
Hingga akhirnya Rania pun terlihat berpikir cukup lama, dia termenung dalam kesendirian, sampai Rania tiba-tiba bangkit dan segera berjalan ke arah kamar hamba lain. Rania masuk ke dalam sana, dan menghampiri lemari yang besar dan tinggi terbuat dari kayu jati. Rania mengulurkan tangannya dan mencoba untuk melihat sesuatu, Rania langsung mencari sambil memindahkan beberapa setel pakaiannya. "Aku teringat masih menyimpan uang, semoga saja cukup untuk Ayah," dalam benak Rania yang sedang bersusah-payah.
Tidak lama kemudian, Rania menemukan apa yang sebelumnya gadis itu cari, Rania menatap tajam sebuah dompet lusuh berwarna biru tua, Rania langsung mengambilnya dan mengambil uang di dalam sana. " Berapa ya?" dalam benak Rania yang langsung disibukkan oleh berhitung.
Rania pun melihat banyaknya sejumlah uang yang telah dia kumpulkan, memang tidak seberapa tapi ada 1.920 (satu juta sembilan ratus dua puluh ribu) yang digenggam oleh Rania saat itu.
"Alhamdulillah," ucap Rania bermonolog penuh syukur. "Cukup tidak cukup sekarang yang paling penting aku bisa memeriksakan Ayah di rumah sakit," dalam benak Rania. Gadis itu menghela napasnya cukup dalam.
Rania langsung memasukkan dompet biru itu ke dalam saku celananya, dia kembali ke tempat Ayahnya. Rania mendatangi Ayahnya yang terkapar tidak berdaya kekhawatiran yang Rania miliki sangat besar. Dia tatap Ayahnya yang masih seperti sebelumnya. Rania menghela napasnya cukup dalam, kemudian Rania mendekati sang Ayah. Rania berusaha untuk memapah tubuh Ayahnya, meskipun dia cukup kesulitan karena kalah tubuhnya dari Ayahnya sendiri, Rania tetap mampu melakukannya.
Rania keluar dari dalam rumah, dan tidak lupa untuk mengunci pintu, malam itu sangat sepi, tidak orang yang berada di sana. Dan Rania adalah tipe orang yang tidak senang menggangu ketenangan orang lain apalagi jika sampai harus merepotkan orang lain.
Dia tertatih seorang diri. Rania berjalan kaki karena tidak ingin menggunakan kendaraan yang membuat dia khawatir nantinya akan menguras uang yang dia punya.
Hingga beberapa waktu kemudian, Rania tiba di rumah sakit terdekat. Rania langsung masuk ke dalam sambil bicara, "Suster, tolong! Tolong Ayah saya," ucap Rania dengan suaranya yang lemas.
Melihat dan mendengar hal tersebut, beberapa perawat yang bekerja langsung memalingkan wajah mereka, dengan sigap mengeluarkan ranjang rumah sakit hitam polos, atau biasa disebut Brankar.
__ADS_1
Perawat itu segera menangani Ayah Rania, sementara Rania berjalan di belakang. Dia melihat seorang perawat menghampiri dirinya. "Kak, tolong selesaikan dahulu biaya administrasinya, ya!" ucap wanita berseragam putih tersebut.
Rania menganggukkan kepala, dia menyetujui hal tersebut karena memang telah menjadi aturan paten di beberapa rumah sakit. Rania menuju loket pertama. Dia pun langsung bicara langsung di sana. Terlihat saat itu Rania yang sibuk berbincang. Dia mengeluarkan sejumlah uang yang tidak sedikit.
Tidak lama kemudian, Rani kembali ke tempat Ayahnya diperiksa, Rania menunggu dengan sabar, sambil mengkhawatirkan kondisi dari Ayahnya sendiri. "Ayah bangun! Tolong jangan membuatku menjadi khawatir seperti ini!" dalam benak Rania yang gelisah sendiri.
