
"Rania! Tunggu!" Erizal yang tak sengaja berpapasan dengan Rania pun langsung memanggil wanita itu dan menghentikan langkahnya.
Sebuah kerutan pertanda ambigu pun tampak tercetak jelas di wajah wanita itu saat ini. "Ada apa, Erizal? Mengapa kamu terlihat seperti orang yang habis main roller coster gitu sih? Baru tau aku, kalau di kantor ini ada wahana permainan." Rania terkekeh menertawakan pria yang kini tangannya sudah berkeringat dingin.
"Hush! Ada-ada aja omongan kamu. Aku gak apa-apa kok. Udah sekarang jangan bercanda dulu. Kamu diminta sama Pak Rangga buat ke ruangannya sekarang juga. Mending kamu buru-buru samperin dia deh. Takut nanti kalau kelamaan malah dampaknya di kamu lagi." Erizal memberitahukan sekaligus memperingati wanita itu.
Mendengar penuturan itu sontak saja hal itu berhasil membuat kedua bola mata Rania membulat. Tanpa mengatakan barang sepatah kata pun lagi, wanita itu langsung saja bergegas pergi.
Bruk!
Rania yang melangkah tanpa melihat kanan dan kirinya lantas tak bisa menghindari tabrakan dengan beberapa karyawan yang ada di perusahaan milik Rangga itu.
"Maaf ya! Maaf! Aku gak sengaja. Maaf banget, aku buru-buru sekarang." Rania meminta maaf, membantu orang yang ditabraknya sebentar sebelum akhirnya ia segera pergi kembali melanjutkan perjalanannya.
Ceklek!
Hosh.. hosh..
Suara deru nafas yang menandakan sang empu sedang terengah-engah pun lantas mengisi seluruh ruangan beratasnamakan Ceo itu. Rangga yang kala itu sedang fokus menatap ke arah tumpukan kertas di depannya pun sontak mengangkat wajahnya menatap wanita yang sedang mengatur nafas itu dengan tatapan ambigunya.
"Apa ada kebakaran? Sehingga kamu berlari seperti orang yang kerasukan begitu?"
Pedas. Itulah yang selalu menjadi ciri khas bagi pria dengan mata elang tajam itu.
Rania menggelengkan kepalanya cepat mengabaikan segala amarah yang ingin ia lontarkan kepada pria itu. Rania tentu saja sadar diri tentang siapa posisi dirinya sekarang.
"Apa saya meminta kamu untuk datang hanya sebagai pajangan manusia mengatur nafas seperti itu terus saja?" Rangga berucap dengan nada suara yang terdengar cukup sinis.
__ADS_1
Rania menghela nafasnya pelan. "Maaf, Pak Rangga. Nafas saya belum teratur, maka dari itu saya..."
"Saya tidak butuh alasan kamu. Cepat kemari dan duduklah di depan saya!"
Rania kemudian kembali menganggukkan kepalanya tanda patuh. Tidak ada satu pun kesempatan yang membuat wanita itu berani untuk membantah ucapan pria di hadapannya itu.
Bagaimana pun juga, Rania tidak akan pernah selamanya memiliki kekuatan untuk menentang pria itu. Perbedaan kelas dan juga segala peran penting yang sudah diperankan oleh pria itu membuat Rania tak mampu berkutik selain hanya menurut saja.
"Ada apa Pak Rangga? Mengapa anda memanggil saya mendadak seperti ini?" Rania bertanya dengan dahi yang berkerut. Sementara Rangga justru memberikan kode melalui lirikan matanya seakan meminta Rania mengartikan sendiri apa maksud kodenya saat ini.
Setelahnya Rania lalu mengikuti arah pandang dari pria itu. Tepatnya tatapan itu berakhir pada sesuatu yang tergelatak di atas meja kantor itu.
Tak bisa dipungkiri lagi, kedua bola mata Rania pun membulat saat itu juga. Ada rasa sulit bagi Rania kala dirinya berusaha untuk menelan saliva-nya.
"Bagaimana tanggapanmu tentang foto-foto ini?" Rangga bertanya membuat kepala Rania langsung terangkat sempurna ke arah pria itu.
"Apa anda berada di sana saat kejadian ini? Apa anda yang mengambil foto ini sendirian?" Rania balik bertanya.
Rania bungkam. Namun seperdetik kemudian ia langsung berucap tanpa ada keraguan dalam kalimatnya.
"Saat itu, anda sedang sibuk Pak Rangga. Kebetulan kata Erizal hmm maksud say..."
