Selir Jadi Yang Pertama

Selir Jadi Yang Pertama
Pertemuan


__ADS_3

Mendengar apa yang diucapkan oleh supir Mamah Rangga, wanita itu jadi terkejut. Dia lun langsung mengeluarkan kata-kata. "Apa? Ada seorang anak?! Bagaimana keadaan dari anak itu sekarang?" tanya Mamah Rangga dengan khawatir. "Apakah kita baru saja menabrak seseorang?" tanya kembali Mamah Rangga.


"Sepertinya tidak, karena saya melihat ada seorang gadis yang menolongnya," balas supir Mamah Rangga dengan tegas.


"Kita harus melihatnya!" tambah Mamah Rangga. Wanita itu pun segera melepaskan sabuk pengaman yang dia gunakan, wanita itu pun mengulurkan tangan kanannya untuk bisa membuka pintu.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Mamah Rangga, tentu saja mengejutkan supir tersebut. "Tapi Nyonya?" kata supir itu khawatir.


Segera Mamah Rangga pun keluar dari dalam mobil, wanita itu melihat diri Rania yang sedang memeluk erat tubuh anak kecil itu. Dia memang terjatuh dengan posisi meringkuk. Rania segera bangkit dan menatap wajah sang anak tersebut. "Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Rania dengan cemas kepada anak lelaki itu.


Anak kecil itu terlihat cukup ketakutan, dan kaget sekali, hingga Rania pun didatangi oleh banyak orang, termasuk supir truk, supir mobil dan Mamah Rangga.


"Apakah kamu baik-baik saja? Apakah ada yang terluka?" tanya beberapa orang kepada Rania.


Mereka semua menatap wajah Rania dengan kepedulian. Rania yang mendengar suara dan melihat hal tersebut dia tentu saja merasa cukup tenang. Namun dia agak kasihan kepada anak lelaki yang ada dalam rangkulan tubuhnya itu.


"Aku tidak apa, hanya saja anak kecil ini sepertinya sedikit cemas, aku jadi khawatir, dapatkah kalian memeriksanya? Aku takut dia terluka," balas Rania dengan sangat peduli.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Rania langsung tatapan mereka semua tertuju kepada anak lelaki itu. "Apakah kamu baik-baik saja, Nak?" tanya mereka dengan serentak.


Anak lelaki itu hanya diam lalu menganggukkan kepalanya. Dia memang tidak terluka sama sekali. Berbanding terbalik dengan Rania, gadis itu merasakan sakit di punggung, lengan dan bahunya. Ada goresan yang tinggal pada lengan Rania. Memang mengeluarkan darah.


Anak lelaki itu segera menatap wajah Rania, terlihat Rania yang hanya diam lalu tersenyum tulus. "Kenapa, Nak?" tanya Rania penasaran. Dia langsung mengusap rambut kepala anak itu.

__ADS_1


"Terima kasih karena sudah mau menolongku, Kak! Aku minta maaf karena begitu teledor, sekarang aku akan membawa Kakak ke rumah sakit," tambah lelaki itu dengan tegas dan sangat gentleman.


Mendengar hal tersebut, Rania hanya tersenyum dan mengusap pelan wajah anak lelaki itu. "Sama-sama, dan terima kasih juga tawarannya. Kamu tidak perlu melakukannya, Nak. Kakak tidak apa-apa, kok," jawab Rania dengan tenang dia tersenyum begitu manis kepada anak itu.


"Tapi Kak? Aku lah yang membuat kamu jadi seperti ini, aku mohon jangan menolakku," sambut anak pria itu.


Tidak lama kemudian muncul Dua orang, satu pria dewasa dan anak gadis kecil yang manis. "Jojo, apakah kamu terluka?" tanya seorang pria dengan perasaan khawatir, dia mendekati anak kecil itu dan segera mengambilnya dari Rania.


"Aku baik-baik saja kok, Kak. Tapi kakak ini dia terluka parah," kata Joko khawatir.


"Ahahah, aku tidak apa-apa kok, aku benar-benar baik. Aku harus pergi ke tempat bekerja hari ini," elak Rania yang terlihat gugup.


Mamah Rangga segera melihat kondisi dari Rania, dia memang tidak kenal dengan Rania. Dia memang hanya diam dan terus memperhatikan kondisi di dalam tempat itu.


'Jika aku perhatikan sepertinya anak ini baru berusia 18 tahunan, dia pasti belum bekerja mungkin masih kuliah atau menunggu panggilan kerja. Tidak etis jika aku meminta biaya ganti rugi, dan lagi aku mendengar dia akan mengantarkan aku dengan motor, hais! Aku akan jadi sangat kejam jika menuntut lelaki ini,' dalam benak Rania yang terlihat iba.


"Hahaha ... benar-benar tidak perlu. Aku baik-baik saja, Anda sebaiknya menjaga dua bocah ini dengan lebih ketat lagi. Mereka terlihat aktif sungguh menggemaskan," sahut Rania. Dia tatap dengan tegas wajah dua anak kecil itu yang mendadak jadi diam dan merasa bersalah.


"Tapi Kakak terluka, lho!" kata gadis kecil itu datang.


Mendengar semua hal yang sedang diperdebatkan di dalam tempat tersebut, Mamah Rangga jadi ingin membantu Rania.


"Ini hanya luka kecil saja," balas Rania dengan tenang.

__ADS_1


"Jangan terlalu keras dengan diri sendiri, Nak!" beberapa orang datang untuk menegur Rania, dan menasehati Rania. Apalagi mereka juga melihat bagaimana saat ini kondisi yang sedang dialami oleh Rania.


Mamah Rangga mencoba untuk memperhatikan sekitar, kemudian dia segera membuka mulut untuk bicara, "Bagaimana kalau kamu ikut saja dengan kami? Kebetulan saya senggang dan juga membawa mobil," kata Mamah Rangga yang menawarkan bantuan.


Semua orang segera memalingkan wajahnya mereka dan melihat diri Mamah Rangga. "Nah, kamu ikut saja dengan wanita itu, Nak! Jangan ditolak lagi, aku merasa kasihan dengan lukamu, harus segera ditangani, lho!" balas beberapa orang yang begitu perhatian.


Rania menatap tegas Mamah Rangga. "Eh! Tidak perlu, Buk! Saya pergi sendiri saja," balas Rania yang terlihat sungkan.


Akan tetapi seorang anak lelaki itu mendatangi Rania dan langsung menggenggam tangan Rania. "Kak, kalau tidak ingin ikut dengan Kak Yuda kami, tolong Kakak pergi saja dengan Nenek baik itu, aku minta tolong, maafkan aku, Kak!" Anak lelaki itu langsung menangis dihadapan Rania karena sangat menyesal.


Rania terkejut saat melihat tangisan itu, Rania merasa jadi merasa bersalah. "Hei, jangan menangis, Kakak akan pergi dengan Nenek, tapi kamu harus tersenyum ya! Semua akan baik-baik saja, Nak!" jawab Rania dengan suara yang lembut.


Semua orang langsung tersenyum mendengar apa yang diucapkan oleh Rania. Mereka cukup bersyukur karena Rania tidak menolaknya lagi, begitu juga dengan anak lelaki itu.


"Baiklah, gadis muda! Mari ikuti aku," ucap Mamah Rangga. Wanita itu segera mendekati tubuh Rania dan mencoba untuk menyentuhnya dengan lembut dan hangat, penuh perhatian dan ketenangan dari seorang ibu.


"Maaf merepotkan Anda, Nyonya," kata Rania dengan sungkan.


"Tidak ada yang direpotkan," balas Mamah Rangga dengan tegas.


Mereka segera meninggalkan tempat itu, akan tetapi anak lelaki itu terlihat kembali sedih. Rania langsung digenggam tangannya saat hendak pergi.


"Kakak sayang sama kamu, lho! Jangan khawatir Kakak akan menyalahkan kamu mengenai masalah ini, syukur kamu baik-baik saja, Kakak menolak untuk ikut dengan Kakak lelakimu, karena kakak khawatir malah akan membuat kalian jadi semakin kesulitan. Semoga kamu mengerti ya," ucap Rania dengan tegas dan lembut.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2