
Anak lelaki itu langsung tersenyum, dan melambaikan tangan kanannya. "Jumpa lagi, Kakak baik!" kata anak lelaki itu dengan tegas.
Rania menyambutnya dengan hangat. Kemudian Rania pun segera masuk ke dalam mobil Mamah Rangga. Setelah berada di dalam mobil, mereka duduk bersebelahan, Rania menundukkan kepalanya dan langsung bicara dengan sangat hati-hati. "Hm, Nyonya Anda tidak seharusnya melakukan ini, Anda boleh menurunkan saya di pinggir jalan nanti, maaf sudah menambah pekerjaan Anda," kata Rania hang terlihat sungkan. Rania memalingkan wajahnya dan menatap lembut wajahnya Mamah Rangga.
Mendengar hal tersebut, tentu saja membuat Mamah Rangga jadi tidak senang. "Tidak mungkin aku tulus mengulurkan bantuan kepadamu, kok! Anggap saja ini adalah bantuan dari Tuhanmu balasan baik karena kamu sudah menolong seorang anak dari maut, jadi jangan khawatir, aku pasti akan membawa kamu ke rumah sakit dan setelah itu membawa kamu pulang jika sudah diperbolehkan oleh pihak rumah sakit!" tambah Mamah Rangga dengan tegas. Dia tidak ingin membiarkan Rania seorang diri kesakitan.
Mereka meninggalkan tempat yang sudah sempat ramai itu, mobil Mamah Rangga berjalan dengan perlahan.
"Oh iya, siapa namamu, Nak?" tanya Mamah Rangga yang mencoba untuk bersikap keibuan seperti biasanya. Dia ingin menciptakan kenyamanan dan keamanan kepada Rania.
Rania yang mendengar hal tersebut, langsung memberikan balasannya, "Nama saya Rania, Buk! Sebelumnya terima kasih karena sudah mau membantu saya," balas Rania dengan sangat sungkan.
__ADS_1
Mamah Rangga melihat wajahnya Rania, dia langsung tersenyum demi manis. "Nama yang bagus, Rania... Sungguh indah, tidak masalah! Kita hidup kan harus saling tolong menolong, siapapun yang melakukan kebaikan di dunia ini pasti akan mendapatkan balasannya, entah di dunia juga atau akan menjadi bekal pahala, aku juga merasa kasihan padamu, aku lihat lukamu cukup dalam itu pasti sangat sakit, kan?" kata Mamah Rangga. Wanita itu menatap tegas tubuh Rania dari ujung kepala hingga kakinya.
Rania langsung menganggukkan kepalanya dia merasa apa yang diucapkan oleh Mamah Rangga benar adanya. "Anda benar sekali, Buk.. Eh! Maaf maksud saya Nyonya, maaf saya lancang." Rania merasa telah melakukan kesalahan, setelah dia sadar dengan nama panggilan yang dia berikan sebelumnya.
Mamah Rangga tersenyum lagi, dan segera mengusap rambut Rania dengan lembut. "Aku lebih suka kamu memanggilku dengan sebutan Ibu dibandingkan Nyonya, kamu tidak bekerja untukku, tapi kamu seperti seusia anakku. Sayangnya aku tidak memiliki anak perempuan, hanya satu lelaki itu juga telah berumahtangga. Usianya 29 tahun sepertinya lebih tua darimu, aku lihat kamu masih sangat muda." Mamah Rangga sedikit memberikan sebuah penjelasan kepada Rania mengenai dirinya.
Rania segera menganggukkan kepalanya, dia sedikit memahami perasaan dari Mamah Rangga saat itu. Meskipun saat ini dia juga tidak tahu secara pasti.
Dia saat itu mencoba untuk memberikan support kepada Mamah Rangga, agar dia tidak merasakan kesepian lagi.
