Selir Jadi Yang Pertama

Selir Jadi Yang Pertama
Balasan Setimpal


__ADS_3

"Mengapa seperti itu, Pak? Kerjasama ini sudah dibangun sejak setengah tahun yang lalu, jika kita melakukannya maka perusahaan itu akan bangkrut dengan seketika," balas Erizal dengan tegas kepada Rangga. "Apakah Anda yakin, Pak?" tanya Erizal yang sebenarnya agak ragu.


Rania cukup mendengar perbincangan antara dua orang itu, Rania jadi merasa khawatir dengan dirinya sendiri, dia takut jika suatu hari nanti akan mengalami nasib sama dengan lelaki itu. Dia jadi tidak berani dan semakin ciut dengan Rangga, terlebih lagi dia masih memiliki hutang dan juga masih terikat dengan Rangga.


Rania hanya diam dan cukup gemetaran. Segera Rangga pun bicara dengan lantang. "Ya! Lengserkan saja, agar keluarga mereka tahu siapa orang yang sedang mereka hadapi!" begitu kata Rangga, balasan yang sangat tegas.


Erizal tidak mampu untuk memberikan bantahan kepada Rangga. Dia hanya bisa mengindahkan segala hal yang diinginkan oleh Rangga. "Baik, Pak, segera saya laksanakan, mohon ditunggu beberapa detik lagi," balas Erizal. Seperti tidak ada masalah apapun.


"Beberapa detik, tapi bukankah 70% bantuan itu sangat banyak, dan Pak Rangga akan menariknya begitu saja, sungguh membahayakan!" dalam benak benak Rania berada di bawah tekanan.


Rania tidak berani berucap apapun, hingga tidak lama kemudian lelaki dari keluarga Qwen itu kembali bicara, "Apa yang sedang Anda lakukan? Anda kira saya takut dan berpikir bahwa Anda akan benar-benar melakukannya? Sampai kapanpun saya tidak akan percaya dengan hal itu, Ayah saya adalah direktur hebat, mana mungkin dia berhutang dengan Anda! Dasar pembual," balas lelaki itu dengan masih berani bicara kepada Rangga.


Rangga hanya diam, dia padahal belum mematikan panggilan dengan Erizal, tentu saja Erizal juga dapat mendengarnya dengan jelas. Hingga membuat lelaki itu tersadar bahwa sedang ada orang yang mencari masalah dengan Rangga.


"Wah suara ini, ternyata begitu!" dalam benak Erizal yang langsung mengerti.


Erizal segera mematikan panggilan telepon namun sebelumnya dia tidak lupa untuk berpamitan dengan Rangga. Rangga memasukkan ponsel genggamnya ke dalam saku baju. Rangga hanya diam tanpa mengeluarkan suara apapun lagi.

__ADS_1


Hingga beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja ponsel milik lelaki itu dari keluarga Qwen langsung berdering. Membuat semua orang memalingkan wajahnya dan memusatkan pandangan pada lelaki itu. Mereka seperti sedang menunggu sesuatu yang mungkin saja akan langsung mereka dengar saat itu juga.


Tatapan penuh penasaran yang kuat, mereka semua juga ingin mengetahuinya dengan langsung. Mereka sudah ketakutan pada saat itu. Namun tetap berusaha tenang dalam situasi yang menegangkan tersebut.


Hingga tidak lama kemudian lelaki mengangkat panggilan telepon tersebut, sambil melihat diri Rangga dengan tegas. Dia menatap seseorang yang tidak lain adalah Ayahnya sendiri.


"Oh, ternyata Ayah menelponku, dia memang sangat perhatian padaku, pasti ingin menanyakan kabar, aku akan sekalian membahas masalah perusahaan yang semakin maju akhir-akhir ini, aduh duh, kabar bahagia apalagi yang akan aku dapatkan dari Ayah sebentar lagi ya," kata lelaki itu dengan tatapan tegas dan terlihat senang.


Dia pikir dia mampu untuk menyombongkan diri dihadapan banyak orang. Sementara orang yang berada di dalam tempat itu hanya diam dengan tatapan yang dingin. Mereka sedang menunggumu sesuatu untuk diperdengarkan.


