Selir Jadi Yang Pertama

Selir Jadi Yang Pertama
Hanya Tentang Rania


__ADS_3

Setelah mendapatkan pesanannya, Erizal berpamitan kepada Rania. Dia harus segera memberikan makanan yang dipesan Rangga. Saat ini Rangga sedang tidak ingin makan makanan berat, maka dari itu Erizal memesan makanan ringan di tempat Rania bekerja.


"Baiklah, aku pamit dulu. Nanti kita sambung lagi ngobrolnya," tutur Erizal.


"Oh silakan, terimakasih sudah memesan makanan di sini dan hati-hati di jalan," ucap Rania.


"Sama-sama," sahut Erizal.


"O iya Rania, kamu jangan terlalu khawatir dengan sikap Bu Olive. Mungkin beliau hanya merasa kesal jika Pak Rangga dekat dengan seseorang. Beliau tidak mau tersaingi atau tidak ingin jika Pak Rangga dekat dengan orang lain selain dirinya," jelas Erizal.


"Aku mengerti Erizal, hanya saja Bu Olive terlalu berlebihan dengan perlakuannya untuk seseorang yang belum bisa memberikan keturunan, beliau terlalu egois dan sombong. Padahal beliau memiliki kekurangan yang amat sangat menentukan kehidupannya sebagai seorang istri.


Bila seorang istri tidak dapat memberikan keturunan, dia tidak sempurna. Apalagi keluarga Pak Rangga merupakan keluarga besar yang harus memiliki ahli waris, darah dagingnya, keturunan asli dirinya, bukan anak adopsi," jelas Rania panjang lebar.


"Aku tahu akan hal itu, itulah mengapa Pak Rangga memilihmu Rania sebagai istri selirnya. Dia tidak mungkin menjadikanmu istri sah yang diperkenalkan kepada khalayak publik, karena saat ini Bu Olive lah istri sah Pak Rangga. Kamu hanya perlu bersabar saja, Rania," jelas Erizal.


"Aku pasti berusaha untuk lebih bersabar dan tahu diri." Rania tersenyum.


"Baiklah, aku pergi sekarang," pamit Erizal.


"Iya," sahut Rania.


Erizal pergi meninggalkan cafe tempat Rania bekerja menuju perusahaan Rangga dengan mengemudikan mobil perusahaan. Sementara itu Rania kembali bekerja memberikan pesanan para pelanggan setia cafe tersebut.


Sepanjang perjalanan, Erizal terus menerus memikirkan Rania. Dia merasa kasian pada Rania. Di dalam pikiran Erizal, Rania merupakan korban dari ketidakadilan kehidupan ini.


Rania seharusnya bisa bahagia dengan seseorang tanpa harus mengalami konflik serumit ini. Jalan hidupnya sungguh ditakdirkan seperti ini, andai saja dia bertemu Rania lebih cepat dari Pak Rangga dan memiliki keberanian seperti yang dilakukan Pak Rangga, namun semua itu hanya angan-angannya saja.

__ADS_1


Setibanya di perusahaan Rangga, Erizal memarkirkan mobil di tempat parkir seperti biasa. Dia menyapa Pak Satpam, kemudian menuju kantor di mana Rangga berada.


Di perjalanan menuju kantor, Erizal bertemu dengan sekretaris yang memakai rok sangat minim. Entah apa maksudnya memakai pakaian seminim itu, yang pasti itu bukan tuntutan perusahaan. Mungkin dia berusaha memikat Pak Rangga dan berharap Pak Rangga bisa terpikat olehnya seperti di kebanyakan film.


Erizal menanyakan keberadaan Pak Rangga pada sang sekretaris meski dia tahu Pak Rangga pasti sedang berada di kantornya.


"Pak Rangga di kantornya?" tanya Erizal.


"Iya, beliau belum keluar ruangan dari tadi. Sepertinya nunggu kamu kelamaan. Aku nggak lihat beliau makan siang tadi di kantin perusahaan. Tidak seperti biasanya," jawab sang sekretaris. "Oh iya aku baru ingat, hari ini ada meeting perusahaan, mungkin beliau sedang sibuk menyiapkan segalanya untuk meeting siang nanti."


"Oh baiklah, terimakasih. Aku pergi ke ruangannya sekarang. Mungkin Pak Rangga sudah kelaparan, menunggu lama pesanannya," tutur Erizal.


"Sama-sama," jawab sang sekretaris.


