Selir Jadi Yang Pertama

Selir Jadi Yang Pertama
Pertemuan Pertama


__ADS_3

Seorang gadis yang cantik menggunakan gaun berwarna ungu tua, rambut panjang hitam bergelombang dengan sorot mata yang tajam. Dia sedang duduk di atas ranjang, segera memalingkan wajahnya karena mendengar suara pintu kamar yang dibuka oleh seseorang. Tiada lain adalah Rangga.


Gadis itu menatap diri Rangga dengan pandangan yang begitu senang. "Waaah! Apakah ini adalah seorang pria yang dikatakan oleh Tuan Erizal? Tampan sekali, aku baru pertama kali melihatnya secara langsung, dia CEO dari perusahaan Aditama itu kan, sungguh kehormatan bagiku dapat melihat dia di sini, apalagi merasakan cinta satu malam dengan dia," dalam benak gadis itu. Dia terlihat begitu gembira, dan cukup excited.


Rangga berdiri tegap melihat seorang gadis yang berada di sisi kasur putih yang besar. Pria itu terlihat sangat tenang dengan perangainya sendiri.


Rangga menatap tegas gadis itu, lalu dia, segera melangkahkan kaki jenjangnya untuk dapat mendekati gadis tersebut.


Hingga akhirnya Rangga menghentikan jalan, dan kini mereka saling bertatapan. "Apakah kamu adalah salah satu gadis yang dipilih oleh Erizal untuk melayani aku? Apakah kamu sudah menerimanya dengan tenang? Apakah masih ada hal yang ingin kamu ceritakan atau tanyakan padaku?" tanya Rangga dengan tatapan yang tajam.


Gadis cantik itu, langsung bangku dari duduknya dan segera bicara kepada Rangga. "Saya telah memahami apa yang diperintahkan oleh Tuan Erizal, saya tidak terpaksa melakukan semua ini, mengenai hadiah yang akan Anda berikan kepada saya maka itu sudah cukup bagi saya bersama dengan Anda, apalagi Anda adalah seorang CEO muda yang tampan, tidak mungkin sia-sia saya di sini dengan Anda," balas gadis itu dengan terus terang.


Rangga hanya diam dengan tenang. Kemudian Rangga kembali membuka mulutnya. "Siapa namamu?" tanya Rangga tegas.


Gadis itu tersenyum dan langsung terlihat cukup manja kepada Rangga. Dia tidak menunjukkan perasaan yang takut atau canggung saat pertama kali berhadapan di dalam satu ruangan dengan Rangga. "Alice," jawab gadis itu tanpa sungkan.


"Hmm, baik aku ingin bertanya lagi denganmu, apakah kamu sebelumnya pernah memiliki kekasih?" tanya Rangga tegas.


Alice cukup bingung saat itu dengan hal tersebut, akan tetapi dia langsung menjawabnya karena tidak ingin membuat Rangga lama menunggu. "Tentu saja dulu pernah, beberapa kali, saya cukup populer di kalangan saya sendiri," balas Alice tanpa ada beban. Dia sepertinya malah bangga mengakui hal itu pada Rangga.

__ADS_1


Rangga lagi-lagi hanya diam. "Apa yang pernah kalian lakukan?" kata Rangga tanpa ekspresi.


Alice tertawa dengan renyah saat mendengar pertanyaan itu. Dia pun langsung membalasnya lagi. "Hahaha, ya kami pernah saling berhubungan dengan sangat dekat," balas Alice. Sambil menyentuh rambutnya dengan perlahan.


"Seberapa dekat, mungkinkah kalian pernah berada di dalam satu kamar seperti ini? Dan melakukan apa yang akan kita lakukan." Rangga menegaskan pertanyaannya lagi langsung pada titiknya.


Alice sebenarnya tidak tahu mengapa Rangga bertanya seperti itu langsung padanya. "Hm, hahaha, sepertinya ini adalah hal yang paling sensitif ya, tapi karena memang kita akan melakukannya juga, maka aku akan bicara, a...." Saat Alice baru membuka mulutnya, dia langsung dibuat terkejut dengan Rangga. Karena lelaki itu memotong perkataannya.


