
Semua mata kini mengarah tepat pada seorang wanita yang keningnya sudah dipenuhi oleh peluh keringat.
Berulang kali tampak bagaimana wanita itu yang sibuk menelan saliva-nya dengan susah payah. Pikirannya benar-benar telah dibuat kalut saat ini.
Ingin rasanya Olive membatalkan niatnya untuk menghubungi nomor Rangga namun semua cercaan sorot mata tajam itu benar-benar terus menyorot ke arah dirinya.
"Tidak perlu menatapku begitu! Aku tidak akan mendustai ucapanku sendiri!" Olive mengancam semua sorotan mata tajam yang mengarah pada dirinya itu.
Berulang kali, Olive mengalihkan pandangannya ke arah yang berlawanan tampak berusaha keras menghindari bersitatap dengan yang lainnya.
Sementara Erizal yang semula terdengar sengaja disudutkan oleh wanita di hadapannya itu pun tampak memasang raut wajah tenangnya.
Erizal mulai melipat kedua tangannya di depan dada seraya mengangkat sedikit dagunya seakan jelas ia tidak ingin lagi terlalu diremehkan oleh wanita di hadapannya itu.
"Silahkan. Cepat, lakukan panggilan telpon pada nomor Pak Rangga. Saya sungguh menunggu hal itu akan anda lakukan sejak tadi. Lalu, ada apa sekarang? Apakah anda takut untuk membuktikan ucapan anda sebelumnya sehingga sampai saat ini anda masih belum membuka room telpon anda?" Erizal tampak bertanya dengan nada menjatuhkannya.
Terlihat jelas bagaimana Olive yang menjadi ketar-ketir karena ulahnya saat ini. "Takut? A--aku takut dengan kamu? Haha.. untuk apa? Itu adalah lelucon yang tidak masuk akal. Ayolah! Mana mungkin wanita sepertiku akan takut dengan ancaman sampahmu itu. Kau tenanglah! Aku pasti akan segera menghubungi Rangga! Lihat saja! Bagaimana kau akan merasa sangat malu!" Olive tampak masih mempertahankan dirinya. Meski jelas jauh di dalam lubuk hatinya ada perasaan cemas dan takut yang sangat amat berlebih.
Olive menelan saliva-nya cukup kasar. Keringat dingin tanpa sadar mulai membanjiri dan membasahi seluruh area wajah wanita itu.
Bisik demi bisik dari pelanggan di kafe yang menyaksikan perseteruan antara pria dan wanita itu pun mulai mengeluarkan komentarnya. Seperti biasa tidak ada satu pun tanggapan baik hanya ada celotehan pedas yang membuat mental Olive semakin menurun dibuatnya. "Apa kau percaya dengan wanita itu? Aku rasa dia hanya sedang berbohong saat ini. Lihatlah! Bagaimana keringat di keningnya yang tampak bercucuran penuh. Sungguh! Aku sangat yakin jika Tuan Erizal tidak seperti yang wanita itu katakan."
"Diam kalian semua! Apa kalian pikir pria di hadapan kalian ini sungguh benar adanya seperti yang kalian pikirkan?! Aku akan membuktikan jika pria yang kalian anggap malaikat ini sangat berkebalikan dengan pendapat kalian!" Olive berteriak menarik seluruh perhatian pelanggan yang masih setia menjadikan Olive sebagai tontonan utama mereka.
__ADS_1
Tanpa pernah diduga oleh Olive sebelumnya, salah seorang gadis yang berada di tengah-tengah meja kafe itu pun berdiri dengan tegak.
Kedua sorot matanya pun tampak menatap lekat ke arah Olive.
"Kau hanya sibuk berbicara sejak tadi. Jika kau merasa dirimu memang paling benar, coba buktikan saja kepada kami semua. Mana mungkin kami akan percaya hanya pada ucapan saja. Kami butuh bukti bukan sekedar omongan yang tak tentu arah!" Semua pelanggan lain pun tampak menyetujui ucapan gadis pemberani itu.
Sial! Bukan hanya wajah Olive saja yang sebelumnya menjadi berkeringat dingin. Sekarang, kedua tangannya pun mulai basah akan keringat. Semua ini akibat ucapan gadis ingusan itu.