"Aku rasa dia adalah Tuan Muda yang bodoh dan menjengkelkan! Dia yang terlihat sok, bukan Pak Rangga, matilah dia sekarang! Apakah dia tidak pernah memeriksa data perusahaan, siapa saja orang yang berkerjasama dengan perusahaan milik Ayahnya? Dia hanya tahu sombong saja, berpikir bahwa seorang Tuan Muda yang sangat hebat!" bisik beberapa orang yang terlihat sangat penasaran saat itu untuk mendengar sebuah berita.


"Halo, Ayah! Ada masalah apa? Bagaimana dengan acaranya apakah berjalan dengan baik dan lancar?" tanya lelaki itu dengan nada bicara yang sengaja dia keraskan. Dia berusaha untuk menyombongkan diri dihadapan banyak orang termasuk Rangga.


Saat itu dia sudah menerima panggilan telepon dan meletakkannya pada telinga kirinya sendiri. Lelaki itu menunjukkan tatapan dingin dan tajam ke arah Rangga. Dia merasa bahwa dirinya yang akan menang saat itu.


Sementara Rania hanya diam dengan perasaan yang tidak menentu.

__ADS_1


"Anak sialan apa yang sebenarnya telah kamu lakukan? Apakah kamu baru saja menyinggung CEO Rangga? Sungguh anak kurang ajar, minta maaf padanya sekarang juga, kita harus mengembalikan aset dan hubungan kerjasama itu agar terjalin lagi semakin baik! Cepat, lakukan sekarang juga! Kamu anak sialan, anak bodoh karena kamu aku jadi kehilangan semuanya, cepat minta maaf sebelum semua terlambat!" kata Ayah lelaki itu yang terlihat sangat marah, cemas dan gemetaran, dia juga sangat syok mendapati kabar tersebut.


Anak lelakinya hanya diam saat dia mendengarkan segala hal yang diucapkan oleh Ayahnya sendiri, dia sungguh tidak menyangka dengan hal tersebut. Dia langsung gemetaran mendengar perkataan dari Ayahnya.


"Minta maaf dengan segera, kamu anak tidak tahu di untung, cepat laksanakan perintah dariku!" tambah Ayah dari lelaki itu yang kembali memberikan paksakan.


"Apa?!" pria itu sangat terkejut saat mendengar apa yang diucapkan oleh Ayahnya sendiri. Dia jadi sangat kaku saat itu, tubuhnya pun gemetaran dan jadi tidak menentu apalagi stabil.


Lelaki itu hanya diam dalam ketidakpercayaannya sendiri. Dia langsung tatap wajah Rangga dengan tegas.


"Kamu tidak sedang bercanda kan, Ayah? Hahahaha! Ayah ini sekarang sudah pandai mengeluarkan humor seperti itu!" balas lelaki itu cukup kalau sebenarnya tapi dia harus bisa menahannya di hadapan banyak orang karena sangat malu.


"Anak biadab! Masih berani kamu tertawa padahal kondisi keluarga sedang seperti ini, cepat minta maaf kepada CEO Rangga, minta dia untuk jangan menarik segalanya dari perusahaan kita! Aku benar-benar bingung sekarang ini, cepat lakukan sesuatu untuk mengembalikan perusahaan! Anak bodoh! Aku benci padamu!" kembalikan Ayah dari lelaki itu meluapkan amarahnya.


Hal itu tentu saja membuat dia jadi semakin yakin tapi juga masih tidak percaya dengan kekuatan Rangga yang sangat hebat.


"Ayah... Jadi maksud kamu, Rangga adalah pemegang aset terbesar dan berkontribusi paling banyak untuk perusahaan?" tanya lelaki itu lagi yang masih belum yakin.

__ADS_1


"Iya, cepat minta maaf pada CEO Rangga! Aku tidak ingin kehilangan semuanya dalam sekejap mata hanya karena kamu anak sialan tidak tahu di untung," balas Ayah dari lelaki itu dengan cemas.


Lelaki itu jadi kaku saat menatap wajah Rangga. "Jadi benar-benar dia orangnya," dalam benak lelaki itu.


__ADS_2