"Wah. Sekarang kalian hanya saling menyebut nama saja saat berbicara? Apakah benar kalian memiliki suatu hubungan yang saya tidak ketahui?" Rangga menatap tajam wanita di hadapannya.
Dengan cepat Rania langsung menggelengkan kepalanya kuat menimbulkan jejak kebingungan bagi Rangga yang mendengarnya. "Saya hanya berteman dengan Tuan Erizal. Tuan Erizal mengatakan jika sesama teman lebih baik saling memanggil dengan sebutan nama saja. Tidak perlu memakai Tuan dan sebagainya. Tapi saya berani bersumpah Pak Rangga, saya sama sekali tidak memiliki hubungan apapun selain hanya berteman dengan Tuan Erizal." kata Rania dengan wajah seriusnya.
Jujur saja, memang semua kalimat yang dikatakan oleh Rania itu adalah kenyataan yang valid. Antara dirinya dan juga Erizal memang hanya menjalin hubungan sebagai teman saja tidak lebih dari itu sama sekali pun.
__ADS_1
"Apa saya bisa mempercayai ucapanmu ini, wahai wanita selir?"
Jleb! Ada perasaan yang aneh kala Rania mendengar kalimat itu. Sesuatu perih dan sedikit sesak terasa jelas terbit di dalam hatinya.
Rania mengerjapkan kedua bola matanya berulang kali. Berusaha sebisa mungkin untuk dirinya tidak terganggu sedikit pun dengan panggilan yang dilontarkan oleh Rangga sebelumnya.
Sementara di hadapannya saat ini, diam-diam sebuah seringai terbit sempurna di bibir Rangga.
Tak lama kemudian, Rania kembali menggeleng-gelengkan kepalanya pelan menandakan jika dirinya menentang jelas tudingan yang dilontarkan oleh pria di hadapannya itu.
"Anda bisa mempercayai ucapan saya Pak Rangga. Saya sama sekali tidak menyembunyikan apapun dari anda. Kejadian kemarin bisa terjadi karena kata Tuan Erizal dia sedang tidak ada pekerjaan juga. Tuan Erizal sepertinya kasihan kepada saya yang mulai merasa bosan karena menunggu anda yang belum juga pulang. Anda mengatakan jika saya harus menunggu anda bukan? Maka dari itu, setelah mendengar dari Tuan Erizal jika anda sedang sibuk dengan pekerjaan juga. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut dengannya saja." Rania berucap dengan kedua bola mata yang menyorot penuh kejujuran.
"Jika saya tau anda pulangnya sebentar lagi atau tidak sibuk sekali, pasti saya tidak akan mengiyakan ajakan dari Tuan Erizal. Antara saya dan Tuan Erizal benar-benar hanya berteman tidak ada maksud lain lagi. Saya memang hanya menjalin pertemanan dengannya karena Tuan Erizal termasuk orang yang saya rasa nyambung saja saat mengobrol dengannya. Anda bisa mempercayai ucapan saya, Pak Rangga." Akhiri Rania berharap jika pria itu akan percaya.
Sebab saat itu Rania memang hanya berkata apa adanya saja.
Tanpa sepengetahuan dari Rania dan juga Rangga, sedari tadi ada Erizal yang menguping di luar ruangan itu. Entah mengapa, ada rasa sesak dan menyakitkan ketika kedua indra pendengaran dari Erizal menangkap suara Rania yang sampai bersumpah hanya menjalin pertemanan dengannya.
Erizal seakan memiliki harapan lain kepada wanita itu.
"Hanya teman? Entah kenapa tiba-tiba saja rasanya sesak di sini saat mendengar pengakuan kamu itu, Rania. Entah kenapa aku ngerasa gak rela kalau kamu anggap aku cuman sebagai teman saja." Erizal membatin sebelum akhirnya ia mendengar suara derap higheels mulai mendekat.
Buru-buru Erizal langsung pergi dari hadapan ruangan itu dan bergegas mencari tempat persembunyian yang mungkin aman.
"Aku sudah lelah menunggunya yang tak kunjung pulang dan menyadari penampilanku. Aku akan langsung menemuinya saja."
Olive tiba-tiba saja datang dan segera membuka pintu ruangan sang suami. Kedua bola matanya membulat saat mendapati sang suami menjalin kontak mata dengan selirnya, mereka begitu dekat bahkan satu kancing kemeja wanita itu sudah terlepas.
__ADS_1
"MAS RANGGA! MAU NGAPAIN KAMU SAMA DIA?!" bentaknya marah.
***