Tampak bagaimana raut wajah Olive yang sudah tak tertata lagi. Olive memejamkan matanya dalam-dalam berusaha menghindari tatapan penuh penuntutan itu.
Di lain sisi, Olive masih ingin membuktikan jika ucapannya tentang Erizal adalah kebenaran namun tak bisa Olive tampikkan satu sisi lainnya terbesit kemungkinan dimana dirinya yang justru akan dipermalukan.
Olive berdehem sejenak. "Aku akan menghubunginya sekarang."
Olive kemudian mulai mengotak-atik ponselnya melakukan panggilan telpon kepada Rangga.
Saat sambungan telpon sudah menuju pada menit ke 3 buru-buru, Olive langsung saja mematikan panggilan telpon itu dengan cepat.
Semua mata pun kini menyorot dalam ke arah wanita itu.
"Ada apa, Nona?" tanya Erizal dengan satu kening yang berkerut meremehkan. Olive berdecak kesal saat mendengar nada meledek yang keluar dari mulut pria di hadapannya itu.
"Awas saja kau nanti, badebah! Aku pasti akan membalas semua perlakuan kamu kepada diriku saat ini suatu saat nanti. Lihat saja!" Olive mengancam dengan suara pelan.
__ADS_1
Sambil menutupi wajahnya dengan tas tangan branded miliknya, Olive langsung bergegas pergi berlari sekencang yang ia bisa guna menutupi rasa malunya pada semua orang yang menatapnya rendah saat ini.
"Huhu.. dasar wanita pengada cerita. Dasar wanita halu!" Semua tampak meledek wanita yang kini sudah lari jauh tak lagi tampak batang hidungnya.
Sementara teman-teman dari wanita itu pun juga turut melarikan diri mengikuti sang sahabat. "Aku bersumpah demi diriku sendiri! Aku pasti akan membalas semua perlakuan burukmu kepadaku saat ini, Erizal! Kau akan membalas semuanya nanti!"
Dalam larinya, Olive masih saja terus menggerutu mengutuk nama Erizal. Wanita itu masih terus saja menyalahkan pria yang padahal pelaku utama yang menimbulkan masalah itu adalah Olive bukan pria itu.
Olive yang jelas sangat sombong dan angkuh tentu tak perduli tentang siapa yang salah kala itu. Dalam pikirannya, hanya ada nama dirinya yang selalu benar dan siapapun yang menyalahkan dirinya maka orang itulah yang bersalah saat ini.
Olive terdiam. Mencoba meredam segala amarah yang mendidih di dalam dirinya.
"Hosh.. hosh.. kenapa kau melarikan diri?" tanya salah seorang teman Olive yang baru datang dan masuk ke dalam mobil wanita itu.
Olive mendelik tajam ke arah sang teman sebelum akhirnya ia menatap lurus kembali ke depan.
"Pak! Cepat jalankan saja mobilnya! Antarkan saya untuk pergi ke tempat perawatan biasa. Ingat! Harus SPA dengan kualitas premium karena kulit saya tidak akan pernah cocok dengan tempat kualitas murahan!" Olive memerintah membuat sang supir hanya bisa menganggukkan kepalanya menurut.
Mobil mewah hitam itu pun lantas dilajukan dengan kecepatan standar meninggalkan tempat yang akan selamanya di ingat oleh Olive sebagai tempat dipermalukannya dirinya akibat kelakuan dirinya sendiri.
Sedangkan di dalam kafe, semua pelanggan yang ada di sana pun serempak menegakkan tubuh mereka bersama-sama bertepuk tangan bahagia.
"Apa aku bilang. Aku sudah menduga dan sangat yakin sebelumnya jika Tuan Erizal tidak mungkin melakukan hal yang sudah dikatakan oleh wanita gila itu. Aku yakin, pasti wanita itu hanya sedang tidak waras saat ini. Maka dari itu tak heran jika ucapannya selalu tidak masuk akal. Semangat ya Tuan Erizal. Aku tau pasti Tuan tidak akan seperti yang wanita itu katakan." Puji salah seorang pelanggan di kafe itu membuat Erizal tersenyum.
__ADS_1
Hingga tak lama tatapannya beralih pada seseorang lainnya. Ia berada tepat di ujung sudut kafe. "Aku harus menemuinya." Erizal bergumam sebelum akhirnya melangkah pergi.
***