
Rangga kembali diam, dia pun melihat ke arah freezer karena banyak ayam potong di dalam sana.
"Aku ingin kanu memasak ayam untukku!" kata Rangga dengan tegas.
Segrup Rangga pun memasukkan beberapa potong ayam ke dalam ke ranjang yang dibawa oleh Rania. Sebenarnya Rania masih merasa kurang nyaman dengan hidungnya tapi dia tidak berani untuk bicara apapun kepada Rangga, dia hanya diam dengan patuh mengikuti arahan yang diberikan oleh Rangga kepada dirinya.
"Baiklah, Pak," jawab Rania dengan suara yang pelan.
Rania menutupi perasaan malunya dihadapan banyak orang, dia sebenarnya juga sangat canggung. Tapi mau bagaimana lagi sekarang ini dia tidak tahu harus melakukan apa selain mematuhi Rangga.
Rangga terus berjalan dan dia selalu mengikuti Rangga dalam melangkah. Rania menghela napasnya cukup dalam karena Rangga memasukkan banyak sekali bahan makanan ke dalam keranjang yang Rania bawa.
"Hah barang sebanyak ini untuk persediaan 1 bulan kah? Tapi aku kira kita hanya akan membeli bahan untuk dimasak malam ini saja, tidak disangka," dalam benak Rania yang kebingungan sendiri.
Hingga beberapa saat kemudian, mereka pun mengantre di mesin kasir, malam itu memang sangat ramai, mungkin karena malam minggu atau kebetulan bahan makanan sudah habis semua. Rania sabar menunggu di barisan banyak orang. Saat itu Rangga memang di samping Rania. Tapi bukahkah itu akan terlihat sangat aneh? Jadi Rania bicara kepada Rangga. "Pak, bagaimana jika saya seorang saja yang menunggu di sini, Bapak lebih baik kembali ke dalam mobil dan menunggu kedatangan saya saja?" kata Rania dengan tegas.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Rania, membuat Rangga melirik tegas wajah gadis gitu.
"Hmm, baiklah! Aku ada di depan pintu masuk menunggu kamu, barang belanjaannya terlalu banyak jadi aku akan membantu kamu," balas Rangga yang sadar akan kemampuan dari Rania.
Rania hanya tersenyum. "Terima kasih, Pak!" jawab Rania dengan tenang.
Rangga hanya menganggukkan kepalanya, dan memberikan Rania black card yang dia bawa. "Ini untuk membayarnya," balas Rangga tegas.
__ADS_1
Rania hanya diam dan Rangga langsung memberitahukan pin dari card VIP tersebut.
Rania awalnya agak ragu tapi dia segera mengulurkan tangan untuk bisa menerimanya dengan segera. Karena dia merasa semakin tidak nyaman saat semua orang melihat ke arah dirinya.
"Baik," balas Rania dengan gugup. Sambil menundukkan kepala.
Rangga langsung berjalan ke arah luar tanpa membawa masalah apapun dalam diri. Hingga Rania tinggal sendiri di sana dengan banyaknya orang yang berkumpul. Rania hanya diam saja, hingga Rania mendengar suara dari seseorang yang saling berbisik.
"Eh, mengapa aku merasa lelaki itu sepertinya tidak asing ya, seperti seorang artis," kata seorang wanita dengan temannya.
"Hah? Bukan kalau tidak salah dia adalah Pak Rangga, CEO besar yang ternama itu, gila! Ganteng ya," sambut gadis lain dengan perasaan takjub.
"Eh, iya! Tapi bulankah Pak Rangga memiliki seorang Istri ya? Kalau tidak salah bernama Olive, jadi siapa perempuan muda ini? Simpanan kah?" bisik seorang gadis sambil melirik diri Rania dengan tatapan yang tajam dan sinis.
Membuat diri Rania jadi sangat risih saja. Akan tetapi Rania tetap diam dan mencoba untuk tenang. Meski hatinya sangat jengkel dan sakit.
