
Rania sangat gugup dan canggung dihadapan Rangga, apalagi saat ini mereka sedang duduk bersama. Di meja yang sama saling berhadapan. Rania beberapa kali menundukkan kepalanya dia cukup bingung mengenai apa yang seharusnya wanita itu lakukan saat ini.
Mereka menunggu dengan cukup lama pesanan yang sebelumnya tengah mereka buat. Tanpa adanya perbincangan diantara kedua orang itu. Semuanya diliputi oleh kecanggungan yang mendalam. Terlebih lagi Rania, hingga Rangga pun menghela napasnya cukup dalam untuk bisanya kembali bicara kepada Rania.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Rangga memastikan.
Pria dengan menggunakan pakaian yang rapi dengan dasi hitam terlihat sangat menawan, parasnya yang sangat tampan mampu membuat siapapun yang melihatnya jadi terpukau akan dirinya. Apalagi pria itu juga sangat menonjol di dalam tempat tersebut.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Rangga, sontak saja Rania jadi terkejut, awalnya wanita itu memang sedang terlamun cukup lama. Hingga dia menatap tajam wajah Rangga yang berada di seberang mejanya.
"Hah? Saya baik kok, Pak! Hanya saja cukup risih, hehe...," balas Rania dengan jujur meskipun sangat penuh kehati-hatian.
Rania yang tanpa ragu menekankan jawaban, sambil menunduk malu. Membuat Rangga mengerti mengenai apa yang dirasakan oleh Rania pada saat itu.
Ya! Bagaimana tidak, kini banyak sepasang mata yang melihat ke arah mereka, lebih tepatnya pada diri Rangga. Bukankah awalnya Rania ingin menyembunyikan identitasnya sendiri sebagai selir Rangga? Namun kini dia seperti sedang memamerkan kedekatannya dengan Rangga.
"Aku memang tidak bisa berkutik lagi dihadapan Pak Rangga aku seperti semut dan dia gajahnya. Aku yang kecil, imut dan malang, sementara dia besar dan gendut, eh! Dia tidak gendut sebenarnya! Hanya saja aku tidak bisa melihat matanya yang tajam dan mengerikan itu terlalu lama, aku sungguh malu dan takut, malu karena akan banyak rumor yang memungkinkan langsung datang, takut jika membantahnya," dalam benak Rania yang merasa kebingungan.
__ADS_1
Karena tidak bisa dipungkiri juga banyak orang yang memperhatikan mereka, dan mencoba untuk menerka sendiri. Jaman sekarang ini siapa yang tidak mengenal sosok Rangga? Dia adalah seorang CEO besar yang sangat sukses dan memiliki seorang istri cantik di rumah, tapi kini malah datang dengan terang-terangan ke restoran membawa seorang gadis muda lain yang tidak mereka kenali.
Dari kejauhan sorot mata tajam mereka ambil diam-diam, tertuju pada tempat di mana Rania dan Rangga berada. Semua orang menjadi seorang paparazi dadakan yang mengabadikan momen kedua orang itu dengan hati-hati.
Rania yang menyadarinya karena melihat kilatan flash langsung memalingkan wajahnya, dia tajamkan sepasang matanya. Dengan pandangan tidak suka Rania membidik tempat di mana orang itu berada.
Rania bangkit dengan segera dari duduknya, saat itu Rangga yang melihatnya saat dia juga sudah mengetahuinya dan hendak meninggalkan Rania. Lelaki itu hanya diam sambil melihat diri Rania yang langsung meninggalkan dirinya lalu menuju ke arah orang itu berada.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Rania yang berdiri tegap di hadapan lelaki itu, dia tatap wajah pria muda tersebut dengan pandangan dingin.
"Aku tidak melakukan apapun," jawabnya mencoba untuk tetap tenang. Dan terlihat tidak ada masalah apapun, terlebih lagi dia juga seolah sedang menantang Rania. Dengan angkuh mengangkat kepalanya, sambil menatap tajam wajah Rania.
