
Rangga mengangkat panggilan telepon dia saat itu sedang berbicara dengan seseorang, panggilan dari Kantor seperti biasa banyak yang ingin mengajukan kerjasama dengan diri Rangga.
"Atur saja," kata Rangga dengan tegas.
Kembali pada diri Rania terlihat gadis itu yang masih terdiam sambil menyentuh dengan perlahan lengannya. Rangga langsung kembali setelah dia menuntaskan pembicaraan melalui telepon genggam dengan seseorang.
Rangga tatap diri Rania dengan tajam, sepertinya pria itu merasa curiga akan kondisi dari Rania. Jika diingat kembali saat kemarin malam Rangga sempat menyentuh Rania dia juga melihat ada bekas memar yang baru dibersihkan. Rangga cepat-cepat untuk mengajukan pertanyaan di hadapan Rania. "Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" kata Rangga dengan serius.
Mendengar suara itu tentu saja membuat Rania jadi sangat terkejut. "Hah?" gadis itu mengangkat kembali kepalanya dan menatap tajam diri Rangga.
Rangga terdiam dihadapan Rania. Sementara Rania terlihat kebingungan.
"Tidak apa kok, Pak, saya mohon tolong izinkan saya bekerja, Pak!" kata Rania dengan tulus dihadapan Rangga.
Mendengar hal tersebut Rangga menghela napas dengan dalam. "Haih, dia setakut ini denganku? Mungkin aku sudah cukup kasar dengan dia," dalam batin Rangga yang langsung tersadar akan perbuatannya.
"Kamu benar-benar ingin bekerja?" tanya Rangga tegas.
Rania langsung menganggukkan kepala. Rangga sebenarnya juga tidak terlalu peduli dengan Rania. Dia hanya ingin membuat hidup Rania sedikit lebih baik. "Baik, tapi jangan terlalu lelah, dan ingat untuk pulang kemari, Erizal akan menjemput kamu, sekarang kamu boleh ikut denganku, kamu masih memiliki tugas untuk melahirkan putraku, sampai 1 tahun ini, apakah kamu mendengarnya?" tanya Rangga dengan tatapan tajam.
Rania segera menganggukkan kepalanya dengan cepat. Rania tidak berani membantah tapi gadis itu cukup bersyukur.
Rangga tatap diri Rania dari ujung kaki hingga kepala. "Lenganmu kenapa?" tanya Rangga yang masih saja penasaran.
"Tidak apa kok, Pak!" jawab Rania menutupi. "Oh ya, katanya Bapak ingin bicara sesuatu dengan saya, apa itu?" tanya Rania menghindar.
Rangga terdiam sejenak mendengar perkataan dari Rania. "Hm, tidak penting juga. Aku hanya ingin mengatakan maaf, jika kemarin malam aku terlalu kasar padamu," balas Rangga dengan sikap yang gentleman.
Rania langsung membelalakan sepasang matanya, dia sangat tidak menyangka dengan perkataan Rangga. "Apa? Dia meminta maaf?" dalam benak Rania tidak percaya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Rangga penasaran, karena melihat tampang dari Rania.
"Hehe, tidak kok, Pak!" jawab Rania cukup gugup.
"Aku sudah harus berangkat ke kantor," ucap Rangga tegas.
"Ikut," kata Rania tersenyum.
Rangga terlihat dingin kepada Rania, tatapannya juga biasa saja. Rangga tidak berkata apapun kepada Rania. Lalu pria itu melangkahkan kaki jenjangnya untuk bisa keluar dari rumah. Sementara Rania mengikuti di belakang Rangga.
Setelah itu mereka memasuki sebuah mobil mewah milik Rangga, posisinya Rangga dan Rania duduk di kursi belakang. Sementara Erizal menjadi seorang supir. Rania terlihat canggung sekali saat itu, dia tidak berani berkata apapun, Rangga hanya diam dan kembali fokus bekerja. Rania tidak berani untuk bertanya apapun kepada Rangga. Di dalam mobil suasananya begitu dingin dan terkesan sangat canggung.
"Hmm, sungguh tidak nyaman," dalam benak Rania yang merasa cukup risih.
"Tuan Erizal, tolong antarkan saya ke cafe ya, hehe," kata Rania dengan santun.
