
Olive jadi kelabakan sendiri, wanita itu bingung harus berbuat apa saat itu, apalagi dia juga sedang teleponan dengan seorang temannya. Terdengar beberapa kali kawan Olive bicara kepada wanita itu, tapi tidak dia gubris. "Olive, kita jadi kan shopping? Halo! Olive?" kata teman Olive yang terlihat sangat bingung saat itu dengan diri Olive yang aneh dan tidak langsung menjawab ucapan darinya.
"Live, kamu kenapa?" tanya wanita itu lagi yang terlihat kebingungan sendiri.
"Aku sepertinya tidak bisa shopping hari ini," kata Olive dengan panik.
"Hah?! Lho, kenapa? Kok tiba-tiba sih?" balas teman Olive yang sangat terkejut. "Iiiih! Ini lho aku sudah siap, mengapa kamu ingkar janji begitu?! Tidak seperti biayanya saja." Teman perempuan Olive tentu saja merasa kecewa pada diri Olive yang tiba-tiba saja membatalkan rencana mereka.
"Aduh! Bukannya apa-apa, tapi Mertuaku tiba-tiba saja datang ke rumah, aku tidak mungkin dapat pergi, dia sangat bawel, jadi aku akan mematikan ponsel, lain kali saja aku pasti akan mengajak kamu shopping dan kamu boleh belanja sepuasmu, tapi tidak untuk sekarang! Bye!" Olive yang sudah sangat cemas, langsung mematikan panggilan telepon itu.
Olive segera memasukkan telepon genggam itu ke dalam saku bajunya, dan wanita itu segera melepaskan tas dari tubuhnya dan dia meletakkannya di balik hordeng untuk dia sembunyikan dari Mamah Rangga. Agar wanita itu tidak mengetahuinya.
"Haduh, kenapa sih, nenek tua itu harus datang! Tumben sekalian, sungguh menjengkelkan!" dalam benak Olive yang kesal. Wanita itu menghela napasnya cukup berat. Sambil memutar sepasang bola mata hitamnya.
Sementara itu di luar rumah, tepatnya di halaman depan kediaman Rangga, terlihat Mamah Rangga yang diantar dengan seorang supir. Wanita itu menggunakan dress yang terlihat sangat elegan dengan rambut hitam yang disanggul. Mamah Rangga segera keluar dari dalam mobil hitam mahal miliknya. Wanita itu menatap dengan tegas dan tajam penampakan rumah yang dihuni oleh Rangga dan Olive.
Tidak lama kemudian Mamah Rangga melangkahkan kaki jenjangnya untuk bisa menaiki anak tangga dan mengetuk pintu rumah besar yang tertutup rapat tersebut.
__ADS_1
Beberapa ketukan pintu, sementara di sana sudah berdiri tegap Olive di dalam rumah tepat di depan pintu. Dia masih tidak ingin membukakan pintu untuk mertuanya sendiri. "Iiiih, menjengkelkan!" dalam benak Olive kesal sendiri. Dia mengepalkan telapak tangan kanannya dengan erat.
Sampai pada akhirnya Olive pun menghela napasnya dengan cukup dalam. Dia mencoba untuk menenangkan dirinya dari perasaan tidak senang yang mendatangi wanita itu.
"Di mana Olive, mengapa dia tidak segera membuka pintu untuk diriku? Apakah mungkin dia tidak ada di rumah lagi? Hmmm!" dalam benak Mamah Rangga yang terlihat cukup tidak suka.
Saat Mamah Rangga hendak mengetuk pintu lagi, tiba-tiba saja dia dikejutkan dengan Olive yang langsung membukakan pintu untuk dirinya. "Hai! Mah, ya ampun apa kabar? Kok tidak bilang jika ingin datang kemari?" kata Olive yang bermulut manis di hadapan Mamah Rangga.
Wanita itu tersenyum dengan sangat manis kepada Mamah Rangga. Sementara itu Mamah Rangga hanya diam dengan tatapan yang dingin kepada Olive.