Rania terkejut mendengar jawaban itu, namun dia tidak mudah untuk goyah begitu saja. "Apa yang kamu lakukan dengan ponselmu terhadap kami? Apakah kamu sedang memotret orang lain secara diam-diam? Bukankah itu adalah sebuah pelanggaran?" balas Rania dengan sangat tegas dan tenang.
Lelaki itu masih menunjukkan keangkuhannya dihadapan Rania, dia juga tidak ingin jika harus kalah dengan seorang gadis dihadapan banyak orang yang melihat dirinya.
"Jangan asal menuduh, ya! Kamu bisa aku tuntut atas pencemaran nama baik!" tambah pria itu yang mengancam.
__ADS_1
"Aku menuduh? Tapi tadi aku melihat kilatan flash pada ponselmu yang tepat mengarah padaku, jika aku bersalah mengenai penilaianku sendiri izinkan aku melihat ponselmu. Aku ingin tahu tadi sebenarnya apa yang kamu lakukan terhadap kami!" sambut Rania tanpa perasaan takut sedikitpun kepada pia itu.
Lelaki itu kembali terkejut dalam hatinya, karena tidak menyangka Rania yang sangat tangguh. Lelaki itu tidak mungkin langsung mengakuinya. "Lancang! Kamu sudah mengganggu waktuku saja, aku ini hendak makan! Tapi kamu malah membuat kekacauan," ucap lelaki itu yang terus saja mengelak.
"Aku hanya ingin melihat ponselmu saja tidak lebih! Aku hanya ingin tahu apa yang tadi kamu lakukan, jika memang tidak ada apapun seharusnya kamu menunjukkannya agar kita sama-sama tenang dan nyaman, jika kamu terus seperti ini maka kemungkinan besar kamu memang sedang menutupi sesuatu, hahahah! Seperti pencuri saja mengambil gambar orang lain, apakah begitu sungkan untuk meminta foto dan tanda tangan Pak Rangga?" tanya Rania yang semakin menekan. Dia menonjolkan sikap dan sifat yang sangat berbeda dari biasanya Rangga kenal.
Sementara itu Rangga hanya terdiam dengan tatapan dingin yang begitu mencekam, melihat Rania dari kejauhan. Termenung tanpa adanya suara.
Lelaki itu terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Rania, dia sangat tidak menyangka dengan Rania yang begitu angkuh dihadapan lelaki itu. Dia yang memiliki tempramen buruk segera bangkit dari duduknya lalu menggebrak meja dengan dua tangannya begitu keras.
Rania memang sangat terkejut mengenai hal tersebut, dia langsung mengedipkan sepasang matanya walau hanya sekali, namun dia tidak mundur, wanita itu masih menatap dengan tegas dan tajam diri pria tersebut. "Ckckckck, tidak sadar diri, sebelumnya itu kamu sendiri yang susah untuk diberitahu, sekarang malah marah-marah, kamu sehat? Atau obatnya sudah habis? Ingin dibelikan atau mau dibawa ke rumah sakit saja?" tanya Rania yang sudah jelas meledek lelaki itu tanpa ragu.
Semua orang yang berada di dalam restoran terkejut karena tidak menyangka mengenai keberanian yang dimiliki oleh Rania, karena gadis itu sangat tegas bicara dengan pria tersebut.
"Sebenarnya gadis itu siapa sih? Berani ya dengan Tuan Muda Bara, apakah dia tidak tahu kalau pria itu adalah pemilik perusahaan Qwenik yang ternama itu? Sekarang dia malah mencari gara-gara dengan putra dari keluarga Qwen, memang cari mati!" bisik seorang sanjaya yang menggunjing Rania. Sambil membawa tatapan dingin dan tajam begitu lekat.
"Dia sepertinya hanya gadis biasa, tidak mungkin jika selingkuhan dari Pak Rangga, pasti hanya seorang gadis yang hina minta ditolong saja," bisik wanita lainnya yang merendahkan Rania.
__ADS_1