
Mendengar dan melihat Rangga, Selena bicara membuat Rania jadi bingung sendiri.
"Ternyata mereka saling mengenal," dalam benak Rania yang baru menyadarinya.
Rania hanya diam saja tidak berani berlaku apapun dihadapan dua orang itu. Rania terlihat kaku diantara mereka berdua.
Tiba-tiba saja Selena melirik ke arah Rania dan langsung memusatkan pandangan pada diri Rangga lagi. "Hm, aku sarankan padamu untuk tidak membuat masalah terdapat siapapun, itu hanya akan merugikan seseorang yang tidak tahu mengenai masalah yang ada dalam dirimu," ucap Selena tegas kepada Rangga. Dia menggunakan kaca mata hitam yang begitu gelap.
Selena sebenarnya menatap Rangga dengan tajam dan sinis dan galak.
Rangga segera menganggukkan kepalanya dengan segera. "Iya, sekarang anak kecil sudah tumbuh jauh lebih dewasa," balas Rangga meledek.
Selena hanya diam dengan tatapan dingin kepada Rangga. "Aku serius!" tambah Selena tegas.
Rangga langsung menganggukkan kepalanya dengan perlahan, tidak lama kemudian Selena meninggalkan tempat itu tanpa lupa berpamitan dengan Rania. "Aku pergi dulu ya, gadis manis!" kata Selena dengan tegas.
Selena langsung memalingkan wajahnya dan melangkahkan kaku jenjang untuk bisa meninggalkan tempat tersebut.
Rania hanya diam dengan tatapan yang agak canggung kepada Selena, tidak lama kemudian Rangga segera bicara dengan tegas kepada Rania. "Ayo! Masuk ke dalam mobil!" kata Rangga dengan tegas kepada Rania.
Rania yang terkejut saat mendengar suara itu dia langsung memalingkan wajahnya dan menatap dengan tegas diri Rangga. Rania segera menganggukkan kepalanya. Lalu mereka bersama-sama masuk ke dalam mobil Rangga dengan belanjakan mereka yang banyak itu.
Rania duduk di kursi depan dekat dengan Rangga, begitu juga dengan Rangga dia mengemudikan mobil dengan perlahan.
Suasana di dalam kendaraan roda empat itu begitu canggung dan senyap. "Gadis cantik itu bernama Selena, tahun ini dia berusia 20, dia masih saudara denganku," kata Rangga dengan tegas yang tiba-tiba saja menjelaskan.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Rangga tentu saja membuat Rania terkejut, dia tidak menyangka Rangga akan mengatakannya kepada dirinya.
"Oh, ternyata masih muda sekali ya, sungguh gadis yang hebat!" balas Rania dengan cukup gugup.
__ADS_1
"Wah, Selena adalah perempuan yang hebat, dia terlihat cantik dan sukses di usia muda," dalam benak Rania yang jadi takjub.
"Tapi jangan terlalu dekat dengan dia, dia bukan gadis yang polos seperti kamu, dia tidak jahat hanya saja Aku tidak ingin kamu terbawa oleh pergaulannya," tambah Rangga sambil menggelengkan kepala. Rasanya lelaki itu mendapatkan sebuah beban tersendiri mengenai diri Selena saat ini.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" dalam benak Rania yang kebingungan. Tapi sepertinya dia juga tidak berhak untuk ikut campur dengan masalah apapun.
Rania berusaha untuk tetap menghargai privasi yang ada pada diri Selena.
"Ya, saya mendengarkan Anda, Pak!" jawab Rania dengan tegas.
Rangga melajukan mobilnya dengan kecepatan yang standar, mereka meninggalkan jalan besar, hingga tidak lama kemudian mereka pun akhirnya tiba di halaman rumah yang besar dan megah.
Tapi siapa sangka rumah besar itu sangat sepi dan hanya dihuni oleh mereka saja. Rania dan Rangga segera keluar dari dalam mobil, setelah itu mereka pun masuk ke dalam rumah yang besar tersebut.
Rania berjalan ke arah dapur, sebelum itu dia mengucapkan selamat pulang pada rumah Rangga.
