
Mendengar apa yang diucapkan oleh Rangga tentu saja membuat Rania agak khawatir, dia hanya diam tanpa melihat wajah Rangga saat itu.
Rania memakan apa yang ada dihadapannya, gadis itu terlihat cukup sungkan untuk mencicipi hidangan yang diberikan oleh Rangga kepada dirinya.
"Terima kasih, Pak," ucap Rania dengan tegas.
Rangga hanya diam saat melihat diri Rania dengan tatapan tajam.
"Hmm, mengapa dia mendadak berkata seperti itu padaku? Aku jadi takut sendiri," dalam benak Rania yang resah.
Dia jadi seperti tidak selera untuk makan, pikirannya kini seakan masih tertuju pada perkataan yang dilontarkan oleh Rangga beberapa waktu yang lalu.
"Apa gunanya makanan yang disajikan?"
Rania mendongak ke arah pria yang tiba-tiba saja berkata dengan kalimat yang menurut Rania sangat ambigu. "Huh? Gimana Pak?"
Rania tampak jelas tidak mengerti dengan maksud perkataan dari pria di hadapannya itu. Kalimatnya yang menyisakan tanda tanya membuat Rania hanya bisa menampilkan wajah penuh kebingungannya.
Terdengar helaan nafas yang cukup kasar keluar dari mulut pria yang ada di hadapan Rania. Tatapannya seketika berubah semakin tajam, menusuk tepat ke arah manik mata milik Rania.
"Apa perlu saya mengulangi kalimat saya?" Rangga berucap dengan penuh penekanan dalam setiap kalimatnya.
Sontak saja hal itu berhasil membuat Rania menjadi ketar-ketir dibuatnya. Wajah Rania tampak menampilkan raut yang penuh dengan ketakutan.
Tak ingin semakin menambah masalah, Rania lantas mencoba untuk mengubur dalam-dalam semua kebingungannya. Menggantinya dengan gelengan kepala yang memberikan tanda jika ia memberikan jawaban tidak pada kalimat pertanyaan Rangga sebelumnya.
Rania terdiam memilih untuk menundukkan wajahnya dalam-dalam.
Bruk! Rangga menghentakkan kasar tangannya tepat di atas meja makan itu. Sorot matanya menusuk dalam ke arah manik mata milik Rania.
Seketika Rania lantas menelan salivanya dengan begitu kasar. Nafasnya terasa tercekat kala menemukan raut wajah yak bersahabat dari Rangga saat ini.
"Jika sudah mengerti, lalu kenapa tidak segera habiskan makanannya!" Rangga berucap dengan nada ucapan membentaknya.
Tanpa berucap apapun lagi, Rania langsung saja mengambil makanan yang sebelumnya sudah disodorkan oleh Rangga.
Buru-buru Rania menyuapkan sendok berisi makanannya itu selama beberapa kali.
__ADS_1
Perlahan Rangga mulai kembali menegakkan tubuhnya, tatapannya kini menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
"Saya tidak suka dengan orang yang banyak tanya. Apapun yang saya katakan tinggal kerjakan. Jangan membuat saya merasa semakin marah dengan orang itu." Rania lalu mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali setelah dikatakan demikian oleh Rangga.
"Akan terjadi akibat yang sangat fatal jika seseorang itu sampai berani membuat saya murka dan marah."
Rasanya makanan yang saat ini masuk ke dalam tenggorakan Rania sungguh sangat sulit untuk ditelan oleh gadis itu. Ucapan dingin dan penuh penekanan yang dilontarkan oleh pria di hadapannya itu membuat Rania tidak lagi mampu mengunyah makanannya.
Selama berulang kali, makanannya hanya ditelan secara paksa oleh wanita yang saat ini beberapa kali curi-curi pandang kepada pria di hadapannya itu.
Setelah beberapa saat, makanan yang sebelumnya tersaji untuk Rania akhirnya sudah habis dilahap oleh wanita itu.
Meski ada rasa takut dan ragu yang terbesit di dalam hati Rania untuk mengatakan sesuatu yang sedari tadi ingin dilontarkannya, pada akhirnya Rania menyerah juga.
Wanita itu benar-benar tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak melontarkan kalimatnya.
"Apa saya boleh bekerja?"
Tatapan Rangga yang semula fokus pada ponsel di tangannya sontak teralih sempurna ke arah wanita yang menjadi sumber suara dari terganggunya konsentrasi pria itu saat ini.
