Selir Jadi Yang Pertama

Selir Jadi Yang Pertama
Kesombongan Olive


__ADS_3

"Iya, dia yang memohon sendiri padaku, dia bilang membutuhkan uang, awalnya aku tidak ingin tapi dia memaksa, Aku tentu saja tidak bisa berbuat banyak dengan gadis keras kepala, semua wanita memiliki kepala yang keras, dengan hati yang rapuh," kata Rangga tegas.


Erizal terdiam saat dia mendengar perkataan dari Rangga. "Tapi tadi saya melihat Nona Jasmine dibully oleh para OB senior," tambah Erizal dengan perasaan iba.


"Biarkan saja, itu kan sudah menjadi keputusannya sendiri, untuk apa kamu khawatir? Aku malas menghadapi gadis keras kepala yang susah untuk diatur, dia dan Rania sama saja," kata Rangga dengan lugas. Lelaki itu sepertinya memang sudah memiliki pandangan tersendiri terhadap seorang wanita.


Erizal tidak berani untuk bicara lagi saat dia mendengar perkataan dari Rangga, lelaki itu hanya bisa menerimanya tanpa ingin memberikan bantahan apapun, dia seolah telah menyadari bagaimana kondisi dari Rangga saat ini.


Erizal cukup merasa bersalah ketika sebelumnya mengatakan itu kepada Rangga. "Jika sudah tidak ada hal yang ingin Bapak katakan kepada saya, kalau begitu saya mohon pamit ya," ucap Erizal yang memilih untuk menyingkir saja.


Rangga hanya diam dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Lelaki itu mungkin sudah lelah dengan segala tuntutan yang ada.


"Iya," jawab Rangga dengan tegas.


Erizal segera memalingkan tubuh dan melangkahkan kaki jenjangnya untuk bisa meninggalkan Rangga seorang diri di dalam ruangan kerjanya.


**


Sementara itu di dalam rumah Rangga terlihat Olive yang sedang bersiap untuk pergi ke suatu tempat, wanita itu menggunakan pakaian yang begitu mewah dan cantik. Olive memasuki mobil yang telah parkir di halaman depan rumahnya.


Wanita itu terlihat sangat senang meskipun tahu Rangga tidak pulang menemui dirinya.


Saat Olive sedang mengendari mobil mewah miliknya wanita itu mendapatkan panggilan telepon dari seseorang. "Halo." Segera Olive mengangkat ponsel genggamnya. Dia berbicara dengan seseorang di sana.


"Hah? Ke mana? Cafe, okay lah, memang tempat itu bagus? Tapi okay Aku sih nurut saja," balas Olive yang sedang berbicara dengan temannya itu.

__ADS_1


Tidak lama kemudian panggilan pun berakhir, wanita itu segera menjalankan mobil dan meninggalkan rumah dia menuju tempat yang ingin di jamah oleh dia dan teman-temannya.


Kembali pada diri Rania gadis itu terlihat sangat sibuk bekerja, dia melayani banyak pengunjung, Rania begitu ramah tamah di hadapan banyak orang. Saat itu di cafe tempat Rania bekerja, memang ada menu baru yang sangat digemari oleh pembeli. Bahkan menjadi obrolan hangat bagi kalangan muda. Dengan harga yang terjangkau, di cafe Rania juga menyediakan band yang cukup di kenal, karena Owner deri cafe itu memiliki hubungan baik dengan salah satu artis besar. Setelah gelap terbitlah terang.


Rania bersyukur karena hal itu. Sehingga cafe tidak terlalu sepi, dan Rania mengira bahwa dia akan mendapatkan gaji yang lumayan besar kali ini.


"Syukur ya, Lit, banyak orang yang datang," ucap Rania dengan tegas. Sambil menatap wajah Lita.


Lita tersenyum dengan manis. "Oh iya, bagaimana dengan lenganmu? Apakah sudah baik-baik saja?" tanya Lita penasaran.


Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Rania langsung memberikan senyum terbaik miliknya. "Sudah tidak apa kok, tenang!" kata Rania yang begitu ringan.


