
Akan tetapi masih muncul perdebatan dalam batin Rania. Rania seperti tidak ingin untuk pergi.Dia masih bingung dengan keputusannya sendiri, melepaskan keperawanan untuk seseorang yang tidak dia cintai dan kenali adalah hal yang memberatkan Rania.
Rania yang sedang berjalan, dia segera memalingkan wajahnya dan menatap dengan tegas diri pria yang ada di depannya. "Tuan Erizal," kata Rania dengan ragu.
Mendengar hal tersebut, Erizal pun memalingkan wajahnya dan menatap tegas diri Rania. "Ada masalah apa?" tanya Erizal penasaran.
"Hm, bagaimana kalau nanti Anda mengantarkan saya untuk kembali pulang ke rumah terlebih dahulu? Saya hendak mandi dan mengganti pakaian, hehe," balas Rania dengan cukup ragu. Sepasang mata yang tidak menentu.
Erizal hanya terdiam saat menyimak perkataan dari Rania. Dia pun segera melihat tubuh Rania dari ujung kepala sampai kaki. "Aku akan membawa kamu pergi ke tempat penata rias. Agar Bapak pun senang melihat tampilanmu yang berbeda," kata Erizal dengan tegas.
Rania tentu saja merasa agak bingung dengan hal tersebut. "Hah?! Bagaimana? Jadi kemarin itu saat aku menemui Bossnya tampilanku tidak bagus ya? Kampungan kah?" dalam benak Rania yang langsung merasa tersindir.
Dia awalnya agak kesal dengan ucapan dari Erizal, tapi Rania teringat kembali kalau dia kan memang bukan orang kaya seperti Bossnya Erizal. Mereka adalah orang yang memiliki standar kecantikan yang tinggi dan pastinya barang yang mereka gunakan juga Sang mahal. Rania cukup sadar diri dengan hal itu. Sehingga dia pun hanya bisa menerimanya dan menyetujui perkataan dari Erizal. "Oh, begitu ya, baiklah, saya serahkan saja kepada Anda, Tuan!" balas Rania yang hanya bisa mengalah dan pasrah saja.
"Baguslah, kalau kamu setuju," lanjut Erizal.
Mereka pun langsung mendekati sebuah mobil yang besar dan megah, terparkir tidak jauh dari tempat mereka. Erizal segera membukakan pintu untuk Rania, sementara Rania langsung masuk ke dalam tanpa bicara apapun.
"Haaah! Sudahlah, mungkin menjadi nasibku ungu menerimanya saja, toh aku juga telah menggunakan sejumlah uang yang diberikan oleh lelaki itu dengan cuma-cuma untuk membayar tagihan Ayah dan hutang kepada Bank," dalam benak Rania yang sedang duduk di atas kursi belakang mobil. Dia terlamun begitu lama.
Sementara Erizal hanya diam saat melihat diri Rania yang seperti itu. Lelaki itu juga tidak mempermasalahkan apapun. Dia hanya melakukan segalanya sesuai dengan perintah dari Rangga saja.
Erizal masuk ke dalam mobil dan segera mengendarainya dengan kecepatan yang standar. Selama di perjalanan mereka banyak diamnya. Hingga Erizal pun berhenti di depan tempat yang megah sekali, dengan interior modern yang mentereng. Rania melihatnya sampai benar-benar dibuat terpukau. "Waaaaah, keren banget ya! Tempat ini begitu bagus, sudah seperti istana di dalam negeri dongeng saja," dalam benak Rania yang sedang fokus pada bangunan yang dia lihat pada saat itu.
__ADS_1
Rania yang masih sibuk mengagumi tempat itu, tiba-tiba saja Erizal datang untuk bicara kepada Rania. "Kita sudah sampai, mari turun," kata Erizal dengan tegas.
Akan tetapi saat itu Rania tak bergeming, dia masih memusatkan pandangannya pada tempat semegah itu. "Kok ada ya, tempat sebagus ini? Apakah yang punya adalah orang yang paling kaya? Lebih kaya ya dari Bossnya Erizal?" dalam benak Rania yang tidak menyebutkan nama Rangga.
