
Kandungan Vania kini sudah menginjak 4 bln, dia semakin banyak makan, tak jarang juga minta hal yg aneh2. Seperti malam ini, dirinya terbangun dan ingin sekali makan nasi goreng buatan Rama. Ia bingung harus bagaimana, ia gengsi meminta hal itu pada sang suami. Tapi disisi lain dirinya tak bisa tidur sebelum keinginannya itu dipenuhi.
Aduh masa iya sih harus bangunin dia?? Aku kan gengsi.. Kamu ada2 aja sih nak, bikin bunda malu aja depan ayahmu.
Gerutu Vania sambil mengusap usap perutnya.
Akhirnya dengan terpaksa ia pun memutuskan untuk membangunkan pria itu.
"Ram.. bangun!." Ucap Vania pelan sambil sedikit menepuk pundak Rama.
"Ah ya ada apa sayang? kamu butuh sesuatu?". Tanya Rama lembut.
"A..Aku ingin makan nasi goreng buatanmu." Jawab Vania gugup menahan malu.
"Emm.. baiklah. Anak ayah mau nasi goreng ya, yaudah sebentar ya ayah bikinin." Ucap Rama sembari mengelus perut Vania yg mulai kelihatan buncit.
Setengah jam kemudian Rama membawa sepiring nasi goreng ke kamarnya. Melihat hal itu Vania terlihat antusias dan segera merebut piring itu dari Rama. Ia memakannya dengan lahap tanpa peduli pada Rama yg mengamatinya sedari tadi.
__ADS_1
"Pelan2 sayang, tak akan ada yg merebutnya darimu." Tutur Rama sambil menahan senyumnya.
"Emm.. sudah. Terima kasih." Ucap Vania singkat lalu menyerahkan piring itu kembali pada Rama.
Kini ia merasa wajahnya sudah memerah karena menahan malu. Baru kali ini ia mau bicara pada Rama, bahkan meminta sesuatu darinya.
"Baiklah, sekarang kamu kembali tidur ya. Aku akan membereskan ini." Jawab Rama lalu bergegas kembali ke dapur.
****
"Sayang aku kerja dulu, kamu hati2 ya di rumah. Ada apa2 langsung kabarin aku.
Setelah pamit pada istri dan calon anaknya Rama segera melajukan mobilnya ke kantor untuk bekerja.
Tolong jangan terlalu lembut padaku Ram, aku tak mau sampai jatuh cinta padamu.
Ucap Vania yg masih memandang arah perginya Rama. Dalam 5 bulan ini Rama selalu lembut dan baik padanya, meskipun Vania mengacuhkannya, sedikitpun ia tak pernah mengeluh atau marah.
__ADS_1
Terkadang Vania merasa bersalah karena hal itu, namun disisi lain hatinya juga masih sakit mengingat bagaimana ia bisa menikah dengan Rama pria yg telah menodai dirinya.
Sementara itu di kantor Rama terlihat sangat sibuk, ia berencana membuka beberapa cabang toko lagi di berbagai daerah. Apalagi ditambah dengan sekertarisnya yg sedang cuti menikah, mau tidak mau dirinya harus lebih banyak menanggung beban kerjanya satu minggu ini. Membuat dirinya sering lupa makan, dan tak jarang membuatnya sering begadang.
Tokk..tokk..tokk..
"Masuk".
"Permisi pak sudah waktunya makan siang, saya lihat beberapa hari ini bapak jarang makan. Lebih baik bapak makan dulu, saya takut nanti bapak akan sakit jika terus seperti ini." Tutur Angga yg melihat Rama masih sibuk dijam makan siangnya.
"Ah iya makasih ngga, lagi pula ini tinggal dikit kok. Aku nggak mau pulang telat, istriku sedang hamil takut dia kenapa2." Jawab Rama tanpa menoleh.
"Iya aku paham Ram, tapi kalau kamu terus memforsir tenagamu dan selalu lupa makan seperti ini, nanti kamu bisa sakit. Terus siapa yg bakal jagain istrimu?." Ucap Angga mengingatkan.
"Huhh.. lama2 kamu lebih cerewet dari momku. Baiklah, kamu pesenin makan, biar aku makan disini." Jawab Rama menyerah lalu berhenti sejenak dari kesibukannya.
"Nah gitu dong, bentar aku pesenin."
__ADS_1
Apapun akan aku lakukan untuk membuat kalian berdua bahagia. Sehat selalu ya istriku,, anakku..
Ucap Rama sembari memandang foto istrinya. Karena hanya dengan melihat wajah istrinya itu ia merasa semangat dan ingin menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin agar bisa pulang tepat waktu.