
Rania sebenarnya mendengar segala ucapan yang di gumamkan oleh mereka. Rania malah merasa senang senang saat itu, karena mereka berpikir gak yang sama dengan dirinya setidaknya itu cukup bagus. Dibandingkan dia malah dikira sebagai selingkuhan dari Rangga.
Harga dirinya yang jatuh itu tidak penting lagi. Dia tidak peduli dengan reputasi, Rania tatap tajam semua orang yang berada di dalam tempat itu, mereka juga memandang wajah Rania dengan dingin dan tajam. Rania seolah tidak ingin tahu lagi seberapa banyak hinaan yang akan mereka lontarkan.
Hingga lelaki yang sebelumnya telah menghina dirinya jadi merasa dibantu dengan kehadiran dari banyak orang yang seperti berada di belakang tubuhnya.
"Kan benar, gadis ini hanya seseorang yang malang, eh! Maksudku begitu licik saat dia memainkan peranannya sebagai wanita penggoda, paling-paling mendekati Pak Rangga juga karena ingin mengambil keuntungan saja, pasti dia sudah melakukan trik licik dan hina sehingga Pak Rangga mengasihi wanita hina ini, cih! Aku sungguh tidak menyangka ternyata Pak Rangga juga bisa untuk ceroboh, sekarang aku akan membuat dia sadar dan merasa terbantu oleh diriku," dalam benak pria itu yang sedang berpikir hal buruk mengenai Rania. Dia juga menatap diri Rania dari ujung kaki hingga kepala.
Pakaian yang memang terlihat mewah, dia langsung menebak lagi itu siasat yang Rania kerjakan untuk memanipulasi Rangga. "Kamu adalah seorang gadis yang licik, beraninya kamu di sini dan ingin mempermainkan Pak Rangga! Aku akan memberikan penegasan ujian dirimu, bahwa tidak boleh seorangpun melakukan hal buruk kepada CEO besar yang sudah menikah! Jangan harap kamu bisa melakukan cara untuk menggoda Pak Rangga! Sebaiknya kamu pergi dan menjauh sana dari tempat ini, keluar!" ucap lelaki itu dengan begitu sombong dan galak. Nada bicara yang dia lontarkan juga sangat berisik karena terlalu keras.
Akan tetapi sepertinya Rania tidak peduli akan hal itu. Dia malah balik bertanya kepada lelaki itu dengan tegas. "Mengapa kamu malah sepertinya ingin menjatuhkan diriku? Sebelumnya aku hanya bertanya padamu apakah benar kamu mengambil gambarku, apa sulitnya menunjukkan sebuah bukti secara langsung agar semua orang dapat melihatnya sendiri, apakah aku ini hanya pembual atau kamu yang seorang pencuri, semua orang memiliki privasi mereka masing-masing, lho! Tanpa terkecuali, apakah kamu pikir kamu adalah orang kaya dan terpandang lalu bisa melakukan apapun padaku dan orang yang kamu anggap sama seperti aku? Kamu sungguh menjijikkan! Lebih hina dari BINATANG!" sambut Rania dengan sangat galak, dia mengeluarkan kemampuan dalam bicaranya, karena bukan berarti dia harus tetap diam saat harga dirinya diinjak oleh seseorang. Meskipun dia memang bukan orang kaya tapi dia tidak seperti apa yang lelaki itu katakan.
Hal ini adalah sebagai bentuk pertahanan yang dia miliki dan sedang lakukan. Rania terlihat sangat kuat saat itu, dari kejauhan Rangga hanya diam sambil terus mendengarkan gadis itu berceloteh di hadapan banyak orang.
__ADS_1
Mendengar apa yang diucapkan oleh Rania tentu saja membuat lelaki itu bertambah kesal, dia sungguh tidak menyangka jika Rania mampu berbicara dengan seberani itu kepada dirinya. "Wah! Gila ini perempuan, mengapa dia tidak takut padaku? Aku ini anak dari seorang direktur utama, tuan muda yang begitu disegani banyak orang, dia malah berani menantang aku dengan suaranya yang tegas itu, sungguh gadis sialan! Dia memang seharusnya aku hajar agar mengerti apa itu kekuatan yang aku miliki!" dalam benak lelaki itu yang terlihat sangat tidak senang. Lelaki itu merasa bahwa dia lebih baik dibandingkan dengan Rania.
