
"Hei, tutup mulut kalian, dasar manusia kotor! Kalian itu bisa saja aku penjarakan dengan mudah, rakyat jelata tidak tahu diri!" kata Olive dengan tatapan yang tajam dan raut wajahnya seperti orang yang tidak bisa diajak kompromi lagi.
Segala kemarahan dia lontarkan kepada semua orang yang berada di dalam tempat itu, Olive merasa bahwa wanita itu memiliki banyak kekuasaan di dalam tempat tersebut karena dia adalah orang kaya raya.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Olive tentu saja hal itu membuat banyak orang yang masih tinggal di dalam cafe tersebut jadi sangat terkejut. Mereka memasang tatapan dingin dan tajam, namun juga asa sedikit rasa kekhawatiran dalam diri mereka pribadi.
"Dih?! Wanita ini kok angkuh sekali sih?!" bisik Lita dengan tidak senang. Awalnya Lita mengira bahwa Olive adalah orang yang baik tapi ternyata sebaliknya. Membuat Lita merasa sangat rugi sudah memperlakukan Olive seperti manusia pada umumnya.
Olive mendengar ternyata mengenai apa yang diucapkan oleh Lita sebelumnya, membuat wanita itu langsung menajamkan tatapan dari sepasang matanya yang begitu lekat. "Apa kamu bilang? Dasar perempuan kurang ajar!" bentak Olive yang langsung main kasar, saat itu Olive tidak segan untuk mengulurkan tangan kanannya dan mencengkram dengan erat kerah baju yang digunakan oleh Lita.
Olive menariknya dengan sangat kuat, lalu wanita itu mendekatkan wajahnya dengan muka Lita. "Bedebah!" kata Olive lagi dengan tatapan marah.
Lita tentu saja sudah panik setengah mati, dia juga sangat terkejut saat itu, membuat jantungnya berdegup cepat. Rania yang mengetahui hal tersebut dengan sigap dia pun yang saat itu sedang membawa nampan yang baru saja dia ambil dari rak di depannya. Langsung Rania pukulkan pada tangan Olive dengan sangat keras.
"Aaaaaargh! Sakit sekali, dasar pernah gila!" teriak Olive yang kesakitan. Wanita itu segera melepaskan cengkraman tangannya lalu menariknya dengan cepat. Olive melihat punggung tangannya yang berwarna merah.
__ADS_1
"Dasar perempuan gila?! Kamu berani sekali denganku?! Kamu tidak tahu ya siapa aku?!" kata Olive yang langsung tersulut emosi.
Rania hanya terdiam dengan tatapan tidak senang di hadapan Olive.
"Apa?! Kamu pikir karena mempunyai apapun aku akan merasa takut denganmu?! Kami juga memiliki harga diri, tidak bisa seenaknya saja kamu rendahkan seperti ini, kamu sudah melakukan hal tidak baik di dalam tempat ini, jika kamu ingin dihargai oleh orang lain maka berlakulah dengan baik! Apakah kamu mengerti?! Kamu kira karena kamu kaya lantas bisa melakukan apapun juga kepada kami?! Kamu salah, selama kamu masih menerapkan hal itu maka yang akan jatuh adalah harga dirimu sendiri! Kamu hanya akan menderita karena banyak orang yang sangat benci padamu, hmm! Dan yang paling penting kamu tidak ada harganya juga di mata kami! Hmm, bagaimana? Seimbang kan?" ucap Rania dengan sangat berani. Tatapan matanya sangat tegas dan tajam, gadis itu sepertinya tidak merasa ragu sedikit saja di hadapan Olive.
Hingga semua orang yang berada di dalam cafe itu pun jadi menganggukkan kepala mereka seolah setuju dengan perkataan dari Rania.