Saat Rania sedang fokus berdoa, datang kepada gadis itu seorang lelaki gagah. "Kakak keluarga dari Bapak ini?" tanya pria berjasa putih itu dengan lekat pada Rania.
"Betul, Dok! Saya anaknya, apa yang sebenarnya terjadi dengan Ayah saya, Dok?" tanya Rania yang sangat penasaran.
Rania terpukul mendengar hal tersebut. "Baik, Dok! Saya menyetujuinya, tolong sembuhkan Ayah saya ya, Dok!" balas Rania, gadis itu memang tidak memiliki pilihan lain, selain menerimanya dengan ikhlas.
"Baiklah, saya akan kembali melanjutkan pekerjaan saya," tambah pria itu dengan tenang. Dia meninggalkan Rania dan memeriksa lagi tubuh Ayah Rania dengan teliti.
"Ayah harus di rawat inap, pasti biayanya tidak sedikit, aku harus mencari uang ke mana ini? Bekerja apa agar menghasilkan uang dalam jangka waktu yang singkat?" dalam benak Rania yang merasa sangat bingung.
Setelah mengidentifikasi penyakit Ayah Rania, yang bisa dibilang sangat kompleks, membuat Rania harus ekstra kuat. Dia juga terus dihantui oleh penagih hutang yang selalu menghubungi nomor telpon Rania. Seolah itu sudah jadi alarm bagi dirinya.
__ADS_1
Pekerjaan apapun Rania lakukan, mulai dari bekerja di cafe, tukang bersih-bersih, hingga mencoba untuk menjadi tukang parkir di pasar. Rania pun kadang suka menjajakan minuman di lampu merah, saat dia sedang libur di cafe, Rania berada di lampu merah. Hal itu tanpa sengaja dilihat oleh Erizal saat berada di dalam mobil. Rania mendekati sebuah mobil hitam yang hendak dia tawarkan minuman segar. Saat Rania baru menunjukkan barang dia langsung di tatap galak dan judes. "Pergi sana!" ucap perempuan dalam mobil.
Rania langsung mundur, akan tetapi saat itu lampu sudah berganti. Banyak mobil yang langsung berjalan. Membuat Rania harus berjalan mundur. Dia sudah hampir tertabrak. "Heh! Lihat-lihat dong! Buta ya?!" bentak pemilik mobil dengan ejekannya.
"Maaf, maaf!" balas Rania sambil memperlihatkan kedua tangannya. Dia membungkukkan tubuh beberapa kali, hingga mobil itu pergi. Rania kembali pada posisi awal. Dia terlihat kelelahan dan sedih.
Hingga malam pun telah tiba, Rania menghitung jumlah uang yang dia dapat. Saat Rania sedang sibuk sendiri, dari kejauhan terlihat dua orang bertubuh galak. Mereka preman yang setiap hari selalu datang apalagi malam hari begitu. "Wih... Mangsa nih!" ucap seorang lelaki yang memiliki rambut gondrong.
Benar, sikat!" jawab temannya yang memasang senyum licik.
"Syukurlah, cukup untuk hari ini! Aku akan kembali ke rumah sakit," dalam benak Rania. Gadis itu langsung merapikan barang sisa dagangannya.
Rania bangkit dengan perlahan, lalu dia hendak berjalan. Akan tetapi tiba-tiba saja Rania didatangi oleh dua pria bertubuh kekar. "Halo cantik, mau ke mana sih? Kok buru-buru sekali," ucap seorang pria dengan tatapan licik pada Rania.
Rania sangat terkejut melihat hal tersebut, dua pria yang mengerikan berada di depannya. "Siapa kalian?" tanya Rania dengan agak gugup.
Dua pria itu langsung tersenyum licik. "Kami tentu saja adalah preman pemilik kawasan di sini, kamu yang berjualan minuman di sini belum izin sebelumnya padaku, dan seharusnya kamu setor uang untuk kita!" balas pria itu dengan galak.
__ADS_1