"Sungguh kurang ajar, aku sebenarnya tidak suka bermain kekerasan, tapi sepertinya kamu menginginkan aku untuk melakukannya sekarang kan?" ucap lelaki itu dengan nada bicara yang keras dan kasar. Sepasang mata yang beretina merah tersebut menyala seperti sedang berkobar, lelaki itu seakan tidak takut kepada siapapun di sana.
Rania yang melihat pria itu seperti akan menyakiti dirinya, tentu saja dia tidak boleh berdiam diri. "Dia ingin menamparku? Aku akan melindungi diriku sendiri!" dalam batin Rania berusaha untuk tetap kuat dan yakin akan kemampuannya sendiri.
Pria itu pun segera mengayunkan salah satu tangannya ke arah Rania, pria itu langsung menghempaskan telapak tangannya di hadapan Rania. Rania terkejut saat itu, dan dia berusaha untuk dapat menghalau tangan dari pria tersebut. Akan tetapi saat Rania hendak melindungi diri. Tiba-tiba saja dia merasa terkejut dan aneh, karena dia tidak mendapatkan apapun di sana.
"Tuan Rangga!?" kata pria itu dengan perasaan canggung.
Semua orang yang berada di dalam restoran jadi kaku dan terkejut, saat mereka melihat dengan jelas bagaimana Rangga melindungi Rania pada saat itu.
"Apa yang dilakukan oleh Pak Rangga? Mengapa dia malah membela gadis itu? Apakah dia bukan gadis sembarangan?" bisik beberapa orang lagi dengan perasaan yang penuh kebingungan.
__ADS_1
Rania juga ikut terkejut dengan hal itu, dia pun segera memalingkan wajahnya dan menatap ke arah Rangga yang sudah berdiri tegap di samping kanan dari tubuhnya agak ke belakang. Rania sangat tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Rangga saat itu kepada dirinya.
Pria itu menggenggam erat pergelangan tangan dari orang asing yang Rania temui. Akan tetapi dia hanya diam tidak berlaku apapun kepada Rangga.
Rangga terdiam cukup lama menatap dengan tajam wajah dari pria tersebut. "Bukankah Anda adalah seorang Tuan Muda yang mengakunya sangat terhormat, lantas mengapa sekarang ini Anda malah bersikap hina keong seorang wanita? Apa salahnya menerima tanpa harus banyak berdebat dengan perempuan? Apakah harga dirimu serendah itu? Pakai rok saja jika kamu tidak dapat membedakannya dengan jelas!" ucap Rangga dengan tegas. "Begini ya kelakuan seorang anak dari direktur utama itu? Wah wah! Sungguh mencengangkan!" tambah Rangga dengan tegas.
Lelaki itu terlihat sangat berani untuk bicara dihadapan banyak orang, tatapan matanya juga begitu tegas memandang pria di hadapannya itu.
Mendengar hal itu tentu saja membuat dia menjadi kebingungan sendiri, karena sangat jelas Rangga sedang menghina dirinya dengan ucapan yang menyakitkan dan merendahkan seseorang.
"Cih! Mulutnya memang penuh dengan pedang, aku sungguh benci kepadanya sejak dulu, dasar pria angkuh!" dalam benak lelaki itu yang merasa tidak senang kepada Rangga.
"Ya ampun, Pak Rangga! Seharusnya Anda merasa senang karena saya telah menyelamatkan Anda, dan membuka mata Anda dari seorang gadis ular yang hendak memanjat diri agar mendapatkan posisi yang lebih baik, saya melakukan ini karena saya peduli kepada Anda, tidak bisakah Anda melihat ketulusan saya ini?" balas pria itu dengan tatapan tegas dan tersenyum begitu lembut kepada Rangga.
__ADS_1