Selir Jadi Yang Pertama

Selir Jadi Yang Pertama
Penasaran


__ADS_3

Erizal terdiam dengan tatapan dingin dan tajam di hadapan Olive. Lelaki itu terlihat sangat tenang meskipun Olive menuduhnya yang bukan-bukan.


"Dia diam saja? Apakah dia memang benar-benar melakukan kesalahan hari ini? Bagus! Aku bisa memanfaatkannya, aku dapat menekannya sekarang," dalam benak Olive yang langsung merasa bangga.


Olive mengira bahwa apa yang dia ucapkan benar adanya, dan kini Olive hendak bicara lagi mengenai sesuatu yang tidak baik dan tidak sesuai mengenai Erizal. "Jadi benar kan? Kamu sudah melakukan hal tidak baik, kamu mengabaikan pekerjaanmu sendiri? Aku akan menghubungi Rangga dan aku akan minta dia untuk segera menghukummu di sini, jangan salahkan aku jika sebentar lagi kamu akan mendapatkan masalah dari Rangga, hahahah!" kata Olive dengan tatapan tegas. Dia pun segera mengambil ponsel genggam yang berada di dalam tasnya yang mewah.


Akan tetapi saat itu terlihat Erizal yang tidak bergeming. Dia sangat tenang dan terus saja melihat diri Olive dengan tatapan seperti sebelumnya.


"Aku akan segera menelponnya, lho! Kamu tidak takut?" tanya Olive yang terlihat sangat senang.


Dia sebenarnya hanya ingin memancing Erizal agar dapat tunduk padanya. "Oh, ayolah! Mengapa dia tidak menunjukkan ekspresi apapun? Padahal kan aku sudah sampai seperti ini?" dalam benak Olive yang merasa bingung sendiri. Dia juga agak resah saat mendapati Erizal yang terlihat tidak memiliki ekspresi apapun saat itu.


Olive terdiam sejenak karena merasa tidak mengerti mengenai situasi tersebut. "Aku akan benar-benar melakukannya lho, Zal! Kamu tidak khawatir mengenai apa yang akan terjadi setelah itu! Hmm...!" Olive kembali bicara dengan sangat angkuh, dia mencoba untuk menjaga citranya agar tidak luntur dihadapan Erizal.


Semua orang yang mendengar perkataan dari Olive langsung terdiam dengan perasaan yang membingungkan. Mereka memiliki pandangan yang banyak saat melihat Erizal di dalam tempat itu. "Masa sih Tuan Erizal sampai bolos bekerja? Bukankah dia adalah pria yang gila kerja dan sangat patuh dengan Pak Rangga?" bisik beberapa orang dengan perasaan tidak menyangka.


Mereka masih menerka sendiri, mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Begitu juga dengan diri Rania, dia sangat tidak bisa percaya jika Erizal melakukan pelanggaran dalam pekerjaannya, entah mengapa gadis itu malah lebih mempercayai Erizal dibandingkan dengan apa yang diucapkan oleh Olive.


"Erizal! Aku ini sedang bicara denganmu?! Mengapa kamu hanya diam saja seperti orang bisu begitu!" kata Olive dengan ucapannya yang pedas.

__ADS_1


Erizal langsung menganggukkan kepalanya, dia pun langsung membuka suaranya lagi untuk bisa menanggapi apa yang sebelumnya ditanyakan oleh Olive kepada dirinya.


"Untuk apa saya takut jika memang saya tidak melakukan kesalahan apapun, jika memang Anda ingin menghubungi Pak Rangga silakan saja, dan bicara langsung kepada beliau, sedang apa saya di sini, dan mengapa saya bisa tidak ada di dalam kantor saat ini, silakan saja, nanti Pak Rangga akan memberikan jawaban apapun itu akan saya terima," balas Erizal dengan tegas dan benar-benar tidak merasa takut sedikitpun.


Hal itulah yang malah semakin membuat Olive jadi kebingungan sendiri. Dia merasa khawatir saat itu dengan balasan yang diberikan oleh Erizal.


