya.

__ADS_1


****


Hari hari mereka tetap sama seperti biasanya. Hanya saja kali ini Rama benar2 memanjakan Vania, ia juga menyewa asisten rumah tangga untuk menjaga istrinya selama ia bekerja.


Pagi ini Vania bangun terlalu pagi, ia keluar dari kamarnya dan tidak seperti biasanya, ia ingin sekali berjalan jalan di luar rumah menikmati semilir angin di pagi hari.


Setelah dirasa cukup ia pun kembali ke dalam rumah, perutnya terasa lapar, ia ingin sekali makan burger dan spagetti yg sebelumnya tak pernah disukainya.


"Bi, bisa belikan aku burger dan spagetti, aku ingin sekali." Ucap Vania pada pembantunya yg sedang memasak.


"Masih terlalu pagi nyonya, akan lebih baik jika anda makan nasi saja." Jawab bibi sopan.


"Ayolah bi, anakku menginginkannya." Rengek Vania sambil mengusap usap perutnya.


"Baiklah, nyonya tunggu sebentar biar saya belikan." Ucap bibi menyerah.


"Yeay.. terima kasih bibi memang yg terbaik." Sahut Vania senang.


Tanpa disadari ternyata Rama sedang memandangnya dari jauh. Ia terbangun karena tidak melihat Vania disampingnya. Sejenak ia merasa bahagia bisa melihat senyum Vania yg tak pernah ia tunjukkan selama ini. Di depannya Vania selalu diam dan murung, tak pernah sekalipun senyum bahkan tertawa.


Aku merindukan senyum itu sayang. Tak bisakah kau melakukannya di depanku setiap hari? Aku sangat merindukannya.

__ADS_1


Gumam Rama yg masih menatap istrinya dari jauh.


__ADS_2