Wanita itu segera melangkahkan kaki jenjangnya untuk bisa masuk ke dalam rumah Rangga yang sangat besar. Mamah Rangga menatap sekeliling tempat itu, karena ingin memastikan semuanya dalam kondisi yang baik.
Olive yang merasa sangat canggung, dan harus mengambil hati Mamah Rangga, dia pun berusaha untuk mendekati Mamah Rangga. Olive melangkahkan kakinya untuk dapat mendekati Mamah Rangga. "Ahahah, Anda benar sekali, Mah! Beberapa hari ini memang kami sangat sibuk," timpal Olive. Wanita itu langsung berdiri dengan tetap di samping kanan dari tubuh Mamah Rangga.
"Oh, begitu ya? Ternyata benar sangat sibuk, Rangga selalu bekerja di kantornya, sementara apa yang kamu lakukan di rumah? Apakah membereskan rumah setiap detiknya? Wah! Pasti sangat melelahkan bukan? Pagi ini hidangan apa yang kamu siapkanlah untuk di makan Rangga?" tanya Mamah Rangga. Wanita itu langsung memalingkan wajahnya dan menata dengan tegas diri Olive.
Sebenarnya Mamah Rangga sudah tahu semuanya, dia hanya berpura-pura saja di hadapan Olive. Agar membuat wanita itu sadar dengan sendirinya.
__ADS_1
"Sialan, Rangga saja tidak pulang ke rumah, aku juga tidak memasaknya apapun, bagaimana mungkin dia dapat bicara seperti itu padaku, dia kan tahu aku tidak terlalu pandai memasak, dia pasti sengaja melakukannya padaku untuk membuat aku malu sendiri, dasarnya iblis!" dalam benak Olive yang sudah sangat marah. Tapi dia masih harus kembali sabar karena Mamah Rangga bukan orang yang mudah untuk dia hadapi.
"Hahahah, Rangga tidak pulang Mah kemarin malam, aku juga tidak tahu ke mana dia pergi, aku hanya membuat sarapan ringan karena hanya untuk aku saja, roti tawar dengan susu itu sudah lebih dari cukup," balas Olive. Wanita itu saat ini sedang berpura-pura menjadi orang yang lugu dan manis.
"Yah, bagaimana mungkin aku dapat kenyang hanya dengan memakannya roti dan susu? Aku ingin pergi shopping tahu dan membeli makanan yang sangat mahal!" dalam benak Olive tidak senang.
Mamah Rangga menatap dengan tegas diri Olive. "Oh begitu ya, kamu memang anak yang baik sangat mengerti suami, tapi kalian tidak mungkin sedang bertengkar kan? Karena aku baru dengar kali ini dari mulutmu sendiri bahwa Rangga tidak pulang ke rumah, apakah kamu juga tidak dikabari lewat pesan singkat oleh Rangga?" kata Mamah Rangga penasaran, dia terus menatap wajah Olive dengan tegas dan tajam.
Olive terkejut saat dia mendengar hal itu dari mulut Mamah Rangga sendiri. "Hahaha, bagaimana mungkin! Kami selalu baik-baik saja kok, Mah! Jadi jangan khawatir seperti itu, kami selalu saling mencintai, mungkin Dan yang terlalu sibuk bekerja maka dari itu dia tidak mengabari saya." Olive meluncurkan sebuah alasan kenapa Mamah Rangga.
"Begitu ya, hmm! Tapi apakah kamu sudah diberitahu oleh Rangga, jika aku meminta kepada Rangga untuk mencari seorang wanita yang dapat mengandung anaknya?" kata Mamah Rangga dengan tenang.
Olive hanya diam saat mendengarkan ucapan itu keluar dari dalam mulut Mamah Rangga sendiri. "Saya sudah tahu kok, Rangga yang mengatakannya kepada saya," jawab Olive mencoba untuk tetap tenang.
"Jadi inilah yang dia inginkan, mengapa datang ke rumah? Hais! Apa yang kamu mau? Ingin menyindirku, atau mencoba untuk memojokkan aku di sini? Cih! Nenek tua, siapa yang takut!" dalam benak Olive yang sudah siap.
BERSAMBUNG....
__ADS_1