
Beberapa menit sebelumnya...
Rania tampak menganggukkan kepalanya pelan menandakan jika dirinya dapat dipercaya penuh oleh pria di hadapannya itu.
Rangga menyeringai meninggalkan tanda tanya besar bagi Rania yang melihat seringai itu.
"Baiklah. Saya anggap penjelasan yang keluar dari mulutmu itu sebagai bukti yang valid. Sekarang berdirilah." Rangga kemudian kembali memerintah wanita itu.
Rania sendiri juga tidak mengerti bagaimana jalan cerita yang terbesit di dalam pikiran wanita itu.
Semuanya tampak semu dan sulit untuk dimengerti oleh benaknya.
"Baik Pak Rangga." Seolah jelas jika dirinya tidak memiliki pilihan lainnya, akhirnya Rania pun memutuskan untuk berdiri dan menuruti perintah dari Rangga.
"Kemarilah! Mendekat padaku." Lagi dan lagi, Rania hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Mulutnya tetap setia tertutup seakan dirinya adalah seseorang yang bisu. "Hmm.. wanita yang sangat pintar." puji Rangga seraya mengembangkan senyumannya.
Rangga lantas menegakkan tubuhnya, entah apa yang ada di dalam pikiran pria itu namun yang pasti Rania hanya bisa menahan dirinya untuk tetap tenang.
Jangan sampai refleks yang ia lakukan membuat sebuah kemarahan akan timbul di dalam diri Rangga untuknya.
"Hari ini, kau tampak tidak menarik." Rangga berkata seraya membelai wajah Rania dengan jari-jemarinya. Rania tertegun merasa ada yang aneh pada dirinya saat tangan pria itu menyentuh wajahnya.
Rangga kemudian menghirup udara melalui ceruk leher wanita itu. Wajahnya tampak menyeringai mengetahui Rania yang terlihat salah tingkah. "Apa kau ingin melakukannya sekarang?" Rangga menyeringai kembali seakan puas dengan permainan palsu yang dilakukannya.
Sementara Rania pun, ia hanya memilih terdiam seribu bahasa. Sekeras mungkin dirinya mencoba untuk mengendalikan dirinya penuh.
"Cukup menantang." Rangga bergumam membuat Rania lantad memejamkan matanya dalam-dalam.
__ADS_1
Kedua jemari Rangga pun kini berpindah pada kemeja yang dipakai oleh Rania saat ini. Bahkan kedua sorot matanya pun juga sama halnya mengintai kemeja yang digunakan sang wanita.
Dengan gesit, Rangga melepas satu kancing kemeja wanita di hadapannya itu. Lagi-lagi wajahnya terus menerbitkan sebuah seringai saat mendapati bagaimana Rania yang tampak hanya memasang wajah pasrahnya saja kala itu.
Perlahan, jemari Rangga pun dengan sengaja melepas kancing kemeja Rania. Tak lupa, Rangga juga turut semakin memperkecil jarak yang ada di antara keduanya.
"Apa kau benar ingin melakukan permainan di sini?" Rangga bertanya dengan suara yang berbisik. Sama seperti sebelumnya, Rania hanya bisa memejamkan kedua matanya dalam-dalam.
Ia seakan kehabisan kata-kata untuk membalas ucapan dari pria itu.
Kini Rania tetap membisu bahkan sedari tadi, wanita itu sama sekali tidak berani untuk membuka kedua bola matanya.
Melihat kesempatan emas itu, Rangga lantas menyeringai. Rangga kemudian berniat untuk kembali melanjutkan aksinya. Namun secara tiba-tiba saja sebuah bukaan pada pintu ruangannya pun menghentikan gerakan Rangga.
Baik Rangga maupun Rania secara serentak langsung menatap ke sumber suara.
Olive, wanita yang menjadi istri sah dari pria yang ada di hadapan Rania saat ini pun datang. Wajahnya seketika berubah merah menandakan bagaimana emosinya kini mendidih.
Tanpa basa-basi lagi, Olive langsung saja menjauhkan tubuh Rania dan Rangga yang kala itu saling berdekatan.
"Mas! Kamu apa-apaan sih?!" Olive berteriak seakan tidak terima dengan perbuatan dari suami sahnya itu.
Rangga yang kala itu seakan tidak melakukan kesalahan apa-apa pun tampak memasang wajah datar dan tenangnya. Bahkan kini, kedua tangannya pun terlipat di depan dadanya.