Lita hanya menganggukkan kepala. Mencolok untuk percaya dengan Rania. Dia juga saat itu sedang cukup sibuk untuk menyiapkan hidangan.


Rania menundukkan kepalanya dan dia terlihat sebenarnya sedang kesakitan, namun gadis itu menahannya dengan kuat. "Ini sebenarnya perih lho, tubuhku seperti dicabik-cabik oleh binatang buas," dalam benak Rania yang terlihat sedang menahan diri.


Saat Rania sedang sangat sibuk-sibuknya melayani pembeli, dari arah luar, parkiran pengunjung terlihat mobil yang begitu mewah dan mahal sekali. Semua orang yang melihat hal itu segera memalingkan wajah mereka dan meninggalkan fokus pada makanan, pandangan yang dalam mereka jatuhkan bersama.


"Waaah, mobilnya bagus sekali, pasti mahal, pasti itu orang kaya, wah!" kata sebagian orang yang sangat takjub.


Rania yang ikut memalingkan wajah karena dia penasaran, dia tatap dengan tegas ke arah tempat parkir, Rania memang mendapati mobil yang terlihat mahal, tapi itu sepertinya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan milik Mamah Rangga dan Rangga sendiri.


"Wah, bagus mobilnya," kata Rania di dalam hati.


"Wih, kayaknya kita kedatangan artis deh, Ran!" kata Lita yang ikut kagum.

__ADS_1


"Hah artis?" kata Rania yang tidak percaya.


"Iya!" balas Lita sudah sangat tidak sabaran.


Rania tetap menganggukkan kepalanya, dia terlihat biasa saja karena yang dia rasakan saat itu ketidaknyamanan pada tubuhnya sendiri.


Di tempat parkir, terlihat Olive yang sedang berdiri tegap melihat pemandangan dari cafe itu. "Ini tempat yang kamu maksud? Memang benar-benar enak makanan di sini? Higienis tidak?" kata Olive meragukan.


"Enak kok, bersih juga tempatnya, sudah yuk masuk saja, lihat deh banyak orang yang melihat ke arah kita, lho! Pasti karena Olive nih, hahaha!" kata beberapa teman Olive yang saat itu melirik wajah Olive dengan tersenyum.


Mendengar hal tersebut Olive pun menjadi sangat bangga dengan dirinya sendiri. Wanita itu sudah seperti orang yang paling hebat di tempat itu.


"Hahah, untung Aku datang kemari, Aku bisa menunjukkan kepada mereka semua aku adalah orang yang kaya dan hebat!" dalam benak Olive bangga.


"Ya sudah, masuk saja yuk, kalian biar Aku yang traktir," kata Olive dengan tampang yang sombong.


"Wihh, benar kan? Okay lah! Siapa takut," balas teman Olive dengan senang hati.


Olive membuka pintu cafe, saat itu semua orang melihat ke arah Olive tapi tidak dengan Rania, karena dia masih merasa tidak nyaman, dan juga sibuk bekerja karena banyak pesanan. Saat Olive berdiri di dalam sana dia hanya diam dengan angkuh. Tapi tatapannya mendadak tidak senang karena Rania yang seperti tidak menggubris dirinya.


"Cih! Pelayan rendahan, sok tidak melihat ke arahku ya, biar aku tunjukkan siapa diriku padamu, kamu akan terpukau saat mengetahuinya," dalam benak Olive yang langsung sombong.


Tatapan tertuju kepada Olive, sementara wanita itu mendatangi Rania. "Halo! Aku ingin memesan makanan paling enak dan mahal di sini," kata Olive dengan tatapan tegas di hadapan Rania.


Padahal saat itu Rania sibuk meracik kopi dalam gelas, tapi Olive seperti tidak peduli. "Oh ya, Anda dapat menunggunya. Ada beberapa menu terbaik di tempat kami, rekan saya yang akan menyampaikannya," kata Rania. Gadis itu kembali menundukkan kepalanya dan sibuk menghidangkan makanan.

__ADS_1


Olive tentu saja tidak senang dengan perlakuan Rania. "Kurang ajar!" dalam benak Olive tidak terima.


__ADS_2