
Lelaki itu masih diam dengan pandangan tidak senang dihadapan Rangga, dia kaku dengan perasaan yang tidak mampu dijelaskan dalam diri. Lelaki itu mematung dalam beberapa saat, jantungnya berdegup tidak menentu dia sangat ketakutan saat itu dihadapan Rangga.
"Ternyata memang benar dia adalah orang yang kejam, dia tidak memiliki hati nurani sedikit saja, tapi mengapa Aku harus selalu kalah dari dia? Aku benci padanya!" dalam benak pria itu yang semakin terluka.
Dia juga mendengar suara tangisan dari ibunya sendiri yang berada di dalam saluran telepon karena masalah ini.
"Apakah aku harus merendahkan diriku dihadapannya? Cih! Menjijikkan!" dalam benak lelaki itu yang sebenarnya merasa enggan.
Dia mengepalkan telapak tangannya dengan kuat lelaki itu juga merasa tidak enak hati jika harus meminta maaf kepada Rangga dihadapan banyak orang. Apalagi dia adalah seorang Tuan Muda, setelah apa yang dia lakukan sekarang dia malah diinjak-injak seperti itu oleh Rangga.
Bayaran yang sangat dahsyat untuk dirinya sendiri. Lelaki itu langsung menjatuhkan tubuhnya dan bersujud di hadapan Rangga karena sudah tidak sanggup lagi mendengar suara Ibu yang menangis dan Ayah yang memaki dirinya. Terlebih lagi dia juga tidak ingin jika menjadi orang yang miskin nantinya setelah banyak hal yang dia lakukan.
Semua orang terkejut saat melihat lelaki itu yang bersimpuh dihadapan Rangga. Membuat semua orang jadi terdiam dan tercengang. Mereka semua terlihat penasaran saat itu dengan apa yang sebenarnya ingin diucapkan oleh lelaki itu kepada Rangga.
"Kurang ajar! Sialan, aku tidak akan menerima semua perlakuan ini, aku pasti akan membalasnya," dalam benak lelaki itu yang merasa sangat tidak senang.
"Saya mohon tolong beri saya maaf, maaf atas keteledoran yang telah saya buat, mohon Tuan jangan menarik segala bentuk kerjasama ini atas perusahaan Ayah saya, mohon maafkan saya," kata lelaki itu yang sebenarnya tidak ingin melakukannya tapi semua itu dilakukan karena terpaksa.
Rangga hanya diam dengan tenang, sementara Rania terlihat sangat kasihan kepada lelaki itu. Tapi dia hanya bias diam karena dia pun juga tidak tahu harus bersikap bagaimana dengan Rangga dalam situasi tersebut, terlebih dia hanya seorang selir yang lebih tepatnya mesin bayi untuk Rangga. Rania hanya diam dengan perasaan tidak menentu dalam diri.
__ADS_1
Rangga tatap dengan tajam wajah lelaki itu, dia sebenarnya kesal tapi Rangga tidak mudah menunjukkan perasaan yang sebenarnya di khalayak umum.
"Aku memaafkan kamu, tapi semua telah terlambat sepertinya, karena Erizal telah mengatakannya kepada Ayahmu, jadi otomatis surat kontrak dibatalkan, segala yang menyangkut dengan perusahaanmu sudah tidak ada kaitannya denganku, aku telah memasukkannya juga ke dalam daftar hitam!" kata Rangga dengan tegas. Dia begitu kejam dalam setiap perkataannya yang mendalam.
Lelaki itu langsung terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Rangga. Dia pun segera bersujud sambil memeluk kaki Rangga dia memohon dengan sangat kepada Rangga untuk bisa memulihkan segalanya. "Saya minta tolong! Jangan seperti ini, saya akan melakukan apapun agar Anda bersedia untuk mengembalikan perusahaan kepada kami!" lelaki itu terus memohon dengan sangat.
Dia menghela napasnya beberapa kali, dia sebenarnya tidak ingin melakukan semua itu tapi semua lagi-lagi karena keterpaksaan. Lelaki itu terus memohon kepada Rangga.