Tampak kerutan pertanda ambigu tercetak jelas di kening Rangga, bahkan tatapannya terlihat tertuju tepat ke arah manik mata milik Rania.
Rangga kemudian meletakkan ponselnya tepat di atas meja. Memandang serius ke arah Rania tanpa berniat untuk mengalihkannya ke arah lain.
"Apa semua yang saya berikan masih kurang? Apa saya perlu memberikan uang yang lebih banyak lagi untuk kebutuhanmu?" Rangga bertanya dengan nada sinisnya.
Jujur ada rasa sakit di hati Rania saat mendengarnya. Mendengar hal itu Rania merasa dirinya justru terlihat seperti wanita yang matre sekali saat ini.
Mungkin memang benar Rania mau menjadi selir bagi pria itu demi uang dan hartanya. Namun, tak semuanya Rania akan memikirkan soal uang. Rania masih memiliki hati manusiawinya.
Rania kemudian menggelengkan kepalanya pertanda jika dirinya tidak menyetujui ucapan dari pria di hadapannya itu.
"Bukan begitu, Pak. Hanya saja saya merasa ingin terjun ke dunia kerja. Saya ingin bekerja sama seperti orang-orang lainnya. Apa saya boleh meminta kepada Bapak agar diberi izin untuk bekerja?"
Tatapan Rangga tampak menerawang ke arah manik mata Rania mencoba mencari kebenaran niat dari gadis itu di dalam sana.
Seperdetik kemudian, terdengar suara helaan nafas yang cukup panjang keluar dari mulut Rangga. Entah mengapa sepertinya Rania merasa jika pria di hadapannya itu tidak akan memberikan ia izin untuk bekerja saat ini.
__ADS_1
Rangga lalu memilih untuk bangkit. Berjalan memutari meja makan itu guna menemui wanita yang sudah memberikan permintaan mendadak kepadanya itu.
Menyadari Rangga yang mulai mendekat ke arah dirinya membuat Rania sontak menegakkan tubuhnya.
Entah ada apa dengan Rania kala itu, akibat terlalu terburu-burunya gadis itu saat berdiri.
Piring yang berada tepat di atas meja makannya itu tak sengaja tersenggol oleh tangannya. Beruntung kala itu Rania dengan cepat menangkapnya, tepat saat itu juga Rangga yang berjalan ke arah ya turut membantu menahan piring itu agar tidak jatuh.
"Aw!" Rania memekik secara tiba-tiba saat tangan Rangga yang ikut membantu menahan piring itu menyentuh lengan Rania.
Pria itu lantas mengerutkan keningnya ambigu. "Mengapa dia merintih? Sudah seperti orang kesakitan saja." Rangga membatin merasa ada yang tidak beres dengan wanita di sampingnya itu.
"Ada apa? Kenapa kamu terdengar merintih kesakitan? Bukankah piring ini tidak jatuh dan pecah mengenai bagian tubuhmu?"
Rangga bertanya dengan kening yang berkerut. Tampak kedua alisnya kemudian menyusul terangkat ke atas.
Sementara Rania yang ditanya pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seakan memberitahukan tidak ada apa-apa di sana.
Tentu saja hal itu sama sekali tidak dipercayai oleh Rangga. Tanpa basa-basi Rangga langsung saja menarik piring yang dipegang oleh Rania, meletakkannya kembali ke atas meja makan.
Tatapannya pun perlahan beralih ke arah lengan mulus milik Rania. Kedua matanya seketika membulat ketika mendapati tangan Rania yang berisikan luka di sana.
Tanpa pikir panjang Rangga langsung saja mencengkram tangan wanita itu, sama sekali tidak memikirkan jika hal yang dibuatnya akan meninggalkan rasa sakit bagi Rania.
"Aw! Sakit, Pak! Tolong lepas!"
Rania memekik tak sanggup menahan sakitnya.
"Kenapa ini? Kok bisa jadi seperti ini?" Rangga bertanya dengan kening yang berkerut. Tatapannya tajam dan menusuk.
Rania buru-buru menggeleng cepat menandakan jika luka itu bukan hal yang serius.
"Kemarin jatuh. Udah itu aja kok."
Meski Rania mengatakan hal yang demikian dengan wajah meyakinkannya, nyatanya Rangga masih tetap merasakan keraguan pada ucapan wanita itu.
"Semoga dia percaya." Rania membatin berharap penuh jika pria di hadapannya akan langsung mempercayainya. Tak lama Rangga pergi meninggalkan Rania begitu saja saat sebuah telpon berdering di ponselnya.
__ADS_1
***