
Erizal langsung mempersilakan Rania untuk keluar terlebih dahulu, Rania mengembalikan map itu kepada Erizal, dan lelaki itu menerimanya.
Rania melangkahkan kaki jenjangnya untuk dapat meninggalkan ruangan kamar tersebut, dia membawa amplop berupa uang yang tidak tahu berapa jumlahnya. Rania sudah tidak tahu harus berpikir apalagi, dia cukup senang karena menerima uang dari Rangga.
"Akhirnya aku mendapatkan uang juga, semoga cukup untuk biaya pengobatan Ayah dan hutang di bank," dalam benak Rania. Yang menggenggam dengan sangat erat bungkusan coklat tersebut.
Sementara itu di kejauhan terlihat Rangga yang berdiri tegap di sebuah ruangan, kaca besar itu membuat dia bisa menyaksikan Rania yang meninggalkan rumahnya yang besar.
"Kedua gadis itu terlihat sangat polos, apalagi mereka sama-sama masih virgin, mungkin mereka begitu terpaksa melakukan semua ini, yah... Anggap saja aku sedang menghidupi mereka di dalam dunia yang kejam ini, aku memilih Rania dan Jasmine, karena keduanya yang masih suci, dan terlihat seperti tidak neko-neko," dalam benak Rangga. Yang cukup percaya diri.
"Aku harap dengan adanya mereka, mampu membuat Mamah merasa tenang." Kembali benak Rangga bicara dengan tegas.
**
Sementara itu di tempat lain, sebuah club malam yang sangat ramai dan berisik. Terlihat beberapa wanita sedang asik berjoget ria. Menghabiskan malam dengan bersenang-senang.
"Olive, apakah suami kayamu itu tidak akan marah jika tahu kamu masih berada tidak pulang ke rumah? Apalagi jika nanti dia sampai tahu kamu ada di sini, mengapa kamu tidak cemas sedikitpun?" tanya seorang wanita dengan menggunakan gaun hijau yang begitu ketat dan seksi. Rambut keriting bergelombang berwarna merah. Sedang berada di samping kanan dari tubuh Olive.
Olive yang mendengar hal itu, langsung memberikan sebuah balasan. "Hah? Memarahiku? Tidak mungkin! Dia sekarang pasti sedang sibuk dengan urusannya sendiri, dia pasti akan pulang terlambat," balas Olive begitu percaya diri.
__ADS_1
"Wah! Sepertinya kamu sangat tahu dengan betul segala kesibukan dari suami kayamu itu, keren! Apalagi hubungan kalian sangat harmonis?" tanya wanita yang lainnya berada di hadapan Olive. Menggunakan gaun merah, dengan rambut pendek sebahu. Menatap tajam wajah Olive.
"Hmm, sudah seharusnya kan? Kenapa, kalian iri ya? Sudahlah kita sebaiknya menikmati malam ini dengan sukacita," tambah Olive yang sepertinya tidak ingin terus membahas persoalan itu.
"Hahaha, okay! Semua terserah padamu saja!" sambut mereka dengan serentak.
Olive kembali bersenang-senang, namun tiba-tiba raut wajah wanita itu begitu dingin. "Heh, bagaimana mungkin dia memikirkan aku sepertinya tidak pernah dia mencariku, apalagi sekarang dia ingin mendapatkan seorang anak dari wanita lain, dia pasti sangat sibuk menjajali tubuh wanita murahan itu dengan tampang bodohnya!" dalam benak Olive yang terlihat kesal dan tidak senang.
Beberapa saat kemudian, akhirnya Olive pun langsung meninggalkan tempat berjoget mereka. Wanita itu segera duduk dengan tenang di depan kursi minuman. "Birnya satu," ucap Olive dengan tegas kepada seorang pria yang sedang bekerja.
Mendengar hal tersebut, lelaki itu langsung menganggukkan kepalanya. "Heh! Aku tidak boleh kehilangan Rangga dalam hidupku, aku masih sangat membutuhkan lelaki itu untuk memfilter gaya hidupku, takkan aku biarkan wanita murahan itu mengambil posisiku, memangnya dia bisa? Aku lah yang lebih berkuasa!" dalam benak Olive. Dia sebenarnya merasakan kekhawatiran jika suatu saat nanti posisinya akan direnggut oleh wanita yang dipilih oleh Rangga untuk menjadi mesin anaknya.
