Selamanya Milikku

Selamanya Milikku
Rencana kabur


__ADS_3

Malam ini cukup dingin, namun hingga hampir tengah malam Vania sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, lebih tepatnya tidak ingin, karena yg ia inginkan saat ini hanya kabur dari tempat ini. Kesana kemari mencoba mencari celah namun nihil, sedangkan si pemilik villa tak lagi mengunjungi dirinya setelah mencium paksanya tadi pagi.


Bantu aku Tuhan, keluarkan aku dari tempat ini, ku mohon. Gumamnya sambil mengelilingi kamar mewah itu berusaha mencari jalan keluar.


Waktu terus berjalan hingga hampir jam 2 pagi, namun Vania tak kunjung menemukan cara untuk kabur. Karena dirasa lelah dan mengantuk akhirnya ia tertidur di sofa kamar itu. Mungkin lebih baik tidur dan memikirkan jalan keluarnya lagi besok pagi.


****


"Gimana keadaan gadis itu?". Tanya Rama yg baru keluar dari kamarnya.


"Dia baik2 saja tuan, tapi saya lihat matanya menghitam seperti tidak tidur semalam, dia juga menolak untuk sarapan, namun setelah saya sedikit mengancamnya bahwa tuan akan memecat saya bila ia tidak makan, akhirnya ia bersedia memakannya meski sedikit." Jelas bibi.


"Baiklah, kamu terus awasi dan jaga dia, saya mau ke kantor, nampaknya akan pulang malam karena banyak pekerjaan yg tertunda kemarin." Perintah Rama.


"Tentu tuan, kalau gitu saya permisi kebelakang dulu melanjutkan pekerjaan saya." Pamit bibi.


"Iya pergilah." Jawab Rama dingin.


Maafkan aku sayang terpaksa mengurungmu, aku hanya tidak ingin kamu meninggalkan aku lagi. Ucap Rama sembari memandang kamar Vania, kemudian segera beranjak ke kantor.

__ADS_1


****


Mentari pagi ini sangat cerah, Cahayanya yg hangat ikut masuk ke celah celah rumah Vania, hingga mampu membangunkan Farel yg masih meringkuk di sofa rumah itu.


Sesaat setelah terbangun ia teringat akan Vania, kembali ia menghubungi teman dan rekan kerja gadis itu namun nihil tak ada yg tahu, segera ia pergi ke kantor polisi setempat guna melaporkan hilangnya Vania secara tiba2. Ia juga kembali mengelilingi kota itu berharap akan menemukannya sendiri.


Di tengah perjalanan.


Ting tung ting tung..


Terdengar panggilan masuk di ponsel Farel, segera ia menepikan mobilnya untuk menjawab panggilan tersebut, yg mana ia berharap bahwa mungkin itu adalah Vania.


"Halo dokter, anda dimana? siang ini anda ada jadwal operasi penting dok." Ucap seseorang dibalik telpon yg ternyata bukan Vania.


"Ah iya maaf saya hampir lupa, satu jam lagi saya sampai." Jawab Farel.


Kemudian segera ia bergegas dan memutar balik mobilnya menuju rumah sakit tempatnya bekerja, sedangkan untuk masalah Vania sementara ini ia serahkan kepada polisi, karena bagaimana pun Farel harus memenuhi tanggung jawab dan sumpahnya sebagai dokter.


****

__ADS_1


Tokk tokk tokk


"Masuk"


"Permisi ada perlu apa nona memanggil saya? ada yg bisa saya bantu?". Tanya bibi.


"Saya minta tolong bi, di kamar mandi tadi saya lihat ada anak tikus, saya phobia tikus, bisakah bibi membantu saya mengusirnya." Ucap Vania memohon.


"Mana mungkin ada tikus nona, rumah ini sangat terawat, belum pernah ada kecoa bahkan tikus sekalipun." Jawab bibi ragu.


"Kalau bibi tidak percaya bibi bisa memeriksanya sendiri." Vania mencoba meyakinkan.


"Baiklah saya cek sebentar." Ucap bibi sembari masuk kedalam kamar mandi.


Dilihatnya bibi telah masuk, segera Vania mengunci kamar mandinya itu dari luar.


Yes berhasil, sekarang aku harus cepat keluar dari sini. Gumam Vania segera keluar dari kamar itu, beruntungnya ia karena disini sama sekali tidak ada bodyguard atau semacamnya yg menjaga ketat dirinya seperti di drama kebanyakan.


Dengan sangat hati2 ia mengintai satpam yg menjaga gerbang, dilihatnya satpam itu sedang asik berbicara dengan kawan se pekerjanya. Namun tak lama kemudian terlihat mobil yg memasuki gerbang, dan orang dari dalam mobil seperti memberi intruksi pada kedua satpam itu agar memperketat lagi penjagaan mereka.

__ADS_1


Mungkinkah aku ketahuan? Ucap Vania seraya meremas jari2 nya kasar, ia sangat takut dan cemas akan tertangkap lagi oleh pria mesum itu.


__ADS_2