"Baik, Non!" balas Erizal patuh.
Tidak lama kemudian, akhirnya mereka pun tiba di tempat kerja Rania. Segera Rania turun dari dalam mobil. Jarak mobil mereka dengan cafe masih agak jauh sebenarnya, Rania yang memintanya karena dia agak khawatir jika orang-orang akan tahu, dia cukup takut saat itu.
"Terima kasih, Pak Rangga, Terima kasih Tuan Erizal, sampai jumpa!" kata Rania dengan ramah kepada mereka. Gadis itu juga sempat melambaikan tangan kanannya dihadapan Rangga. Saat dia berdiri tegap di depan pintu mobil.
Rangga melihat Rania dengan sekilas. Lalu lelaki itu memalingkan wajahnya. "Jalan, Zal," kata Rangga menurunkan perintah.
"Baik, Pak!" jawab Erizal patuh.
Erizal seolah tidak peduli dengan Rania, dia langsung bergegas pergi, Rania hanya diam saat melihat kendaraan Rangga yang sudah kabur. Rania langsung melengserkan senyuman manis itu menjadi tatapan dia yang sebenarnya. "Huft! Akhirnya mereka pergi juga," dalam benak Rania merasa lega.
Rania bekerja seperti biasanya. Sementara itu terlihat Rangga yang masih di dalam mobil. Suasana kembali canggung, Rangga hanya diam karena fokus melihat iPadnya. Hingga tidak lama kemudian Rangga pun mengingat sesuatu dia segera bicara kepada Erizal. "Tolong nanti kamu siapkan peralatan P3K, seperti kain kasa, alcohol, dan kapas," kata Rangga dengan tegas.
__ADS_1
Mendengar apa yang diucapkan oleh Rangga tentu saja hal itu membuat diri Erizal jadi kebingungan sendiri. "Lho, apakah Bapak terluka?" tanya Erizal penasaran.
"Tidak, Rania yang terluka, aku melihat lengannya memar, dan ada bekas baret yang dalam," jawab Rangga dengan jujur.
Mendengar hal tersebut Erizal jadi mengerti tapi dia juga tidak tahu mengapa bisa Rania mengalami luka tersebut. "Memang apa yang sebenarnya terjadi dengan Nona Rania?" tanya Erizal lagi dengan penasaran.
"Aku pun tidak tahu, dia menyembunyikannya dariku, tidak penting juga, aku hanya ingin kamu menyiapkannya saja," tambah Rangga dengan tegas.
"Hmm, baik, Pak!" ucap Erizal patuh.
**
Beberapa saat kemudian, Rangga tiba di kantornya, Rangga seperti biasanya meeting dengan banyak pengusaha besar. Dari kejauhan terlihat seorang gadis yang tidak lain adalah Jasmine, ternyata dia bekerja sebagai OB di tempat itu dan gadis itu sedang ditindas oleh beberapa orang dengan pangkat senior.
"Kamu bagaimana sih kerjanya, kok tidak benar?" tanya seorang wanita dengan raut wajah yang tua. Dia adalah senior yang dimaksud.
"Maaf," jawab Jasmine dengan nyali yang ciut.
"Maaf?!" balas wanita itu yang segera menampar wajah Jasmine dengan keras. Membuat wajahnya pun memar dan berdarah.
Jasmine hanya diam menahan sakit pada tubuhnya. Tidak lama kemudian dari kejauhan terlihat Erizal yang berjalan dengan membawa kotak p3k yang diminta oleh Rangga sebelumnya untuk dia siapkan. Erizal yang hendak memasuki ruangan terkejut saat melihat dari kejauhan sebuah pembullyan.
Erizal langsung berjalan untuk mendekati tempat kejadian dan ingin melihat lagi sebenarnya ada masalah apa di sana.
"Ada apa ini?" tanya Erizal dengan tegas. Lelaki itu berdiri tegap di belakang tubuh Jasmine.
Semua orang pun terkejut, mereka segera memalingkan wajahnya, begitu juga Jasmine, tapi dia hanya diam-diam melihat ke belakang. Sambil menundukkan wajah.
"Kalian berani menindas orang lain di dalam perusahaan Pak Rangga?" tanya Erizal dengan tegas.
__ADS_1