Rania segera memalingkan wajah dan melihat ke diri Rangga, sementara Rangga hanya diam melihat Rania. "Dasar gadis polos!" dalam benak Rangga yang pokus dengan diri Rania.
Rania terkejut saat melihat Rangga yang malah melihat wajahnya sampai seperti itu. Rania hanya diam lalu karena dia malu segera Rania memalingkan wajahnya dan meninggalkan Rangga di sana.
Rania masuk ke dalam dapur diikuti oleh Rangga. Mereka hendak memasak bersama mungkin. Rania langsung menyiapkan celemek untuk dia gunakan. Rania bersiap memasak hidangan, sementara Rangga menyimpan bahan makanan di dalam kulkas.
"Pak, kita akan masak apa?" tanya Rania penasaran.
"Terserah saja," balas Rangga dengan tegas.
"Karena Bapak membeli banyak sekali bahan, Aku jadi kebingungan sendiri, Aku ingin membuat sup ikan sebenarnya," kata Rania dengan tegas.
"Ya, terserah kamu saja!" balas Rangga tidak membantah. "Aku sudah kelaparan, buat saja yang simpel dan cepat tapi harus tetap enak!" tambah Rangga dengan tegas lagi.
__ADS_1
"Iya, Pak! Saya tahu, saya akan mengindahkan perkataan Anda, kalau begitu saya akan mengambil ikannya terlebih dahulu, apakah Bapak ingin menunggu di luar?" tanya Rania dengan penasaran kepada Rangga. Karena lelaki itu masih berdiam diri di dalam dapur bersama dengan dia.
"Apakah kamu tidak akan membutuhkan bantuan dariku?" tanya Rangga penasaran.
"Mungkin tidak, membuat sup ikan sangat mudah," balas Rania dengan jujur. "Toh saya juga tidak ingin membebani Anda, Pak, ini hanya sup biasa kok, saya terbiasa untuk membuatnya," tambah Rania dengan tegas kepada Rangga.
Rangga tentu saja merasa ditolak begitu saja oleh Rania, dia merasa tidak senang dengan hal tersebut.
"Kamu sedang meremehkan Aku ya? Kami kira Aku tidak bisa melakukan apapun begitu? Kamu memandang aku rendah kah?" tanya Rangga dengan perasaan tidak senang.
"Hah?!" Rania terkejut saat mendengar perkataan dari Rangga. Rania merasa terbebani sendiri. Dia sebenarnya tidak ingin menyinggung atau merendahkan Rangga. Tapi dia hanya ingin Rangga tidak di sini bersama dia.
"Bukan seperti itu, Pak! Saya hanya khawatir jika Anda sampai kotor nantinya," kata Rania dengan tegas kepada Rangga.
Mendengar hal tersebut Rangga malah tidak memedulikannya dia malah nekat untuk mendekati Rania. "Kamu kira Aku anak kecil yang tidak tahu bagaimana caranya menjaga diri agar tetap bersih?" tanya Rangga dengan perasaan tidak senang dalam dirinya.
Mendengar hal tersebut, Rania hanya bisa pasrah, apalagi saat dia melihat Rangga saat ini sedang berada dihadapannya dengan memasang tatapan dingin dan tidak senang padanya.
"Bu-bukan seperti itu, Pak! Saya hanya tidak ingin membuat Anda repot, tapi terserah saja hehe!" balas Rania canggung dan gugup sendiri.
Rangga hanya diam menatap wajah Rania dengan tatapan dalam. "Pak, dapatkah Anda menjauh dari tubuh saya? Saya ingin memasak," kata Rania dengan gugup lagi. Dia tatap Wajahnya Rangga dalam ketakutan.
Tubuh Rania terhimpit oleh Rangga, karena dia memiliki badan yang kecil dan tipis, Rangga yang menyadari hal tersebut dengan segera dia pun menundukkan kepalanya dan langsung menjauh dari Rania.
"Sekarang apa yang seharusnya Aku lakukan?" tanya Rangga dengan penasaran.
"Hm, dapatkah Anda mengambilkan saya ikan di dalam kulkas, Pak?" tanya Rania dengan memohon kepada Rangga.
Rangga segera memalingkan wajah dan tubuhnya lalu dia berjalan ke arah kulkas.
__ADS_1