
"Emmm.. kesayangan bunda sudah bangun. Maaf ya nak bunda tidak bisa menemanimu sekarang, bunda harus bantu oppamu. Kamu baik2 ya dirumah, jangan nakal sama oma, nanti sore kita jenguk ayah sama2 ya."
"Jangan khawatir nak, Kenzo aman sama mom. Kamu berangkat gih, hati2 ya jangan lupa makan siang."
"Baiklah, aku berangkat mom."
***
Di kantor..
"Hari ini kita ada meeting ya ngga?". Tanya Vania memastikan.
"Iya nyonya, hari ini kita ada meeting dengan perusahaan Carolina. Pertemuan kali ini cukup penting karena akan membahas perpanjangan kontrak kita dengan mereka." Jelas Angga.
"Baiklah, minta tolong kamu cek lagi ya berkasnya takutnya ada yg ketinggalan."
__ADS_1
"Iya nyonya, kalau gitu saya permisi dulu."
Sudah satu bulan Vania bekerja, ia sudah cukup menguasai semua pelajaran yg diberikan oleh Angga. Kali ini ia sendiri yg akan mewakili perusahaan untuk bertemu langsung dengan wakil Carolina group.
Mereka melakukan pertemuan itu di gedung Carolina, perusahaan yg tak kalah besar dengan milik keluarga Rama. Ia sudah mendengar bahwa saat ini perusahaan itu dipimpin oleh seorang wanita cantik yg masih single.
Tanpa menunggu lama Vania dan Angga segera memasuki ruang meeting gedung itu, dan disana pun sudah ada yg menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang nyonya dan tuan silahkan duduk." Ucap seorang wanita cantik yg sepertinya pemilik perusahaan itu yg tak lain adalah Rara.
"Ah iya terima kasih. Perkenalkan saya Vania dan ini asisten saya. Saya disini mewakili suami saya, beliau ada halangan sehingga tidak bisa hadir dalam pertemuan ini." Ucap Vania sopan.
Sejenak Rara termenung mendengar nama Vania. Mungkinkah dia adalah Vania yg dulu sangat Farel cintai. Setelah diperhatikannya baik2 wajah wanita didepannya ini memanglah sangat mirip.
"Maaf bisa kita mulai meetingnya?." Tanya Vania sopan menyadarkan Rara yg masih melamun.
__ADS_1
"Emm i..iya tentu." Jawab Rara gugup.
Meeting itu berlangsung selama dua jam, kedua perusahaan itu pun sepakat untuk meneruskan kontrak kerjasamanya. Baik Vania juga Angga sangat lega mendengar keputusan ini. Ia merasa telah berhasil melakukan pekerjaannya. Dan tak bisa menyembunyikan raut bahagianya sekarang.
"Kalau begitu kami permisi dulu, senang sekali kami bisa melanjutkan kerja sama ini dengan anda. Sampai jumpa." Pamit Vania sembari mengulurkan tangannya pada Rara.
"Iya saya juga senang bisa bertemu langsung dengan istri tuan Rama. Ah ya bolehkan kita berteman?". Ucap Rara menerima uluran tangan Vania.
"Tentu saja, jika anda tidak keberatan mainlah kerumah kami. Akan ku kenalkan nanti pada putraku." Jawab Vania antusias.
"Benarkah? pasti dia sangat lucu, aku jadi tidak sabar".
"Maaf aku harus pamit sekarang, masih ada pekerjaan. Sampai jumpa lain waktu."
Setelah kepergian Vania, Rara kembali melamun mengingat kejadian 2 tahun yg lalu, dimana ia memilih untuk menolak Farel karena takut Farel tidak akan bisa melupakan Vania. Namun saat ini ia merasa sedikit menyesal setelah melihat Vania. Ternyata wanita itu sudah bahagia dengan kehidupannya sendiri. Lalu bagaimana dengan kondisi Farel sekarang, dimana dia dan apakah dia baik2 saja.
__ADS_1
Aku harap kamu baik2 saja kak dimanapun kamu. Jika masih ada kesempatan aku harap kita akan bertemu lagi nanti. Jujur aku masih tidak bisa melupakanmu.
Sudah dua tahun berlalu, Rara sama sekali tidak berkomunikasi dengan Farel. Pria itu seakan menghilang bagai ditelan bumi, ya meski dari awal memang dirinya yg menginginkan hal itu. Namun tak dapat dipungkiri jika dihatinya masih tersimpan nama Farel disana.