
Rania yang ketakutan langsung meringkuk di bawah wastafel, dia menutup sepasang mata dan menutup telinganya dengan tangan. Dia terlihat tidak baik-baik saja.
Hingga beberapa saat kemudian, Rania dikejutkan oleh seseorang yang langsung menepuk pundak wanita itu. Yang membuat Rania bertambah tidak aman.
"Pergi!" kata Rania yang tidak sanggup lagi untuk melihat. Dia berteriak cukup keras.
"Jangan sakiti aku," kata Rania lagi yang bertambah khawatir.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Rania tentu saja membuat diri Rangga jadi kebingungan. Dia tidak tahu mengapa Rania malah menjadi seperti itu.
"Rania, ini aku Rangga," kata Rangga dengan suaranya yang hangat.
Dia jadi penasaran sekalian akan diri Rania. Rania langsung mengangkat kepalanya dan membuka matanya, dia tatap dengan jelas dan tegas diri Rangga yang sudah berada di hadapannya.
"Pak Rangga!" Rania segera mengulurkan kedua tangannya dan langsung memeluk tubuh Rangga dengan erat.
Pada saat itu tubuh Rania gemetaran sekali, dia juga tidak lupa untuk menangis dengan hebat di dalam pelukan Rangga.
Rangga semakin tidak mengerti akan hal tersebut. Dia pun segera bicara kepada Rania, "Apa yang terjadi padamu?" tanya Rangga penasaran.
"Aku ketakutan, mohon tolong Aku! Ibu... Ayah akan memukulku saat hujan datang," ucap Rania sesenggukan.
Dia terus menangis tanpa mau berhenti. Rangga hanya diam mendengar perkataan dari Rania saat itu.
"Hei, jangan seperti ini, tidak ada yang akan memukul kamu, kok! Jangan takut, coba lepaskan dulu pelukanmu, dan segera keluar dari sini, aku akan membawa kamu pergi ke ruang tamu lagi, okay?" bujuk Rangga dengan sangat halus dan hati-hati kepada Rania.
Rania menangis dan tiba-tiba saja dia tidak sadarkan diri, hal itu tentu saja membuat diri Rangga kebingungan. "Hei?! Kamu kenapa?" tanya Rangga yang agak panik. Dia langsung memeluk tubuh Rania deh cukup erat.
Lelaki itu segera membawa Rania untuk masuk ke dalam kamar, Rangga berdiri tegap di hadapan Rania, saat itu Rania berbaring di atas ranjang yang besar dalam kondisi yang masih belum sadar. Di sana ada seorang dokter yang langsung memeriksa tubuh Rania. Sementara Rangga hanya menunggu dengan sabar.
__ADS_1
"Bagaimana dengan keadaannya?" tanya Rangga kepada Dokter setelah dia selesai memeriksa Rania.
"Ada 1 kabar buruk dan baik, Anda ingin mendengarkan hal yang mana terlebih dahulu?" tanya Dokter itu yang segera menghampiri Rangga, setelah dia meletakkan kembali tangan Rania.
Rangga terkejut mendengar hal itu, dia jadi semakin penasaran akan hal apa yang terjadi kepada Rania saat itu.
"Kabar buruk dulu saja," balas Rangga dengan tegas. Sambil menatap tajam wajahnya dokter pria itu.
"Kabar buruknya sepertinya Nona ini mengalami trauma yang cukup mendalam, mengkhawatirkan jika sampai menggangu kondisi tubuhnya," lanjut dokter tersebut.
Rangga diam dengan perasaan tidak tenang. Dia tatap diri Rania dengan tegas.
"Trauma? Dengan hujan? Sebelumnya dia sempat berteriak ibu dan ayah, apa yang sebenarnya telah dia lewati selama ini?" dalam benak Rangga jadi penasaran.
"Lantas, kabar baiknya apa, Dok?" ucap Rangga yang kembali tersadar.
Dokter pun segera menganggukkan kepalanya.
Rangga tidak menyangka akan hal itu, dia lihat lagi diri Rania yang sedang hamil anaknya.
"Dia... Hamil?!" dalam benak Rangga tidak menyangka.
**
Sementara itu di tempat lain, terlihat Olive yang terlihat kesal sendiri.
"Cih, Aku tidak menyangka Rangga akan berkencan dengan perempuan rendah seperti dia! Jangan bermain-main denganku, kamu tidak akan bisa menyingkirkanku!" dalam benak Olive tidak suka.
Hingga beberapa hari kemudian, terlihat Rania yang sedang bekerja, dia jadi harus berhati-hati karena tahu saat ini sedang mengandung anak dari Rangga. Sebenarnya Rangga sudah melarang Rania untuk tidak bekerja, tapi dia memaksa. Akhirnya Rangga mengizinkan.
__ADS_1
"Awalnya banyak pengawal yang dia perintahkan untuk datang, tapi untungnya saja aku sudah mengelabui mereka, sungguh tidak mudah!" dalam benak Rania.
Sementara itu saat Rania sedang merenung dia mendengar bel berbunyi, dia memalingkan wajahnya dan melihat seseorang dengan pakaian hitam menggunakan masker mendatangi dirinya.
Selamat dat...!" kata Lita kepada orang itu.
Tapi dengan tiba-tiba dia mengeluarkan senjata api dan langsung menembak jantung Rania.
Sontak semua orang pun terkejut, dan Rania pingsan di tempat.
**
Rangga berdiam diri di rumah sakit, dia melihat Rania yang sedang koma. Rangga sangat khawatir saat itu. Dia merasa bersalah kepada Rania dan sedang mencari pelaku yang sudah melakukan itu kepada Rania.
Siang dan malam Rangga selalu menemani Rania. Sementara itu Rangga mendapatkan kabar berkali-kali dia ingin menggugurkan kandungannya dengan cara membahayakan dirinya sendiri.
Hanya Rania yang tersisa di sisinya, hingga beberapa hari kemudian akhirnya Rania sadar. Rangga jadi merasa nyaman akan kehadiran Rania.
Tidak lama kemudian dia mendapatkan kabar dari Erizal bahwa orang yang menyakiti Rania adalah Olive, saat itu juga dia langsung mengambil keputusan untuk menceraikan Olive dan memenjarakannya.
Rangga memilih bersama dengan Rania dan menunggu wanita itu bangun.
Beberapa tahun kemudian, terlihat Rania yang sedang bermain dengan seorang anak lelaki.
"Sayang jangan jauh-jauh ya,"
"Iya, Mah!"
Rania tersenyum dan Rangga langsung mengusap rambut Rania dengan lembut.
__ADS_1
TAMAT.