Sejenak, terlihat bagaimana Rangga yang menatap penampilan sang istri dari atas sampai kepada bawah kakinya. Rangga menyeringai samar, dalam batinnya ia mulai mengatakan. "Trik baru? Aku sungguh sudah muak dengan segala tingkahmu."
"Mas! Kamu dengar apa yang aku bilang, kan?! Kamu mau ngapain sama dia?! Kamu lupa siapa istri kamu, Mas?! Aku istri sah kamu." Olive semakin menjadi-jadi sementara Rangga benar-benar hanya terdiam tanpa ada minat untuk menanggapinya.
Bulir-bulir bening pun tampak mulai berjatuhan dan membasahi kedua sisi pipinya. Sesekali Olive pun mulai menyeka air mata yang mengalir di wajahnya itu.
__ADS_1
"Kamu kenapa bisa tega begini sama aku, Mas?! Kenapa kamu harus menginginkan melakukan hal menjijikan itu bersama dengannya." Jujur saja, Rangga semakin merasa muak dengan segala drama yang dilakukan oleh wanita itu.
Olive lalu mengalihkan pandangannya. Ia menatap penuh berapi-api ke arah Rania yang menurutnya sudah merebut segalanya darinya.
"Puas kamu sudah menjadi ****** di dalam kehidupan saya?! Berani-beraninya kamu mencoba untuk merebut suami saya dari tangan saya?! Apa kamu sudah kehilangan akal sehat dan kewarasanmu! Dasar wanita tidak tau diri! Apa orang tuamu melahirkanmu untuk menjadi perusak rumah tangga orang lain?!" Olive membentak membuat Rania hanya bisa menundukkan wajahnya dalam-dalam.
Kepalanya seakan tidak mampu untuk terangkat. Mendengar kalimat menyakitkan itu saja hati Rania sudah terluka, apalagi di tambah dengan menatap langsung wanita itu.
Tentu saja, hal itu tidak akan pernah mungkin bisa Rania lakukan.
Olive mendekat, ia sengaja ingin semakin menjatuhkan mental Rania kala itu.
"Apa kau sudah merasa menjadi Ratu sekarang?! Setelah semua yang kau lakukan, apa kau sudah merasa sangat hebat dan patut untuk di puji?! Cuih! Entah pelet apa yang kau gunakan untuk mempengaruhi suamiku. Kau sungguh wanita yang sangat menjijikkan. Mengapa kau tidak menjadi wanita malam sekalian saja?!" Olive kembali berucap, kali ini benar-benar sudah berkata melewati batas wajarnya.
Mendengar kalimat penuh menyakitkan itu, tentu saja hati Rania sangat terluka.
Dengan memberanikan diri, Rania mulai mengangkat wajahnya. Hal itu ternyata justru membuat emosi Olive menjadi-jadi.
Tangannya pun mulai terangkat, ingin segera melayang tepat di wajah wanita itu. Namun sebelum semua itu terjadi, sebuah tangan kekar sudah lebih dulu menahannya.
"Apa yang mau kamu lakukan kepada Rania?! Hentikan semua drama membosankan kamu ini, Olive. Bukankah kau sudah tau jelas jika Rania adalah wanita yang akan memberikan aku keturunan?! Aku sudah berulang kali mengatakan untuk kamu jangan pernah mengganggu urusanku lagi. Apa kau benar ingin mendengar kalimat talak keluar dari mulutku untukmu?" Olive terhenyak mendengar hal itu bisa keluar dari mulut sang suami.
"Tapi, Mas. Aku.."
"Jangan pernah sentuh Rania! Jika kau sampai berani melukai Rania, kamu akan lihat apa akibat yang akan kamu dapatkan." Rangga mengancam sebelum akhirnya pria itu pun membawa sang wanita pergi dari dalam ruangannya sendiri.
Menyaksikan bagaimana sang suami yang lebih membela bahkan melindungi wanita yang merupakan selir suaminya sendiri itu membuat emosi di dalam diri Rania meledak-ledak.
Demi apapun! Olive sungguh dibuat kesal setengah mati oleh wanita yang menurutnya tidak tahu malu itu.
__ADS_1
"Sialan! Awas saja wanita itu. Aku tidak akan pernah membiarkan dia begitu saja. Tunggu saja pembalasanku nanti!" gumamnya mengepal tangan kuat.
***