"Kalau bukan simpanan apa dong? Kartu saja diberikan, mereka juga belanja bersama, dan lihat pakaian mahal yang dia gunakan saat ini, pasti juga dibelikan oleh Pak Rangga, apalagi kalau bukan simpanan, wuiiih! Hebat juga cara main gadis ini, kalau aku secantik dia mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama, sayang aku tidak ingin menjadi serendah itu hanya karena memiliki wajah cantik!" sindir gadis tersebut dengan tegas.
Rania tetap mencoba untuk bersabar, hingga beberapa orang lain ikut mendengar perkataan dari gadis itu. Mereka segera menatap wajah Rania yang terlihat hanya diam, malu dan merasa bersalah.
"Aku jadi merasa kasihan dengan Istri sah dari Pak Rangga, gadis jaman sekarang kalau tidak mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan lebih baik malah memilih jadi simpanan pria kaya, aduh, aduh! Sungguh disayangkan," tambah seorang wanita yang ikut menimpali.
Rania sebenarnya merasa sudah sangat kesal, dia ingin rasanya bicara tapi apa yang dia punya? Mereka tidak mungkin mendengarnya juga. Rania memilih tetap diam sambil mengepalkan telapak tangan kanannya dengan gemetaran.
__ADS_1
"Aku salah, aku benar-benar serendah itu kah? Hahah! Mungkin mereka benar atas apa yang mereka katakan, tapi rasanya mengapa sangat menyakitkan sekali ya!" dalam benak Rania yang sudah hampir menangis.
Sampai pada akhirnya Rania dikejutkan dengan suara dari seseorang yang membuat dia terkejut sendiri. "Di sini itu tempat mengantre barang, bukan bagian dari bergosip! Apakah tidak khawatir jika akan dituntut kalau nanti malah didengar oleh seseorang? Atau mengapa tidak berteriak saja sekalian agar didengar oleh orang lain, masuk penjara itu mudah sayang!" kata seorang wanita yang saat itu berdiri tegap di belakang Rania.
Rania langsung memalingkan wajah dan melihat ke arah wanita itu, dia terlihat cantik dengan pakaian yang elegant. Mendengar sindiran itu tentu saja membuat semua perempuan tersebut jadi takut. Terlebih saat tahu siapa yang bicara. "Hah? Nona Selena? Seorang model sekaligus pendiri perusahaan Menik itu, aduh aku adalah karyawan di sana matilah, mengapa aku tidak mengetahuinya," dalam benak seorang wanita yang langsung menundukkan kepala.
"Jangan lihat aku, jangan lihat!" dalam benak wanita itu yang ketakutan.
Sebelumnya wanita cantik itu menggunakan masker hitam jadi tidak ada yang dapat mengenalinya. Rania hanya menganggukkan kepala merasa telah dibantu oleh wanita itu. Selena hanya mengedipkan sepasang matanya dengan perlahan kepada Rania.
Suasana di dalam tempat itu pun kembali teratur tanpa adanya suara bising dari mulut yang menghina. Rania cukup tenang saat itu karena ada yang membantu dia.
Hingga beberapa saat kemudian, Rania pun selesai dengan pekerjaannya dia berjalan keluar dan dibantu oleh Rangga. "Tidak ada masalah kan?" tanya Rangga memastikan.
Rania hanya diam sambil menganggukkan kepalanya dengan perlahan. Tidak lama kemudian Selena pun keluar dia berjalan dengan langkah kaki cepat. Rania pun menatap Selena dengan tegas.
"Halo, terima kasih untuk bantuan yang tadi," kata Rania yang menghentikan jalan Selena.
"Oh iya, tidak masalah," jawab Selena tegas.
Rangga yang mendengar dan melihatnya langsung bicara tegas, "Selena? Kapan kamu pulang?" tanya Rangga penasaran.
"Baru sore tadi tiba," ucap Selena tenang.
__ADS_1