
Rania segera memalingkan tubuhnya dan melangkahkan kaki jenjangnya untuk bisa memasuki sebuah cafe yang cukup besar. Rania melangkahkan kaki jenjangnya dengan begitu tenang. Hingga gadis itu berada di cafe itu. Rangga melihat Rania dari kejauhan, Erizal yang mengetahui hal tersebut segera bicara kepada Rangga. "Pak! Apakah kita bisa pergi sekarang?" tanya Erizal dengan tegas.
Mendengar hal tersebut, Rangga langsung tersadar, lelaki itu segera memalingkan wajahnya dan menatap dengan tegas diri Erizal yang duduk di kursi supir. "Ya, kita pergi sekarang juga, jangan sampai terlambat," balas Rangga dengan tegas.
Erizal yang mengerti, dia sedikit tersenyum dan menjalankan kendaraan roda empat itu. Rangga kembali diam dengan tenang.
Kembali pada diri Rania, gadis itu segera menghela napasnya cukup dalam dan panjang. Rania sangat tidak menyangka bahwa dirinya akan bertemu secara kebetulan dengan Rangga. "Lelaki itu sangat mengerikan," dalam benak Rania. Gadis itu segera merapikan barang untuk dia tata di atas meja, sambil mengelapnya menggunakan kain putih.
Rania mencoba untuk melupakan kejadian yang baru beberapa detik dia alami. Rania seolah tidak peduli akan hal tersebut. Tidak lama kemudian, muncul seorang gadis yang mendatangi Rania saat dia begitu sibuk sendiri. "Nona, cappucinonya satu ya," ucap gadis yang menggunakan seragam sekolah itu dengan tegas kepada Rania.
Sebelumnya dia sudah menekan bel, namun sepertinya Rania tidak mendengarnya. Hingga akhirnya Rania langsung dikejutkan oleh gadis itu. Dia tatap dengan tajam ke arah depan. "Astaga?!" kata Rani yang hampir saja melempar gelas.
"Cappuccinonya ada?" tanya gadis cantik itu dengan tatapan tegas.
"Oh, iya! Ada! Sebentar saya buatkan terlebih dahulu, silakan Anda menunggu di sini atau memesan kursi," balas Rania yang agak kelabakan sendiri.
"Saya tunggu di sini saja, mohon dibungkus ya, Kak," tambah gadis kecil itu. Yang ternyata menggunakan seragam sekolah SMA.
"Oh, baiklah, silakan tunggu sebentar ya." Rania segera bekerja membuat minuman untuk gadis itu.
"Ah! Mengapa aku malah memikirkan lelaki itu, sungguh aneh! Mungkin karena aku terlalu takut dengannya, lagipula dia terlihat bukan seperti orang baik sih!" dalam benak Rania yang menjatuhkan kesalahan kepada Rangga.
__ADS_1
Rania bekerja seperti biasanya, sampai beberapa jam kemudian, Rania mendapati suasana yang cukup sepi di dalam cafe. Rania duduk di atas kursi, kemudian gadis itu menatap tegas ke arah samping kirinya terlihat meja persegi yang terletak sebuah ponsel genggam milik Rania. Dengan perlahan benda itu bergetar dan layarnya juga berkedip memunculkan sinar yang cukup terang.
Ada seseorang yang menghubungi Rania saat itu, dia segera melihat dengan saksama siapa gerangan orang yang ingin bicara dengan dirinya. Wajah Rania langsung terlihat sepat, setelah membaca nama kontak pada ponsel genggamnya.
"Ternyata dari Bank, pasti ingin menangis hutang lagi," dalam benak Rania yang sebenarnya cukup muak.
Sebenarnya Rania enggan untuk mengangkat panggilan. Akan tetapi doa juga tidak boleh mengabaikan telepon itu. Karena dia akan jadi sangat khawatir jika anggota bank murka kepada Rania malah mendatangi dia dengan cara yang tidak baik.