Mereka yang awalnya merasa khawatir, jadi sedikit membangun keberanian dalam diri mereka. "Benar sekali, untuk apa kita takut padanya, dia kan hanya wanita yang berani sembunyi dibalik kekayaan suaminya saja, iya! Aku sering melihat berita mengenai bagaimana sikap dan sifat dari wanita ini, nasib baik Pak Rangga tidak langsung menceraikannya begitu saja! Dia benar-benar masih sangat untung!" bisik beberapa orang lagi. Akan tetapi dengan suara yang tidak terlalu kecil, jadi pastilah banyak orang yang mendengarnya. Termasuk Olive.
Olive merasa sangat jengkel karena dia seperti sedang dihina dan direndahkan oleh banyak orang, dan merasa jadi terpojokkan. Hal itu membuat Olive yang memilikimu perangai tidak baik langsung berteriak di hadapan banyak orang masih di dalam tempat itu. "Setan kalian semua! Aku tidak akan menerima perlakuan ini, aku akan terus mengingat wajah menjijikkan kalian, dan menuntut kalian, tunggu saja sampai nanti aku memanggil kuasa hukum untuk menghakimi kalian, maka nikmati saja nanti kehidupan kalian di dalam jeruji besi yang dingin dan mengerikan!" kata Olive dengan sangat galak. Suaranya dapat di dengar oleh orang yang ada di dalam satu ruangan bersama dengan dia.
"Gawat bagaimana ini?!" bisik beberapa orang yang mulai menjadi ciut sendiri.
Teman-teman yang saat itu bersama dengan Olive langsung tersenyum demi sinis. "Baru takut kalian sekarang?" kata mereka dengan angkuh.
__ADS_1
Rania hanya terdiam dengan dingin, tapi dia tidak merasa takut saat itu. Sementara Lita jadi diam dan menyimpan perasaan marah, tidak suka kepada Olive.
"Wih, jadi apakah maksudnya saya juga akan Anda tuntut, Nona Olive?" tiba-tiba saja muncul suara seorang lelaki dengan tegas dan tajam. Seluruh ruangan dapat mendengar suara dari pria yang begitu merdu dan gentleman tersebut.
Semua orang jadi terkejut saat mendengar apa yang diucapkan oleh lelaki itu, mereka semua segera memalingkan wajah dan menatap ke arah tempat di mana arah suara itu berasal.
"Benar begitu, Nona?" tanya Erizal dengan tatapan tajam. Aura yang lelaki itu miliki begitu dingin dan kental. Sepertinya dia sudah memperlihatkan sebagian dari sikapnya yang mengerikan.
Erizal saat itu berdiri tegap di belakang pintu masuk. Lelaki itu tidak takut dengan diri Olive, dia bicara juga dengan sangat berani dihadapan Olive.
Semua orang terkejut saat mereka melihat batang hidung dari Erizal. Banyak orang yang memuji lelaki itu karena ketampanannya, iya! Dia tampan dan mapan baru berusia 25 tahun.
"Erizal?! Sial! Mengapa bisa lelaki itu berada di dalam tempat ini? Aneh sekali, apa yang ingin lelaki itu lakukan? Sungguh bodohnya aku!" dalam benak Olive yang langsung ketakutan.
"Tidak, aku tidak boleh takut mengenai apapun itu, dia kan hanya asisten Rangga, apa yang dapat dilakukan oleh dia padaku?" dalam benak Olive yang kembali berpikir lagi. Dan merasa bahwa tidak masalah untuk menangani Erizal.
__ADS_1
Akan tetapi tiba-tiba saja Olive jadi ketakutan lagi. "Erizal adalah orang kepercayaan dari Rangga, jadi apapun yang lelaki itu katakan dan inginkan pasti akan dipenuhi oleh Rangga, sementara aku? Tidak ada artinya lagi di mata Rangga!" dalam benak Olive yang langsung sadar diri.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Mengapa kamu tidak bekerja dan membantu suamiku? Dasar Asisten tidak berguna, jadi begini caramu bekerja selama ini?" kata Olive dengan tegas.