Selir Jadi Yang Pertama

Selir Jadi Yang Pertama
Makanan Rumah Saja


__ADS_3

Pria kru terus memohon agar dikembalikan lagi haknya oleh Rangga, akan tetapi saat itu Rangga terlihat tidak peduli sedikit saja dengan lelaki itu. Dia hanya diam tanpa melirik ke arah pria tersebut.


"Pak Rangga, saya mohon! Maafkan saya di sini, tolong jangan lakukan apapun kepada saya dan keluarga saya, tolong kembalikan hak kami, saya minta maaf atas apa yang telah saya lakukan kepada Anda, tapi saya tidak tahu lagi harus bagaimana kepada Anda, saya minta maaf, tolong jangan ambil perusahaan!" kata lelaki itu yang sangat memohon kepada Rangga.


Rangga tetap tidak peduli, sementara Rania hanya diam, dia sebenarnya merasa kasihan terhadap lelaki itu tapi dia juga tidak tahu harus berbuat apa dengan lelaki itu saat ini. Rania hanya bisa memalingkan wajahnya untuk dapat meninggalkan lelaki itu.


Rania lirik diri Rangga yang terlihat kejam dalam kekuatannya yang besar.


"Aku tidak boleh mengusik lelaki ini, dia bukan orang sembarangan, aku tidak bisa seenaknya dengan lelaki ini, Rania kamu harus waspada kepada dia," dalam benak Rania yang harus menjaga dirinya dari Rangga.


Rangga langsung menyalakan mesin mobil dan meninggalkan tempat parkir lelaki itu ingin mencegahnya tapi Rangga malah sengaja terus jalan bahkan tidak peduli jika lelaki itu sampai tertabrak. Hingga dia pun menyingkir dan Rangga meninggalkan tempat itu.


"Argghhh! Sialan! Beraninya dia tidak peduli padaku, aku benci padaku Rangga, aku mengutukmu dan hidupmu!" kata lelaki itu dengan perasaan murka.


Dia sangat tidak bisa sabar sekarang ini, pikirannya juga jadi sangat kacau sekarang ini. Dia tidak memiliki pilihan lain selain harus mendapatkan maaf dari Rangga.


"Bagaimana sekarang, aku tidak berani pulang ke rumah, aku takut sekali Kakek dan Ayah akan marah besar padaku!" dalam benak lelaki itu yang ketakutan sendiri jika sampai bertemu dengan orang tuanya sendiri.


"Ini semua karena Rangga, awas kamu!" kata lelaki itu lagi dengan kesal.


**


Sementara itu di dalam mobil terlihat Rania yang hanya diam dengan Rangga, hubungan mereka di dalam tempat itu menjadi sangat canggung.

__ADS_1


Rangga yang sebelumnya mengajak Rania makan malam jadi merasa bersalah karena tidak jadi melangsungkan apa yang sebelumnya dia janjikan kepada Rania.


"Bagaimana jika kita mencari restoran lain saja? Mungkin agak jauh apakah tidak masalah?" tanya Rangga dengan penasaran kepada Rania.


Mendengar hal tersebut, Rania segera memalingkan wajahnya dan menatap diri Rangga, dia awalnya cukup gugup dan takut untuk bicara. Tapi dia sekarang ini memiliki kesempatan untuk memberikan penolakan untuk ajakan Rangga dengan cara yang lebih halus.


Rania menghela napasnya cukup dalam, dia berusaha untuk tetap tenang pada saat itu. "Bagaimana jika kita masak di rumah saja? Saya yang akan membuatkannya untuk Anda? Saya khawatir kejadian seperti ini akan terjadi lagi di tempat lain, dan itu dapat membuat perasaan Anda jadi semakin tidak nyaman, tempat belanja tidak jauh kok dari sini, saya akan memasak makanan yang mudah untuk dibuat, bagaimana kalau sup?" balas Rania sambil memberikan sarana kepada Rangga.


Mendengar hal tersebut Rangga juga khawatir jika Rania jadi ketakutan karena masalah itu, dia jadi mulai menghargai Rania saat itu.


"Ayolah, aku tidak ingin juga banyak orang yang akan semakin tahu tentang aku dan dia, aku berjaga-jaga untuk tidak terlihat lagi, semuanya sudah cukup untuk malam ini," dalam benak Rania yang masih menunggu keputusan dari Rangga.


Rangga langsung menghela napasnya cukup dalam, lelaki itu segera menganggukkan kepalanya dan bicara kepada Rania. "Baiklah, aku akan mendengarkan kamu," balas Rangga yang tiba-tiba patuh.


"Baik, nanti di depan sana kita berhenti saja ya, Pak!" ucap Rania yang mencoba untuk tetap tenang.


Mendengar hal tersebut Rangga kembali menganggukkan kepalanya. Tidak lama kemudian Rangga pun menemukan tempat parkir yang cukup luas, Rangga menghentikan laju mobilnya.


Rania yang kembali canggung karena ternyata di tempat itu masih banyak pelanggan yang datang. Dia pun kembali bicara kepada Rangga. "Pak, bagaimana jika Anda menunggu di sini, biarkan saya yang memilihmu sendiri, Anda ingin saya masak apa katakan saja, saya hanya khawatir jika Anda kelelahan nantinya saat saya mencari barang," ucap Rania yang sebenarnya menyembunyikan maksud aslinya kepada Rangga.


"Apa maksudmu? Aku tentu saja ikut ke dalam, aku ingin memilih barangku sendiri kok, kenapa? Ada masalah?" tanya Rangga dengan tegas kepada Rania.


Rania tersenyum kaku dihadapan Rangga.

__ADS_1


"Hahaha, tidak kok Pak!" balas Rania mencoba tenang.


"Ya jelas masalah lah, bagaimana sih! Dia adalah seorang pria yang sudah memiliki Istri dan kini malah jalan dengan wanita lain, terlebih dia adalah CEao yang paling terkenal, gawat!" dalam benak Rania yang merasa terbebani sendiri.


"Ya kalau tidak ada masalah saya ingin keluar juga, cepat ah! Saya sudah lapar," kata Rangga dengan tegas kepada Rania.


"Ba-baik, Pak," balas Rania gugup.


Tidak lama kemudian mereka pun segera keluar dari dalam mobil mewah, Rania banyak menundukkan kepalanya karena dia merasa sangat malu saat itu.


Dia memiliki banyak pikiran dalam dirinya sendiri, Rania hanya menghela napas dan berharap tidak ada satu orangpun yang mengenal dirinya.


"Ayo!" kata Rangga yang langsung melangkahkan kaki jenjangnya dan pergi masuk ke dalam tempat perbelanjaan.


Rania hanya ikut saja sambil jalan terburu di belakang tubuh Rangga. Mereka masuk ke dalam tempat tersebut banyak orang yang memang berada di sana. Rania hanya diam saja. Karena malu, banyak pasang mata yang memang melihat diri Rangga terus menerus. Membuat Rania menjadi tidak nyaman karena tidak secara langsung mereka juga melihat ke arah dirinya.


Rania hanya diam saja mengikuti Rangga, tidak lama kemudian Rangga mendadak menghentikan langkah kakinya. Pria itu berdiri tegap di samping tempat daging. Rania yang tidak fokus pada jalan karena hanya tahu menunduk saja jadi malah menabrakkan diri dengan kuat pada tubuh Rangga.


"Aduh! Awww!" ucap Rania yang terkejut, dia segera berjalan mundur ke belakang. Sambil menyentuh hidungnya yang terasa sakit.


Rangga segera memalingkan wajahnya dan menatap diri Rania, begitu juga dengan beberapa pengunjung yang turut berada di dalam tempat tersebut. Mereka hanya diam menatap wajah Rania yang terlihat aneh.


"Kamu kenapa?" tanya Rangga bingung sendiri.

__ADS_1


Rania jadi semakin malu karena orang melihat ke arahnya dengan tatapan dingin. "Tidak," jawab Rania gugup.


__ADS_2