Selir Jadi Yang Pertama

Selir Jadi Yang Pertama
Kejadian Di Jalan Besar


__ADS_3

Sementara itu di perusahaan Rangga Aditama. Terlihat pria itu yang sedang bekerja dengan sangat fokus. Dia melihat data yang ada di hadapannya. Tidak lama kemudian Rangga mendengar suara pintu yang diketuk okeh seseorang. "Selamat pagi Pak Rangga," kata Erizal dengan suara khasnya.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Erizal langsung membuat Rangga memudarkan fokusnya, dia pun segera mengangkat kepala untuk bisa menatap ke arah pintu ruangannya. "Ada apa, Erizal? Masuklah," balas Rangga dengan tegas dan tenang.


Tidak lama kemudian Erizal pun muncul setelah dia membuka pintu atas izin Rangga. Rangga masih menatap dengan tegas diri Erizal. Hingga pria itu pun bicara lagi, "Kenapa?" tanya Rangga penasaran.


"Mengenai berkas yang Anda minta saya untuk mencarinya, telah saya kumpulkan jadi satu, di mana saya harus meletakkannya?" tanya Erizal yang saat itu sedang membawa tumpukan kertas yang dibungkus oleh map coklat.


"Kamu dapat meletakkannya di samping kanan meja kosong itu," balas Rangga dengan tenang.


Erizal segera mengindahkan apa yang diperintahkan oleh Rangga kepada dirinya. Lelaki itu berjalan ke arah Meja yang dimaksud oleh Rangga. Saat Erizal melakukan itu Rangga masih melihat diri Erizal dari tempat duduknya sendiri. "Erizal," panggil Rangga dengan tegas.


Mendengar namanya disebut oleh Rangga, segera Erizal memalingkan wajahnya dan menatap dengan tegas diri Rangga. "Saya, Pak," balas Erizal yang terlihat penasaran.


"Tolong kamu sampaikan kepada gadis bernama Rania dan Jasmine, aku akan mendatangi mereka sesuai dengan hari yang telah aku buat, ini jadwal yang harus kamu berikan," kata Rangga dengan tegas. Pria itu langsung meletakkan dia buah kertas di atas mejanya sendiri.


Erizal masih diam saat mendengar hal tersebut, kemudian lelaki itu pun segera menganggukkan kepalanya, dan lelaki itu langsung berjalan lalu mengambil benda tersebut. "Baik, Pak! Akan segera saya laksanakan," jawab Erizal dengan tegas dan patuh.


Rangga hanya terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh Erizal. "Oh ya, apakah masih ada hal lainnya lagi, Pak, mengenai apa yang seharusnya saya lakukan?" tanya Erizal kembali dengan penasaran.

__ADS_1


"Tidak ada, itu saja sudah cukup," balas Rangga tegas.


Erizal langsung menganggukkan kepalanya dan berpamitan kepada Rangga. "Kalau begitu saya pamit undur diri, permisi," tambah Erizal dengan tenang. Lelaki itu segera meninggalkan ruangan Rangga yang besar.


Rangga hanya diam tanpa melakukan hal apapun kepada Erizal.


**


Sementara itu di tempat lain, terlihat seorang gadis cantik, dia adalah Jasmine. Gadis itu sedang duduk di taman bersama dengan seorang pria.


Tidak lama kemudian Jasmine mendengar suara ponselnya yang berbunyi. Jasmine segera mengambil benda itu dari saku bajunya, dia melihat ada pesan dari seseorang. Jasmine langsung membukanya. "Oh, jadwal pelayanan ya, hmm!" dalam benak Jasmine yang terlihat dingin saat itu.


"Jasmine, ada apa?" tanya pria di sampingnya yang penasaran melihat diri Jasmine.


Sementara itu dia tidak boleh aku meninggalkan tempat kerja dengan waktu yang lama, kasihan Lita, pasti dia sangat kerepotan sekarang ini, maaf ya, Lit," dalam benak Rania yang merasa bersalah.