"Ini pesanannya Pak," Erizal menyodorkan makanan ringan yang tadi dipesan, "Ini yang buat kebetulan Rania, dia jago masak lho, Pak."


"Pantas saja cafe di sana ramai pembeli, Rania memang tidak diragukan lagi jika dia ahli dalam membuat masakan." Celoteh Erizal.


"Tapi menurut aku, ini biasa saja. Sama saja seperti makanan pada umumnya. Sama seperti makanan di kantin atau makanan yang dibuat bibi di rumah." Lagi-lagi Rangga mengeluarkan kata-kata yang sedikit tidak peduli.


"Maaf Pak Rangga, saya memiliki pendapat yang berbeda. Menurut saya, masakan Rania benar-benar enak. Buktinya Pak Rangga dari tadi tidak berhenti memakannya." Erizal mengutarakan pendapatnya sambil tersenyum.


"Aku hanya menghargai makanan, sayang sekali jika tidak dimakan. Semuanya sudah dibeli, jadi jangan disia-siakan." Lagi-lagi Rangga tidak mau mengakui.


"Tapi jujur makanan ini enak," tambahnya.


Erizal tersenyum melihat apa yang dilakukan Rangga. Dia tidak mau mengakui kehebatan Rania dalam membuat makanan tapi makanannya habis dilahap olehnya.

__ADS_1


"Oh iya Pak, kebetulan tadi aku melihat Bu Olive di cafe tempat Rania bekerja. Dia marah-marah pada Rania. Rania hanya bisa diam saja, tertunduk tidak bisa berbuat apa pun," tutur Erizal.


"Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Apa yang terjadi pada Rania? Dia baik-baik saja?" tanya Rangga yang penuh penasaran.


"Untungnya Rania sabar menghadapi Bu Olive. Tidak ada percekcokan maupun perselisihan di antara keduanya, hanya saja Bu Olive kelihatan kesal pada Rania," jelas Erizal.


"Apa Olive tahu jika Rania merupakan istri selirku?" tanya Rangga.


"Sepertinya belum Pak," jawab Erizal.


"Hmmm, saat ini Olive semakin berani. Dia bahkan berani melabrak Rania. Rania harus lebih bersabar lagi menghadapi Olive, semakin lama semakin keterlaluan sikap Olive pada Rania. Apalagi jika Olive tahu kalau sebenarnya aku sudah menikah siri dengan Rania." Erizal menjelaskan panjang lebar.


"Benar Pak, saya kasian pada Rania. Dia terus menerus akan mendapatkan teror dan perlakuan yang tidak nyaman dari Bu Olive. Sungguh tidak adil baginya, mendapatkan perlakuan seperti itu. Dia berhak bahagia juga," tutur Erizal.


"Aku tahu aku yang salah, memperlihatkan kedekatanku dengan Rania. Seharusnya aku tidak terlalu memperlihatkan sehingga membuat Olive cemburu. Dia semakin mudah emosi karena sudah lama menantikan buah hati yang tak kunjung muncul," jelas Rangga.


"Tidak juga, Pak, Pak Rangga tidak salah. Sudah menjadi hak Pak Rangga memiliki selir, karena Pak Rangga harus memiliki keturunan untuk menerus silsilah keluarga dan perusahaan ini." Erizal mencoba meyakinkan.


"Benar juga, tapi jika terus menerus Olive berlaku seperti itu, kasian Rania. Tidak bisa dibayangkan jika Olive mengetahui kalau aku dan Rania sudah melakukan nikah siri." Rangga khawatir.


"Jangan khawatir Pak, seiringnya waktu mungkin Bu Olive akan mengerti ... suatu hari nanti. Beliau akan menyadari kelemahannya dan berterimakasih pada Rania jika akhirnya Rania bisa memberikan keturunan di keluarga ini." Lagi-lagi Erizal meyakinkan Rangga.


"Baiklah, mungkin suatu hari aku harus memberitahukan pernikahanku dengan Rania padanya. Aku harus mencari waktu yang tepat. Terimakasih Erizal atas pendapatmu, nanti kita bahas kembali permasalahan ini," tutur Rangga "Aku ada meeting hari ini, sampai bertemu lagi."


"Baik Pak Rangga," sahut Erizal.


Erizal pergi meninggalkan kantor Rangga dan Rangga bersiap untuk mengadakan meeting perusahaan yang rutin dia lakukan untuk bahan evaluasi perusahaan tiap minggunya.

__ADS_1


__ADS_2