
Rangga langsung tersenyum dengan begitu sinis terhadap lelaki itu dengan raut wajahnya yang sangat mengerikan. Rangga langsung menekan pergelangan tangan dari lelaki itu dengan semakin kuat.
"Hm, apakah kamu sedang merendahkan aku di sini?" tanya Rangga dengan tegas kepada pria itu.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Rangga tentu saja membuat lelaki itu merasa cukup membenarkan pertanyaan Rangga dan ucapannya sebelum itu. "Iya! Kamu sungguh rendahan!" dalam benak pria itu yang terlihat sangat tidak senang kepada Rangga.
"Hahah bagaimana mungkin? Saya hanya ingin membuat Anda sadar saja, bahwa jangan sampai terpengaruh dengan seorang gadis yang terlihat lugu, lagipula dia juga bukan gadis yang memiliki latar belakang yang jelas, saya khawatir Anda akan dimanfaatkan oleh dia, tidak mungkin juga kan Anda berselingkuh dengan seorang gadis seperti ini, Olive lebih baik darinya, dan Anda sangat layak bersama dengan dia!" tambah lelaki itu dengan tegas. Dia sebenarnya sangat ingin melepaskan tangannya yang sudah terlalu sakit digenggam oleh Rangga.
"Ah! Sialan, kapan dia akan melepaskan pergelangan tanganku ini?" dalam benak lelaki itu yang merasa sangat tidak nyaman.
Akan tetapi lelaki itu masih mencoba untuk tetap biasa saja dihadapan Rangga. Dia tetap berusaha untuk tenang dan membantu Rangga yang dia kira pikirannya telah tertutup oleh Rania.
"Seharusnya kamu itu berterima kasih padaku, dasar lelaki dajjal!" dalam benak dia yang semakin tidak senang saja.
"Mulutmu begitu lincah dalam bicara, sepertinya kamu dapat melakukan banyak hal dengan benda itu, jadi apakah kamu saat ini sedang mengomentari kehidupanku? Mengapa tidak menjadi paparazi atau reporter saja? Kamu memiliki kemampuan seperti itu dengan begitu baik," balas Rangga dengan tegas.
__ADS_1
"Hahaha Terima kasih atas pujiannya, namun saya tidak tertarik dengan pekerjaan itu, saya adalah seorang anak dari direktur utama sepertinya tidak cocok jika menjalani pekerjaan rendah yang begitu," balas dia dengan sangat angkuh.
"Oh iya tidak bisakah Anda melepaskan pergelangan tangan saya? Saya tidak akan memukul orang, jika Anda merasa kasihan dengan gadis ini, wah! Sangat senang ya dapat dibantu dan dilindungi oleh lelaki kaya yang hebat seperti Anda CEO Rangga!" terus lelaki itu dengan tatapan yang tajam penuh makna.
Rangga hanya diam dengan tatapan yang dingin dia seolah tidak peduli akan hal tersebut.
"Begitu ya? Tapi mengapa mulutmu sangat kotor apakah baru saja memakan bangkai? Bukan urusanmu mengapa aku melindungi seseorang, karena sudah menjadi kewajibanku untuk berdiri di samping orang yang datang bersamaku! Jika kamu tidak mengetahui segala hal mengenai kami sebaiknya kamu diam, atau kamu tidak akan tahu lagi bagaimana harus berdiri dengan cara yang benar, makan dengan benar, berjalan dengan benar, dan hidup dengan benar!" Rangga sepertinya sedang meluncurkan sebuah peringatan untuk tidak macam-macam pada dirinya.
Lelaki itu melepaskan genggaman tangan dengan cepat. Tanpa mengubah tatapan yang sebelumnya lelaki itu berikan kepadanya.