Saat Rania sedang berjalan menyusuri jalan, Rania terkejut saat dia mendengar suara ponsel yang berbunyi. Rani langsung melihat ke arah genggaman tangan kanannya. Rania menatap layar HP yang menyala. Rania membacanya dengan perlahan.


"Hah? Malam ini, jam 10 malam, Erizal akan menjemputku kembali ke villa itu lagi, apakah aku benar-benar akan tamat kali ini? Kesucian yang aku jaga selama 22 tahun, apakah benar akan direnggut oleh seorang pria yang tidak aku kenal, tidak aku cintai juga, sungguh mengerikan, tapi mau bagaimana lagi, semua sudah jadi nasibku," dalam benak Rania yang terlihat sangat terbebani.

__ADS_1


Gadis itu melamun saat sedang berjalan, hingga tanpa sengaja Rania hampir saja menabrak tiang. Untung ada seorang nenek tua yang menegurnya. "Hei! Lihat jalan di depan, kamu akan kesulitan jika tidak menghentikan pandangan pada ponsel itu," kata si Nenek yang sudah berada di samping Rania.


Rania terkejut dan langsung menatap diri si Nenek, lalu gadis itu pun menghentikan langkah kakinya, dia memalingkan wajahnya dan melihat ke arah depan. Yap, benar saja! Dihadapan gadis itu terlihat jelas tiang listrik yang besar. "Terima kasih ya, Nek!" kata Rania dengan tersenyum ramah.


"Haduh, dasar, anak jaman sekarang ini, telah dibutakan dengan ponsel genggam, akan jadi seperti apa generasi ini jika mereka hanya menunduk pada teknologi, nyawa sendiri saja dia tidak mampu menjaganya dengan baik." Nenek itu langsung berjalan sambil ngedumel sendiri. Dia terlihat tidak senang dengan apa yang dilakukan oleh Rania.


Rania yang mendengar hal tersebut hanya diam dengan perasaan bersalah, dia melihat Nenek itu yang semakin menjauh dari dirinya. "Haih, aku harus segera kembali, maafkan aku Lita!" kata Rania yang langsung tersadar. Gadis itu segera berjalan dengan sangat cepat agar bisa kembali ke cafe sesegera mungkin.


Rania yang melewati jalan besar di pinggir jalan terlihat sangat terburu. Sementara itu di jalan besar tersebut terlihat Mobil Mamah Rangga yang sedang melaju cukup kencang. Rania terlihat beberapa kali menatap ke arah jam tangan. Dalam benaknya gadis itu harus cepat.


Tidak lama kemudian dari arah tempat es cream, terlihat dua orang anak kecil yang sedang bercanda. Salah seorang anak yang berjenis kelamin pria sangat kecil usianya mungkin baru menginjak 5 tahun. Dia membawa es krim cone. Dan langsung berlari begitu saja ke arah jalan besar.


Melihat hal tersebut tentu saja Rania sangat terkejut, gadis itu membulatkan sepasang matanya, seorang pria yang dewasa yang ada di tempat es krim tidak tahu jika anak lelaki itu berlari.


Seorang anak perempuan dengan rambut di kuncir dua datang untuk mengejar. Tidak ada yang memedulikan dua anak itu. Namun Rania yang khawatir segera berlari untuk dapat mengejar anak pria itu, karena dia akan tertabrak mobil, setelah menginjakkan kakinya di jalan besar. "Anak itu! Waduh!" dalam benak Rania yang khawatir.


Rania begitu cepat mendekati anak tersebut, dan dia langsung menarik tubuh lelaki kecil itu dan membawanya ke tempat yang lebih aman, karena dari arah kanan ada dua mobil dan satu buah truk yang sedang melintas. Jika Rania tidak cepat maka anak itu mungkin tidak akan selamat. "Aah! Es creamku!" teriak anak lelaki itu dengan perasaan sedih.


Es cream miliknya jatuh tepat di atas kaca mobil seseorang. "Ada masalah apa, Go?" tanya Mamah Rangga. Karena dia terkejut mobilnya tiba-tiba berhenti mendadak.

__ADS_1


"Ada seorang anak yang melintas di depan mobil kita!" jawab pria itu khawatir.


BERSAMBUNG...


__ADS_2