"Gawat! Apa jangan-jangan aku sudah salah paham? Dia bicara seperti itu seolah ingin menunjukkan padaku siapa dia dan aku, dia ingin memperlakukan aku secara langsung kan!" dalam benak Olive yang ketakutan sendiri.


"Nona Olive, mengapa tidak segera melakukannya? Saya sudah menerimanya dengan baik, jika Anda ragu dan khawatir misal saya melakukan kesalahan yang tidak diketahui oleh Pak Rangga mohon Anda bicara langsung dengan beliau, saya tidak mempermasalahkannya, kok!" ucap Erizal yang malah tersenyum dengan sangat manis.


Melihat situasi yang seperti itu tentu saja membuat semua orang jadi merasa senang namun juga bingung dengan apa yang Erizal ucapkan. "Apa mungkin Tuan Erizal tidak bersalah ya? Hmm... Aku jadi semakin yakin dia adalah pria yang memiliki dedikasi tinggi mengenai pekerjaannya sendiri, Tuan Erizal pasti tidak bersalah!" dalam benak beberapa wanita yang ada di dalam cafe, mereka sangat mempercayai Erizal.


Karena melihat Olive yang diam dan kaku saat itu, tentu saja membuat Erizal kembali bicara. "Mengapa diam saja? Lakukan saja apa yang ingin Anda katakan kepada Pak Rangga." Erizal malah balik menantang Olive untuk melakukan apa yang sebelumnya diinginkan oleh Olive.


Akan tetapi saat itu juga Olive langsung merasa semakin khawatir, ditambah banyak orang yang sepertinya sedang menunggu dirinya.


"Kurang ajar, kurang ajar, kurang ajar!" dalam benak Olive tidak senang.


"Bagaimana ini? Aku takut sekali jika Rangga akan marah padaku mengenai masalah ini jika aku menelpon dia, dan jika apa yang aku tuduhkan tidak benar maka matilah aku!" dalam benak Olive lagi yang merasa ketakutan.

__ADS_1


Melihat Olive yang jadi diam saat itu tentu saja membuat banyak pelanggan di dalam cafe yang kebingungan, mengapa Olive tidak segera melakukannya? Itu yang menjadi pertanyaan di dalam benak mereka semua.


Tatapan dingin dan tegang ditunjukkan oleh banyak orang, sementara Rania hanya diam dan mencoba untuk melihat situasinya lagi.


"Nona Olive! Anda tidak apa kan? Mengapa diam saja?" tanya Erizal dengan tatapan dingin dan tegas.


Olive langsung tersadar saat wanita itu di senggol oleh temannya sendiri. Karena temannya pun merasa bahwa sikap Olive jadi sangat aneh dan tidak seperti biasanya.


"Olive, katakan sesuatu!" kata salah seorang teman perempuan Olive yang jadi ditekan oleh banyak orang.


Olive memalingkan wajahnya dan melihat diri temannya sendiri, dia pun langsung gugup saat itu juga, tapi tidak mungkin kan Olive langsung menyerah begitu saja dia pasti sangat malu.


"Okay aku akan melakukannya, kamu pikir aku takut, kamu yang akan menyesal karena tidak peduli dengan kesempatan yang sebelumnya telah aku berikan, dan sekarang kamu malah menantangku! Hmm!" balas Olive setelah dia terdiam cukup lama.


Erizal yang terdiam langsung kembali bicara, "Ya, jika aku tidak bersalah mengapa aku harus takut? Katakan saja pada Pak Rangga mengapa saya bisa di sini, dan apa benar saya bolos, hm! Silakan," sambut Erizal yang percaya diri.


Olive sudah di ujung tanduk kemarahannya, dia juga merasa sangat malu saat itu, tapi Olive pun merasa sangat malu jika tidak melakukan apapun dan mengaku kalah begitu saja.


"Oh, baik! Baik! Aku akan segera melakukannya!" Olive cukup tertekan saat itu, lalu wanita itu segera melakukan panggilan telpon pada diri Rangga.

__ADS_1


Semua orang yang berada di dalam tempat itu jadi terdiam dan memperhatikan diri Olive dengan tatapan tajam.


__ADS_2