Erizal yang sudah membuka pintu mobil, dia pun melihat Rania yang tidak kunjung keluar dari dalam mobilnya. "Nona Rania," kata Erizal yang bingung sendiri.
Dia tatap Rania yang masih memperhatikan rumah itu. "Nona Rania!" tambah Erizal, lelaki itu segera mengetuk kaca mobil.
Hal tersebut langsung membuat Rania pun jadi sadar. "Eh, iya!" ucap Rania yang gugup.
"Kita sudah sampai," lanjut Erizal demi tegas.
"Oh iya, iya, sudah sampai ya! Baiklah," kata Rania. Dia segera membuka pintu mobil dan langsung keluar.
"Bukan," balas Erizal tegas.
Rania pun bingung sendiri mendengar hal tersebut. "Hah? Lalu?" tanya Rania bingung.
"Ini adalah rumah ke 3 milik Pak Rangga, hanya digunakan jika memang ada acara besar atau Pak Rangga memang tidak ingin pulang ke rumahnya," balas Erizal lagi.
Rania tentu saja langsung mendadak semakin kagum. "Wih, rumah lelaki itu banyak juga ya? Ini rumah ke tiga, bum villa yang aku datangi waktu itu," dalam benak Rania yang hanya bisa geleng kepala.
Tidak lama kemudian mereka pun langsung bertemu dengan dua orang stylish yang terkenal. Rania pernah melihat mereka di TV saat dia bermain ke rumah Lita. "Ya ampun!" dalam benak Rania lagi yang semakin terkejut.
__ADS_1
"Tolong buat Nona Rania seperfect mungkin, Pak Rangga akan datang malam ini," kata Erizal tegas.
"Baik, kami akan melakukan yang terbaik," balas dua orang itu dengan percaya diri.
"Ikutlah dengan mereka," kata Erizal kepada Rania.
Mendengar hal tersebut Rania hanya menganggukkan kepalanya dengan sangat patuh. "Baik," kayanya dengan suara pelan.
Rania memang agak bingung dengan hal itu. Tapi dia tidak boleh menolaknya karena takut. Rania mandi dengan air hangat, dan segalanya begitu rapi dan seharusnya membuat Rania nyaman. Tapi tidak dengan apa yang terjadi pada diri Rania, dia malah risih dan tidak senang, tapi sekali lagi Rania tidak boleh membantahnya meskipun dia tidak suka.
**
Setelah beberapa saat kemudian, Rania sudah siap di dalam ruangan rias. Dengan menggunakan gaun paling indah yang pernah dia gunakan. "Ini aku? Hm... Apakah ini adalah malam terakhir bagiku untuk menjalani hidup yang lebih keras lagi? Ayo, Ran! Kamu bisa," dalam benak Rania yang sedang termenung.
Erizal didatangi oleh dua orang itu. "Tuan, gadis itu sudah siap," katanya dengan tegas berdiri dihadapan Erizal.
Mendengar hal tersebut, Erizal yang berdiri tegap menatap mereka dengan tajam. "Baik, aku akan bicara dengan Pak Rangga mengenai biayanya," balas Erizal tegas.
Tiba-tiba terdengar suara bunyi ponsel mereka dan melihat dengan jelas benda pipih itu. "Wahhh, Pak Rangga sungguh baik!" ucap keduanya sangat senang. "Kami permisi dulu ya," kata kedua perempuan itu dengan tegas.
Rania menunggu di dalam kamar begitu lama, membuat gadis itu resah sendiri sejak tadi. "Hmm, aku canggung sekali, aku takut, bagaimana ini? Apakah aku kabur saja ya?" dalam benak Rania yang kembali memunculkan pikiran tidak baik dalam diri.
"Aduh, aku bingung sekali," kata Rania bermonolog.
__ADS_1
Dia menggunakan gaun merah yang sangat indah, dengan rambut hitam yang dibiarkan terburai memanjang.