"Oh benarkah? Pertama kamu sudah mengambil gambarku secara diam-diam, itu adalah pelanggaran aku dapat menuntutmu, kedua kamu juga sudah menganggu ketenangan kami, aku bisa juga mengutus pengacara untuk memanggilmu, aku adalah seorang CEO besar, banyak orang yang mengenalku, ranahku luas, paparazi juga tidak mungkin ketinggalan untuk mengambil foto secara diam-diam. Sekarang kamu malah berdebat denganku? Aku bisa melakukan apapun lho! Jangan salah, di sini akulah yang berkuasa, aku dapat membuat kamu miskin sekarang juga! Berhati-hati denganku, jaga ucapan dan tingkah lakumu padaku, jika aku tidak menyukai seseorang maka bukan hal yang susah bagiku untuk menyingkirkan dia dari dunia ini," balas Rangga dengan sangat mengerikan dari ucapannya yang terdengar pasti dan jelas. Itu bukan hanya sekedar ancaman tapi seolah otoriternya sangat kuat di dalam tempat itu.
Rania yang mendengar ucapan Rangga yang sangat berbahaya tentu saja membuat gadis itu merasa khawatir dalam sekejap. Dia jadi terus kepikiran akan apa yang disampaikan oleh Rangga dihadapan banyak orang.
Dalam hitungan detik semua orang langsung terdiam, kondisi di dalam restoran pun jadi senyap. Rania tidak mendengar lagi suara-suara sebelumnya yang cukup ramai. Mereka langsung menundukkan kepala dan seperti sedang bercermin dan introspeksi diri lagi.
__ADS_1
"Ah, aku bodoh sekali, mengapa aku ikut menggunjingkan gadis itu, aku sangat tidak menyangka Pak Rangga ternyata sangat peduli dengan gadis tidak jelas tersebut, dia adalah orang yang hebat, aku jadi gugup akan ucapannya itu!" dalam benak beberapa orang yang langsung terlihat resah.
Sebenarnya pria itu juga ketakutan dai malah sangat tidak menyangka bahwa Rangga dapat melindungi Rania sampai seperti itu, tapi dia juga merasa tidak boleh menjatuhkan harga dirinya dihadapan banyak orang hanya karena Rangga.
"Aduh Tuan, mengapa Anda bicara seperti itu? Apakah Anda mengira bahwa orang yang paling berkuasa saat ini adalah diri Anda sendiri? Hei jangan terlalu percaya diri, di sini banyak orang yang lebih kaya daripada Anda, CEO besar itu ada di mana-mana bukan hanya Anda, jangan merasa sok dan menutup mata juga telinga, nanti Anda akan jatuh dan malu sendiri!" ucap lelaki itu dengan tatapan tajam dan berusaha untuk tetap tenang.
Dia masih mengira bahwa orang yang berkuasa itu bukan hanya Rangga di kota itu.
Mendengar perkataan dari lelaki itu semua orang jadi merasa semakin tertekan. "Dasar bodoh, apakah dia tidak tahu jika Ayahnya dan Pak Rangga melakukan kerjasama, dan Pak Rangga yang sudah menurunkan banyak donasi kepada perusahaan Ayahnya, dengan sangat mudah Pak Rangga menjatuhkan keluarga mereka, sungguh bodoh sekali anak ini!" gumam seseorang dengan suara yang lebih pelan. Karena dia pun juga merasa khawatir jika Rangga mendengarnya.
"Oh, begitu ya? Aku beritahu kamu, tidak lama lagi Tuan Robert akan menghubungi kamu dan menyatakan kemundurannya dalam bisnis perusahaan, syukur-syukur tidak stroke! Sungguh disayangkan, dia memiliki putra seperti ini," kata Rangga dengan tegas.
Dia langsung menelpon seseorang dan berbicara dengan dia.
"Erizal, tolong cabut dana bantuan yang kita berikan kepada perusahaan Qwenik sekarang juga! Aku tidak ingin melihat perusahaan itu lagi di kota ini! Batalkan kerjasama kita, dan tarik suratnya, mereka masih berhutang 70% kepada perusahaan kita kan? Sita semua asetnya!" ucap Rangga dengan sangat mengerikan di dalam saluran telepon.
__ADS_1
Erizal yang mendengar hal tersebut merasa sangat bingung sebelumnya.