**
Kembali pada diri Rania, terlihat gadis itu yang sedang duduk di dalam mobilnya Erizal, mereka hendak pergi meninggalkan tempat itu. Selama di perjalanan Rania terlihat sangat diam. Dia sepertinya memiliki banyak pikiran sendiri. Rania menatap uang dalam amplop coklat beberapa kali dia menekannya dengan cukup kuat. Rania sudah kehilangan akal sehatnya sendiri dengan menjual harga dirinya kepada seorang pria yang sama sekali tidak dia kenali sebelumnya. "Haaah... Syukurnya aku bisa membayar hutang Ayah, tidak perlu berpikir apapun, tidak perlu takut, tidak perlu khawatir, semua akan diselesaikan, Rania kamu bisa kok!" dalam benak Rania yang berusaha untuk menyemangati dirinya sendiri.
Erizal melihat wajah Rania dari kaca mobil dalam, dia tatap Rania dengan pandangan yang tajam. Erizal memang tidak mengatakan apapun kepada Rania. Hingga beberapa saat kemudian akhirnya mereka tiba di depan pintu rumah sakit yang cukup besar.
"Di sini kan?" tanya Erizal memastikan.
__ADS_1
Rania langsung menganggukkan kepalanya. "Benar," jawab Rania dengan tegas.
Erizal yang merasakan aura dingin dari diri Rania, hanya memilih untuk diam, dia pun menganggukkan kepalanya dan segera mendekati gerbang utama rumah sakit. Saat itu kondisinya memang sudah sangat sepi, karena jarum jam menunjukkan pukul 11 malam lebih 13 menit. Erizal menurunkan Rania di halaman rumah sakit.
Rania segera membuka pintu mobil, tapi dia juga tidak lupa mengucapkan kata terima kasih kepada Erizal. "Saya pamit dulu, selamat malam," kata Rania dengan tegas. Rania berjalan meninggalkan Erizal seorang diri.
Sementara itu Erizal hanya diam sambil terus memperhatikan Rania dari kejauhan. Lelaki itu tidak ingin banyak berpikir sebenarnya mengenai Rania. Dia meninggalkan rumah sakit dengan mengendarai mobilnya lagi menggunakan kecepatan yang standar.
Setibanya di dalam ruangan rumah sakit, Rania mendatangi kembali kamar Ayahnya. Gadis itu menatap dengan jelas diri Ayahnya yang terbaring tidak berdaya di satu ruangan yang benar-benar sepi dan pasti dingin. "Haaaah... Ayah, bangunlah, kamu harus sehat dan sadar, kamu harus pulih seperti biasanya," kata Rania yang sedang bermonolog.
Sampai pada akhirnya, Rania pun memberanikan diri untuk memasuki kamar Ayahnya. Dia membuka pintu dengan perlahan, dan mulai mendekati Ayahnya yang terbaring lemah tidak berdaya di atas kasur.
"Ayah, bangunlah, aku sangat senang di saat kamu bicara padaku, memarahiku, daripada aku harus melihat kamu yang kaku seperti ini, aku sungguh merasa sedih, Yah! Tolong bangun ya," ucap Rania. Dia agak takut sebenarnya untuk menyentuh tubuh Ayahnya sendiri. Ada perasaan yang begitu khawatir dan ketertekan yang dia alami. Namun dia mencoba untuk tidak memperlihatkannya dengan sangat jelas.
"Ayah ..." Rania bicara dengan sangat pelan, dan berusaha untuk menyentuh wajah Ayahnya sendiri.
Akan tetapi dengan tiba-tiba saja, Rania dikejutkan dengan diri Ayahnya yang mendadak kesulitan bernapas. "Ayah?!" kata Rani yang khawatir.
"Dokter! Suster!" Rania berteriak dengan suara yang lantang. Dia cemas sendiri dengan kondisi Ayahnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG....