
Mendengar hal itu, membuat Rangga jadi agak kesal sebenarnya, namun dia, tidak ingin menunjukkannya dengan jelas. Rangga hanya menghela napasnya dalam-dalam.
"Biarkan saja, Mah, aku sudah tidak peduli lagi, sekarang aku akan fokus dengan apa yang Mamah inginkan, aku telah mendapatkan gadis yang pastinya akan mengandung anakku, semoga saja semuanya dilancarkan," balas Rangga dengan tegas. Dia seolah tidak peduli lagi dengan hubungannya dengan Olive.
Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Mamah Rangga hanya bisa terdiam, semua yang dia lakukan juga sebenarnya demi anak lelaki itu. "Baiklah, Mamah akan mendengarkan kamu, Mamah juga minta maaf karena terkesan terlalu memaksa kamu," sambut Mamah Rangga yang merasa tidak enak hati.
"Tidak masalah, Mah! Jangan khawatir, jika itu yang terbaik untuk semuanya, aku sekarang akan mendengarkanmu, Mah," balas Rangga dengan tegas.
"Karena dulu saat aku memilih untuk mengambil jalanku sendiri, aku malah tersesat dan jatuh begitu dalam, hingga aku menjadi sepeda ini," dalam benak Rangga yang sudah menyesalinya.
Akan tetapi dia tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi dengan Olive, Rangga juga tidak ingin kembali jatuh cinta dengan gadis manapun. Pemikirannya tentang wanita sudah buruk semenjak Olive merusak hatinya yang dulu tulus mencinta wanita itu.
"Maaf Rangga, aku melakukan ini semua sebenarnya demi kamu, Mamah tidak ingin kamu terus menderita karena sikap dari Olive, Mamah sangat memedulikan kamu, Nak! Semoga kamu lekas sadar dan dapat melepaskan Olive yang sebenarnya bukan gadis baik, yaaaah... Dia hanya tahu bagaimana caranya menghamburkan uang, sementara tidak tahu cara membahagiakan suaminya sendiri!" dalam benak Mamah Rangga yang sebenarnya sudah muak dengan Olive.
"Bukankah kamu harus pergi ke kantor pagi ini?" tanya Mamah Rangga dengan penasaran.
"Iya, Mah, aku akan berangkat, apakah Mamah sudah sarapan?" balas Rangga. Yang bertanya kepada Mamahnya balik.
"Sebentar lagi Mamah akan sarapan, kalau begitu kamu cepatlah berangkat bekerja, jangan sampai terlambat," tambah Mamah Rangga tegas. "Oh, ya! Jangan lupa sarapan, jangan lupa minimal air putih yang banyak, dan jangan lupa membawa vitamin," lanjut Mamah Rangga memberitahukan kepada anak semata wayangnya itu.
"Iya, Mah, aku pasti akan melaksanakan apa yang Mamah katakan, kalau begitu Rangga tutup dulu telponnya, selamat pagi, Mah, dada, i love you, Mah." Rangga mengucapkan kata-kata yang manis kepada Mamahnya. Bersikap seperti biasanya.
__ADS_1
"I love you too, Sayangnya Mamah, hati-hati di jalan." Mamah Rangga langsung mematikan telepon dan meletakkan ponsel itu di samping kanannya tepat di atas meja.
Mamah Rangga terlihat sangat mengkhawatirkan Rangga yang saat ini sudah tumbuh dewasa, namun begitu banyak hal rumit yang mendatangi anak lelaki itu untuk dia harus selesaikan setiap masalah yang ada.
"Oh, Rangga... Maafkan, Mamah," dalam benak Mamah Rangga yang merasa bersalah.
**
Kembali pada diri Rangga, lelaki itu segera berjalan meninggalkan ruangan, dia keluar menuju mobil hitam yang sudah disiapkan oleh Asisten Rangga yaitu Erizal.
Rangga menatap dengan tegas dan tajam kendaraan roda empat yang berada di hadapannya, setelah dia menuruni anak tangga, Erizal yang berada di samping kanan mobil hitam, langsung membukakan pintu mobil penumpang. "Silakan, Pak!" kata Erizal dengan tegas.
Rangga segera masuk ke dalam, dan duduk dengan tenang di sana. Rangga terlihat tidak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya sendiri. Erizal tidak bertanya apapun kepada Rangga, dia sepertinya sudah cukup tahu mengenai masalah yang dihadapi oleh Rangga.
Mendengar hal tersebut, Erizal cukup terkejut. Namun dia segera memberikan balasan untuk Rangga. "Oh, baik, Pak! Jika salah satu dari gadis itu hamil, apakah Bapak yakin ingin menikahi mereka secara resmi?" tanya Erizal penasaran.
Rangga tidak langsung memberikan jawabannya kepada Erizal. "Hmm, mungkin saja, agar Olive tahu, aku tidak main-main dengan ucapanku sendiri!" balas Rangga dengan tenang.
Erizal langsung menganggukkan kepalanya karena dia cukup mengerti. "Nyonya Olive lagi, ternyata di hati Bapak Rangga, masih ada wanita itu, meskipun dia tahu sendiri dan orang rumah pun melihatnya dengan jelas bagaimana perlakuan dari Nyonya Olive terhadap Bapak Rangga, mereka seperti dia orang yang tidak bisa disatukan lagi, semua ini juga karena ego dari Nyonya Olive! Yaaaah... Mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, semoga Bapak Rangga cepat atau lambat dapat menemukan jodoh terbaik untuk dirinya," dalam benak Erizal. Yang sepertinya turut mendukung Rangga untuk meninggalkan Olive.
Bukan karena tanpa alasan, namun Erizal hanya tidak ingin melihat Rangga yang semakin menderita karena kelakuan dari Olive.
__ADS_1
**
Sementara itu di jalan yang cukup besar, banyak kendaraan lalu lalang, terlihat Rania yang saat itu menggunakan pakaian sederhana, dia berdiri tegap di halte, sepertinya sedang menunggu kendaraan umum yang datang untuk menjemputnya.
Rania harus bekerja saat itu, dia kemarin malam menginap di rumah sakit, beberapa pakaiannya ada di ruangan Ayahnya. "Hmm, cukup padat ya hari ini," dalam benak Rania yang beberapa kali terlihat menatap ke arah jalan dan menatap ponsel genggamnya untuk melihat jam.
"Semoga saja tidak terlambat," dalam benak Rania lagi yang berharap.
Tidak lama kemudian terlihat Erizal yang begitu santai dalam berkendara langsung teringat dengan rumah sakit tempat di mana dia memberhentikan Rania di sana. "Eh, tunggu, bukankah itu adalah Nona Rania?" kata Erizal di dalam hati. Lelaki itu memastikannya lagi dengan sangat teliti.
Hingga dia pun langsung mengerti. "Ah! Benar, itu adalah Nona Rania, apakah dia hendak berangkat kerja?" dalam benak Erizal lagi yang penasaran. "Bagaimana jika aku bicara kepada Bapak Rangga." Kembali Erizal berpikir dalam diri.
"Pak, di dekat halte itu saya melihat Nona Rania," kata Erizal dengan tegas.
Rangga yang mendengar hal tersebut, pria itu terlihat cukup bingung. "Hah? Mengapa dia bisa ada di sini?" tanya Rangga penasaran.
"Itu... Karena kemarin malam saya mengantarkan Nona Rania ke rumah sakit ini, mungkin dia sekarang akan berangkat bekerja," balas Erizal dengan tenang. Sambil memperlambat kecepatan.
Rangga terdiam dengan tatapan dingin, dia melihat diri Rania dari kejauhan. "Apakah ada seseorang yang sedang sakit, lalu dia yang menjaganya?" dalam benak Rangga penasaran.
"Memang dia bekerja di mana? Dan siapa orang yang sedang sakit?" tanya Rangga lagi.
__ADS_1
"Cafe makanan dan minuman, kalau untuk itu saya tidak tahu, karena saya sendiri juga lupa untuk bertanya, apakah kita akan memberikan Nona Rania tumpangan, saya cukup kasihan melihatnya," tambah Erizal tegas.
BERSAMBUNG.....