"Bagaimana ini? Matilah aku, Ayah akan marah begitu juga dengan Kakek, aku pasti akan dihajar habis-habisan oleh Kakek dan Ayah, aku sangat ceroboh sekali! Sekarang aku harus bagaimana ini?" dalam benak lelaki itu yang sangat menyesal.
Sementara Rangga tidak bergeming sedikit saja, dia seolah tidak peduli dengan hal tersebut. Rangga tetap seperti biasanya. "Ayo kita pergi saja, aku sudah tidak lapar lagi!" kata Rangga kepada Rania dengan tegas.
Dia juga ketakutan sendiri. Semua orang jadi diam dan suasana di dalam tempat itu menjadi sangat tegang.
"Aku sungguh tidak berani dengan Pak Rangga, dia lelaki yang sangat mengerikan," bisik beberapa orang yang ketakutan sendiri.
"Mungkin ini juga ganjaran untuk keluarga Qwen yang terkenal sangat sombong kepada banyak orang, dia kini makan bersujud dihadapan Pak Rangga, sungguh mencengangkan!" bisik beberapa orang lainnya yang terlihat sangat tidak menyangka.
"Saya minta maaf! Tolong jangan tinggalkan tempat ini sebelum mengembalikan aset perusahaan saya," kata lelaki itu lagi dengan perasaan takut yang mendalam.
__ADS_1
Rangga merasa terganggu oleh hal tersebut. "Lepaskan kakiku, atau aku akan membuat keluargamu malah tidak akan pernah ada lagi di dunia ini apalagi kesempatan untuk berkembang! Tetap sentuh jika kamu ingin aku lebih membuat keluargamu hancur," balas Rangga yang mengancam.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Rangga tentu saja membuat lelaki itu pun terkejut, dia segera melepaskan genggamannya, dan Rangga mengeluarkan black card, kepada pelayan yang datang membawa hidangannya.
"Ini aku bayar tagihannya, aku tidak jadi menyantapnya, berikan saja kepada Tuan Qwen," kata Rangga dengan tegas.
Mendengar hal tersebut seorang pelayan yang membawa mesin gesek pun langsung mengindahkan perkataan dari Rangga, dia melakukan transaksi dan memberikan kembali kartu itu kepada Rangga. "Lunas, Pak!" jawab pelayan kecil itu yang terlihat ketakutan juga saat berhadapan dengan Rangga.
Rangga mengambilnya, dan dia segera meninggalkan tempat itu, setelah dilepaskan oleh Tuan Muda Qwen.
"Ayo!" kata Rangga kepada Rania.
Mendengar hal tersebut Rania hanya mengikuti instruksi dari Rangga saja, wanita itu mengikuti Rangga dengan langkah kaki yang cukup cepat. Karena dia ingin menyamakan dengan Rangga, pria itu berjalan dengan gesit tanpa melihat ke kanan dan ke kiri, sementara orang lain melihat diri mereka berdua dengan ketakutan dan ketertekanan dalam diri.
"Pak Rangga, mohon jangan seperti ini, tolong biarkan perusahaan tetap berjalan dengan baik," ucap lelaki itu yang melangkahkan kaki jenjangnya untuk bisa mengejar Rangga agar dia tidak kehilangan jejak dari lelaki itu.
Langkah kaki lelaki itu terlihat sangat asal-asalan, Rania sempat menoleh ke arah belakang dan melihat keadaan, Rania hanya menghela napasnya cukup dalam dan berat. Mereka keluar dari restoran tersebut dan langsung masuk ke dalam mobil mereka yang parkir di halaman depan.
"Pak Rangga, mohon dengarkan saya! Saya minta maaf," teriak lelaki itu. Yang segera menyusul Rangga. Dia berjalan keluar sambil tergopoh-gopoh dan menyentuh pintu mobil Rangga.
__ADS_1
Sementara Rania hanya diam saat duduk di dalam mobil kursi depan. Begitu juga dengan Rangga yang hanya diam duduk di kursi pengemudi, Rania perlahan memalingkan wajahnya dan menatap diri Rangga. Dia tidak berani bicara.