"Saya tahu kok, bagaimana rasanya ditinggalkan oleh seseorang yang kita sayang dan tiba-tiba dicuri begitu saja. Meskipun di sini konteksnya anak lelaki Anda hanya menikah, namun rasa kesepian itu pasti masih ada dan begitu besarnya rasa ingin berkumpul dengan keluarga yang lengkap setiap waktu, hehehe! Aduh maaf saya terlalu banyak bercakap," tambah Rania yang merasa sangat gugup dan tiba-tiba bersalah.
__ADS_1
Mamah Rangga sejak tadi hanya diam dan mendengarkan ucapan Rania, wanita itu sepertinya sedang mengamati betul-betul maksud dari kata-kata Rania itu. "Hahaha, kamu tidak bersalah kok, apa yang kamu katakan memang benar, aku merasa kesepian karena Anakku yang sudah berumah-tangga. Namun aku juga tidak mampu menuruti egoku sendiri. Anakku telah tumbuh menjadi pria dewasa sebenarnya, tapi di mataku dia masih saja anak-anak saat berusia 5 tahun. Dia terkadang masih bersikap manja padaku, namun sayangnya aku malahan membebani dia dengan tanggungjawab besar untuk mengurus sebuah perusahaan, aku merasa bersalah sebenarnya, tapi kalau bukan dia... Haaaa...." Mamah Rangga terlihat seperti sedang melamun. Wanita itu memang berkata sejujurnya namun ada banyak juga yang dia sembunyikan dalam dirinya.
Rania terdiam saat mendengarkan apa yang diucapkan oleh Mamah Rangga. Dia terlihat fokus menatap tegas Mamah Rangga. Mamah Rangga yang sebelumnya menatap ke arah depan jalan, dia segera memalingkan wajahnya dan menatap wajah Rania lagi. "Ahahaha! Maaf ya, aku malah jadi curhat denganmu," tambah Mamah Rangga yang merasa bersalah.
"Tidak masalah kok, Buk! Saya juga senang mendengarkan apa yang Anda ucapkan, tidak masalah jika hanya menceritakan sedikit saja persoalan Anda, berbagi cerita. Saya tidak tahu, memang bagaimana rasanya ditinggalkan oleh seorang anak, tapi saya tahu rasanya ditinggalkan oleh orang terdekat, Ibu sayab... sayangnya dia pergi bukan karena menikah atau berkerja, tapi meninggal dunia. Saya sangat merindukannya, tapi hanya doa yang mampu saya berikan. Ibu saya juga seperti Anda, dia selalu mengkhawatirkan anaknya yang kadang pulang telat, yang kadang anaknya sakit, atau mungkin belum makan. Padahal dia sendiri juga sedang tidak baik-baik saja, orang tua memang akan selalu mengkhawatirkan anaknya sendiri. Begitu juga kita sebagai anak, ingin membahagiakan Ibu dan Ayah dengan cara apapun asalkan baik. Kami juga ingin membuktikan kami adalah anak yang sudah dewasa dan mandiri, dan mampu menjadi kebanggaan dan andalan orang tua. Kita sama saja, Buk! Saling khawatir dan peduli, saling sayang dan tidak ingin menyakiti, mungkin saat ini Putra Anda juga seperti saya, dia bersikap keras mengurus banyak hal untuk membuat Anda bangga," balas Rania. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu dalam dirinya.
Mamah Rangga hanya diam, dia tatap diri Rania dengan pandangan yang dalam dan tenang. 'Gadis ini, mengapa aku sangat cocok ketika bicara dengan dia? Saat aku mendengar ucapannya, aku seakan merasakan kehidupan yang begitu sulit sedang dia jalani dan pernah jadi pelajaran dalam hidupnya juga. Dia pasti anak yang mandiri dan cerdas,' dalam benak Mamah Rangga terlihat kagum kepada Rania.
"Iya... kamu sangat benar. Kalau boleh saya tahu, berapa usiamu saat ini?" tanya Mamah Rangga penasaran.
BERSAMBUNG..
__ADS_1