
Erizal sangat tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Rania, penolakan mutlak yang begitu jelas. Mungkin sekarang ini Erizal sudah melakukan kesalahan pada, diri Rania.
"Jika Anda tidak ada kepentingan lagi, maka saya harus pergi, tolong dihabiskan dan dibayar pesanan Anda, setelah itu barulah pergi dari sini!" kata Rania dengan sangat galak. Gadis itu sangat tidak senang terhadap Erizal.
Karena dia bukan perempuan gampangan seperti itu. Akan tetapi saat itu Erizal terlihat santai dan masih tenang seperti biasanya. Seolah dia tidak melakukan kesalahan apapun pada diri Rania. Erizal tersenyum dengan tenang. "Saya minta maaf, tapi saya akan memberikan sesuatu untuk Anda, jika Anda berubah pikiran, di dalam kartu nama itu terdapat nama dan nomor telepon saya," balas Erizal sambil memasukkan tangannya ke dalam saku baju yang berada di sisi kanan.
Erizal menyodorkan kartu tersebut kepada Rania. Akan tetapi reaksi Rania semakin dingin saja, gadis berusia 22 tahun tersebut memiliki emosi yang sudah memuncak namun dia pendam. Tatapan yang dingin dan tajam miliknya pas membidik diri Erizal.
"Maaf saya tidak butuh!" kata Rania dengan perasaan jengkel.
Rania langsung memalingkan tubuh dan berjalan untuk bisa meninggalkan meja Erizal. Dia kembali ke tempat kerjanya sangat berusaha untuk fokus meskipun perasaannya benar-benar kacau dan buyar. Rania tidak ingin melihat Erizal sama sekali. Sementara itu Erizal hanya diam sambil menatap tegas diri Rania. Lelaki itu menganggukkan kepalanya seolah mengerti sesuatu. Kemudian dia pun melangkahkan kaki jenjangnya dan berjalan untuk bisa mendekati Rania.
Lelaki itu langsung meletakkan sejumlah uang kertas di atas meja. Rania yang sibuk merapikan tempatnya dia sedikit melirik ke arah Erizal. Gadis itu terlihat tidak peduli sebenarnya dengan lelaki itu. Namun dia tahu bahwa Erizal sedang melakukan pembayaran.
"Semuanya 120 ribu," kata Rania tegas.
Akan tetapi di sana Erizal malah memberikan jumlah yang lebih banyak dari apa yang diucapkan oleh Rania. "120 ribu, Tuan!" tambah Rania dengan suara yang cukup tinggi.
Rania kembali jengkel dengan Erizal yang tidak menggubris dirinya. "Tuli kah?" dalam benak Rania tidak senang.
__ADS_1
"Kembaliannya ambil saja," sambut Erizal dengan ramah.
"Tidak terima kasih, mohon bawa kembali uang Anda, saya tidak akan menerimanya!" tambah Rania dengan galak. "Mohon Anda mematuhi aturannya, saya tidak butuh, dan saya tidak sedang mengemis!" lanjut Rania yang tidak bisa berdamai.
"Baiklah, kalau begitu saya akan mengambilnya lagi." Erizal memasukkan uang itu ke dalam saku bajunya.
Lalu dia pergi begitu saja meninggalkan Rania. Rania masih kesal, dia pun menatap tegas meja yang sebelumnya digunakan oleh Erizal. "Tidak disentuh olehnya, sangat membuang energi!" dalam benak Rania. Dia segera berjalan dan mengambil piring dan gelas itu. Rania terkejut saat dia melihat kartu nama yang berada di sana. Rania mengambilnya dan langsung meremas kertas tersebut, dia berjalan ke arah tempat sampah dan membuangnya ke sana.
Rania uring-uringan sendiri. Dia merasa sudah dilecehkan oleh Erizal atas apa yang dilakukan oleh lelaki itu padanya.
**
Hingga malam harinya tepat pukul 10. Rania harus menutup toko. Suasana di tempat itu sangat sepi dan sunyi saat ini. Rania berjalan sambil memasukkan kunci ke dalam tas. Saat diperjalanan Rania dikejutkan dengan mendengar suara dering ponsel genggam miliknya sendiri.
Rania langsung menghentikan jalan, dan mengambil benda pipih hitam tersebut. "Hm... Siapa ya?" dalam benak Rania yang penasaran.
Hingga kini Rania melihat dengan jelas nama kontak seseorang dari layar ponselnya yang menyala. "Ayah...!" dalam benak Rania langsung tidak tenang.
"Ada masalah apalagi? Mengapa Ayah menelponku?" kata Rania yang bermonolog.
__ADS_1
Gadis itu sebenarnya tidak ingin mengangkat panggilan tersebut, namun Ayahnya selalu menghubungi dia hingga beberapa kali. Sungguh tidak sampai hati Rania membuat Ayahnya kesusahan sendiri. Rania menghela napasnya cukup dalam, lalu gadis itu pun mulai mengangkat panggilan telepon dari Ayahnya. "Halo, Ayah," kata Rania. Gadis itu cukup gugup dan khawatir. Sepasang bola matanya langsung bergerak ke kanan dan kiri, karena dia sudah ketakutan.
"Rania, di mana kamu? Mengapa lama sekali mengangkat telepon dariku?!" bentak Ayah Rania. Lelaki itu sepertinya sangat marah dan kesal terhadap diri Rania.
"Ma-maaf, Yah! Aku baru saja menutup cafe, ini aku sedang berada di perjalanan jadi tadi tidak dengar Ayah menelpon, karena ponselnya aku masukan ke dalam tas." Rania terpaksa untuk berbohong kepada Ayahnya. Karena dia khawatir lelaki itu akan kembali marah lagi padanya.
"Halah! Alasan saja! Tadi pagi bukankah rentenir itu menemui kamu? Apakah kamu tidak ada memberikan uang kepada mereka?" tanya Ayah Rania penasaran.
Rania terkejut mendengar hal tersebut. "Hah? Jadi Ayah yang sudah mengatakan kepada mereka untuk datang ke tempat kerjaku? Ayah, tolong jangan mempersulitku, jangan melibatkan tempat kerja dengan hal seperti itu, bagaimana jika mengganggu kenyamanan bagi pengunjung yang datang," sambut Rania yang merasa cukup terbebani.
"Oh, jadi seperti itu sikapmu padaku? Aku lho yang sudah membesarkan kamu, aku juga lho yang sudah banyak berjasa untuk hidupmu, dan ini balasannya? Kamu malah berani beradu lisan dengan diriku, sungguh anak tidak tahu diuntung!" bentak Ayah Rania dengan amarah yang membara. "Heh, bocah tengik! Karena ulahmu itu, Aku jadi dihajar oleh dua rentenir itu! Kamu anak pembawa sial! Aku sudah seperti ini karena dirimu yang sangat pelit padaku! Seharusnya dahulu aku membuangmu saja, aku tidak mau tahu pokoknya kamu harus membayar tagihan itu secepat mungkin!" lanjut Ayah Rania dengan kasar.
Jujur saja Rania cukup bingung pada saat itu dengan diri Ayahnya sendiri. "Akan tetapi dua rentenir itu mau menunggu 7 hari lagi, mereka sendiri yang memberikan kerenggangan waktu untukku, tapi mengapa aku mendengar cerita Ayah yang sudah sampai seperti ini? Bagaimana ini? Aku harus pulang dan melihat kondisi dari Ayah!" dalam benak Rania yang sudah bertekad.
"Hei! Apakah kamu sudah tidak bisa mendengar lagi? Aku sejak tadi sedang bicara denganmu!" lagi-lagi Ayah Rania memberikan sentakan yang penuh emosi.
Rania yang sebelumnya sedang terlamun segera memalingkan tersadar dan terkejut. "Ada apa lagi Ayah? Apakah kamu belum cukup marah-marahnya? Bagaimana mungkin bisa aku membayar hutang, Aku saja tidak memilih uang sepeserpun, Aku pulang ke rumah saja dengan jalan kaki, semua uang yang Aku miliki kan telah Ayah ambil tadi pagi," lanjut Rania yang berkata jujur.
BERSAMBUNG....
__ADS_1