"Juga? Apakah kalian pernah melakukan itu sebelumnya? Hmm! Maksudku kamu sudah tidak virgin lagi," tambah Rangga yang semakin menegaskan. Bersama dengan tatapan tajam yang menyelami.


Alice agak terkejut melihat respon dari Rangga hal itu langsung membuat dia menjadi gugup. "Ehmm... Iya, ka--kami pernah melakukannya, tapi itu sudah lama sekali, apakah Anda keberatan?" balas Alice dengan perasaan resah.


Alice terkejut saat dia mendengar hal itu, kemudian Alice yang memang tidak berani menentang Rangga, langsung mengambil uang itu. "Ba--baiklah, Tuan! Saya akan, segera pergi dari sini," kata Alice dengan sangat patuh.


Hingga beberapa saat kemudian, setelah Alice keluar kamar, Rangga menghela napasnya cukup dalam, lalu berjalan keluar dan menuju kamar yang lain. Hingga sudah 3 kamar yang dia masuki Rangga meminta dua gadis lainnya juga ikut keluar, yaitu Miya dan Lisa, Rangga tidak habis pikir dengan hal tersebut. "Kini hanya tinggal dua orang saja, kan?" dalam benak Rangga yang merasa sedikit putus asa.


Rangga sebenarnya tidak ingin mendatangi kamar setelahnya lagi. Karena dia kira mereka sama seperti sebelumnya. "Ck! Apakah mereka akan sama seperti gadis sebelumnya? Haih, masuk saja terlebih dahulu," dalam benak Rangga lagi.


Dia tatap sebuah pintu besar yang begitu tenang. Di dalam sana Rania masih terlihat begitu cemas, dia tidak mampu mengontrol perasaannya yang takut. "Bagaimana ini? Aku jadi khawatir begini," dalam benak Rania yang sepertinya tidak siap.

__ADS_1


"Dia juga tidak datang, apakah aku sudah salah mengira, aku takut sekali, aku tidak siap sebenarnya," dalam benak Rania yang terlihat gelisah.


"Aku belum pernah melakukan ini, jangankan seperti ini, pacar saja aku tidak punya sebelumnya, tapi ini semua aku lakukan demi Ayah, aku harus kuat!" dalam benak Rania yang mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri.


Rangga yang masih berada di luar, langsung membuka pintu kamar dan melihat seorang gadis yang cantik dengan gaun merah. Dia terlihat sedang berdiri tegap membelakangi Rangga.


Rangga yang melihat pemandangan itu terlihat cukup bingung. Karena mengetahui gadis itu sepertinya begitu canggung. "Ehm!" Rangga mencoba untuk mengeluarkan suaranya. Untuk melihat bagaimana respon dari Rania.


Akan tetapi Rania tetap pada posisinya, dia saat itu sedang melamun, tubuhnya saja gemetaran. Rangga langsung berjalan untuk dapat mendekati Rania. "Apakah kamu tidak mendengarku?" kata Rangga dengan penasaran. Dia berdiri tegap di belakang tubuh Rania.


Rania langsung terkejut, dan membuyarkan lamunannya. Dia menajamkan sepasang matanya, dan segera memalingkan wajah. Setelah melihat wajah dari seorang lelaki yaitu Rangga, dia langsung berjalan mundur bahkan hampir saja jatuh. "Astaga!" Rania seperti melihat hantu, raut wajahnya begitu tegang.


"Ada apa dengan gadis ini? Mengapa dia aneh sekali, apakah ada yang salah denganku?" dalam benak Rangga yang bingung.


"Ha--halo," kata Rania yang memulai pembicaraan. Karena dia sudah bersikap buruk di hadapan Rangga saat itu di dalam pikirannya.


"Bodohnya aku, dia adalah lelaki itu kan," dalam benak Rania yang ketakutan.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2