
Olive hanya diam sambil beberapa kali tersenyum dengan dingin. Dia mencoba untuk tetap tenang saat menghadapi Mamah Rangga.
"Bedebah! Sungguh tidak ada gunanya aku tetap berada di sini. Sebaiknya aku pergi saja! Tidak perlu aku memedulikan anak sialan seperti kamu!" Mamah Rangga seolah mengutuk Olive. Wanita itu marah-marah kepada Olive.
Segera Mamah Rangga memalingkan tubuhnya, dan melangkahkan kaki jenjang itu untuk bisa meninggalkan rumah Rangga. Dengan membawa perasaan yang kesal.
"Hati-hati ya, Mah! Apakah perlu aku antar sampai ke mobil? Ah! Tidak usah ya. Kalau begitu selamat pergi, hahaha! Maksudku sampai jumpa." Olive berlalu sumringah sambil bicara dengan nada yang agak berteriak. Dia juga melambaikan tangan kanannya.
Sampai akhirnya Olive terdiam dengan pandangan yang sangat dingin.
'Jangan kembali lagi!' dalam benak Olive kesal.
Olive segera memalingkan wajahnya, dia langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa memedulikan diri Mamah Rangga.
__ADS_1
"Dasar Nenek tua, masih untung kamu hidup sampai hari ini!" gumam Olive yang mencela Mamah Rangga.
Wanita itu sangat kesal pada diri Mamah Rangga yang selalu saja ikut campur dengan segala urusannya. "Aku kesal sekali dengan wanita itu!" Olive melangkahkan kaki jenjangnya untuk dapat menaiki anak tangga.
Sementara itu terlihat saat ini Mamah Rangga yang berada di dalam mobilnya sendiri. Dia duduk dengan menunjukkan tatapan tidak senang. Dia amat kesal dan sangat marah. "Wanita itu memang sangat keterlaluan!" geram Mamah Rangga yang merasa sudah tidak tahu lagi harus bagaimana bersikap dengan diri Olive.
"Seandainya bukan karena Rangga, aku juga sangat malas meladeni anak itu!" sambung Mamah Rangga lagi, yang menghamburkan perasaan dongkolnya kepada Olive.
"Kita pergi sekarang, Nyonya?" tanya seorang lelaki yang berada di kursi pengemudi.
Tidak lama kemudian mobil Mamah Rangga menyala, mesin itu berbunyi beberapa kali dan mereka meninggalkan tempat tersebut.
**
__ADS_1
Sementara itu di dalam cafe terlihat saat ini Rania yang sedang bekerja dengan sebaik mungkin. Dia fokus dengan apa yang seharusnya dia lakukan. Saat itu memang cukup banyak pembeli yang datang, Rania sibuk meladeni mereka semua.
"Syukurlah tempat ini tidak sepi seperti beberapa hari terakhir," gumam Rania yang merasa tenang. Namun memang tidak dapat dipungkiri, bahwa Rania cukup lelah melayani mereka.
Akan tetapi kembali ponsel Rania berdering yang membuat gadis itu segera memalingkan wajahnya, dan menatap dengan tegas benda pipih berwarna hitam tersebut. "Astaga! Mereka lagi," heran Rania yang merasa tidak senang.
Rania tidak memedulikan panggilan itu, dan dia masih saja sibuk berkerja. Namun terus saja dia dihubungi oleh pihak Bank. Saat Rania sedang ingin menerima pembayaran, dia diingatkan oleh seorang gadis yang bicara kepada dirinya. "Kak, sejak tadi ponselmu berbunyi, mungkin kamu seharusnya mengangkat panggilan itu. Aku khawatir itu adalah pesan yang penting," kata gadis itu yang datang untuk memberikan nasehat kepada Rania.
Rania yang mendengarnya dia pun langsung menganggukkan kepalanya. "Ah! Hehe ... iya, setelah ini saya akan menghubunginya kembali," balas Rania agak canggung. Gadis itu juga tidak lupa untuk menunjukkan senyumnya.
Rania memberikan uang kembalian untuk gadis itu. Dia bersikap seperti biasanya ramah dan ceria.
Setelah gadis itu pergi, keadaan pun agak sepi sekarang, Rania yang sudah sangat jengkel segera mengulurkan tangan kanannya dan mengambil ponsel genggamnya dengan cepat. Rania mengangkat panggilan dengan perasaan tidak senang. "Halo!" kata Rania dengan suara yang tegas.
__ADS_1
BERSAMBUNG....