Mau tidak mau Rania harus mengangkat panggilan itu. Rania menghela napas cukup dalam, kemudian Rania mengulurkan tangan kanannya dan mencoba untuk meraih benda pipih hitam tersebut.
Rania meletakkan ponsel di telinganya. "Halo," kata Rania dengan tegas.
"Hari ini harus sesuai dengan perjanjian Anda sendiri, Anda akan membayar hutang selama beberapa bulan yang telah di tunggak oleh Ayah Anda, di mana Anda sekarang ini? Jangan Coba-coba untuk beralasan denganku!" kata lelaki itu dengan suara yang besar dan lantang.
"Kurang ajar! Dia berani membentakku? Dia sungguh memiliki nyali yang luar biasa untuk melawanku, dasar anak gadis miskin yang tidak tahu diri," dalam benak lelaki itu. Yang memilih kemarahan dan sudah mendidih.
"Okay! Aku akan datang ke tempat kerjamu pukul 1 siang! Awas saja jika kamu tidak menepati janjimu sendiri!" tambah lelaki itu yang tidak kalah galak dari Rania.
"Ya!" begitu singkat Rania membalasnya. Dia melakukan itu karena sudah cukup kesal dengan lelaki itu yang selalu saja menggangu dirinya dengan mengirimkan pesan singkat mengenai penagihan hutang.
Rania tahu jika Ayahnya lah yang berhutang, tapi hal yang Rania tidak senangi adalah saat lelaki itu terus saja mengincar dirinya dan menggangu hidup Rania dengan ancaman yang selalu pria itu sampaikan kepada Rania.
__ADS_1
"Okay! Selamat pagi menjelang siang!" kata pria itu dengan tegas.
"Ya." Rania yang sedang tidak mood hanya membalasnya dengan seadanya saja.
Lelaki itu sudah semakin emosi kepada Rania, hingga pria itu pun langsung mematikan panggilan telepon dengan kasar dan tergesa. Rania hanya diam dengan tatapan yang tenang. Rania kembali meletakkan ponsel genggamnya di atas laci. Rania kembali bekerja dengan sangat fokus, dia tidak peduli mengenai pihak bank itu lagi.
**
Sementara itu di tempat lain, terlihat Olive yang sedang duduk dengan tenang di atas kursi mengguncang dress kuning, rambutnya yang diuraikan memanjangkan berwarna hitam pekat.
"Haaah, sarapannya roti lagi roti lagi, sungguh bosan rasanya saat tidak memilih seorang pelayanan rumah, ini semua karena Mamah Rangga yang begitu pelit, dia memintanya kami hanya tinggal berdua dan aku diminta untuk melayani Rangga, cih! Aku ini Nyonya, bukan pembantu!" dalam benak Olive yang terlihat tidak senang.
"Selama nenek lampir itu masih hidup, aku tidak memiliki kebebasan apapun, selain dia aku juga masih harus berhati-hati dengan Rangga, hais! Bisa-bisa aku jadi stress jika terus seperti ini, bagaimana jika aku pergi shopping dengan teman-temanku, pasti sangat asik, ya! Aku akan segera menghubungi mereka," kata Olive. Wanita itu segera mengeluarkan ponsel genggamnya yang berada di dalam saku baju kanannya.
Olive langsung melakukan panggilan telepon dengan seseorang. Olive bangkit dari duduknya dan membawa tas sepelempang yang ada di atas meja. Dia melangkahkan kaki jenjangnya untuk bisa meninggalkan rumah Rangga.
Saat Olive baru saja berada di bibir pintu rumah, dia mendengar suara pagar yang dibuka oleh seseorang. Olive yang curiga langsung mendekati jendela besar di sisi kiri. "Siapa itu?" tanya Olive di dalam hatinya sendiri.
Olive membuka hordeng coklat itu dengan perlahan, Olive langsung dikejutkan dengan apa yang dia lihat dengan sepasang mata kepalanya sendiri.
"Mamahnya Rangga! Gawat!" dalam benak Olive yang resah.
__ADS_1
BERSAMBUNG....