
Mendengar suara dari Erizal, dua orang yang sedang menindas Jasmine langsung terlihat ketakutan. "Tuan Erizal, kami tidak menindasnya, dia melakukan kesalahan dan kami hanya ingin memberikan dia sedikit saja pelajaran, tolong Tuan Erizal jangan salah paham," kata seorang wanita yang mencoba untuk membela dirinya.
"Dengan menyakiti orang lain? Bukannya kalian sama seorang OB? Tidak takut jika aku mendatangi Tuan Rangga dan melaporkan apa yang telah kalian perbuat?" tanya Erizal dengan tegas.
Seorang wanita dengan usia yang sudah tidak muda lagi, langsung bertindak dengan sangat sombong. "Anda itu seorang asisten, untuk apa ikut campur dengan masalah kami, kami kan hanya ingin memberikan dia sedikit pelajaran saja," balas wanita itu yang sok berkuasa.
"Memang dia melakukan kesalahan apa?" tanya Erizal demi tegas.
"Dia tidak melakukan pekerjaan dengan benar maka dari itu saya menghukum dia," balas wanita itu dengan angkuh.
"Oh benarkah?" tanya Erizal dengan sangat tidak percaya akan apa yang mereka katakan.
"Iya, kok!" jawab wanita itu dengan tegas.
Jasmine hanya diam dan memalingkan wajahnya dengan cepat, dia terlihat sangat ketakutan saat mengetahui itu adalah Erizal. "Gawat, bagaimana ini? Jika pria ini tahu aku bekerja di perusahaan Pak Rangga pasti dia akan banyak bertanya," dalam benak Jasmine tidak nyaman.
"Hei, Nona, apa yang mereka katakan itu benar?" tanya Erizal dengan tegas.
Jasmine hanya diam dan terlihat kedua wanita itu sedang memberikan tatapan yang tajam kepada diri Jasmine. "Awas saja jika anak ini mengatakan yang tidak-tidak, aku akan lebih lagi melakukan hal buruk padanya," dalam batin wanita itu yang agak takut.
"Nona?" kata Erizal penasaran.
Jasmine hanya menganggukkan kepalanya. Tanpa melihat diri Erizal. Dia wanita yang melihat hal tersebut langsung merasa senang, mereka tersenyum licik.
Erizal yang tahu jika saat itu Jasmine ketakutan, dia pun dengan cepat mengulurkan tangan kiri dan menarik pergelangan tangan Jasmine. Hingga membuat Jasmine memalingkan wajahnya dan mereka saling bertatapan. "Hah? Nona Jasmine?!" ucap Erizal yang terkejut.
Jasmine yang sudah ketahuan langsung menundukkan kepala karena ketakutan. Erizal sangat tidak menyangka dengan hal tersebut, tapi dia melihat wajahnya Jasmine yang memar. "Kalian sangat keterlaluan, saya akan mengatakannya kepada Pak Rangga," ucap Erizal tegas.
"Hahah, kamu pikir kamu takut, siapa juga yang akan langsung percaya dengan semua itu? Ada bukti kami yang melakukannya?" kata seorang wanita yang menantang.
Erizal langsung tersenyum tipis, dia seperti memiliki sesuatu untuk bisa lelaki itu lakukan dan membuat mereka diam.
__ADS_1
"Yakin tidak ada bukti?" kata Erizal dengan tegas. Dia seperti orang yang licik saat menunjukkan pandangan yang tenang.
Melihat tingkah dari Erizal kedua orang itu pun jadi khawatir, karena mereka kira Erizal datang tanpa apapun. "Apa maksudmu? Jangan hanya tahu menggertak kami saja!" lanjut mereka dengan tegas.
"Tunggu saja, tidak akan lama kok, nanti kalian akan tahu aku ini sedang menggertak atau tidak, sampai jumpa, mari Nona!" ucap Erizal yang langsung membawa Jasmine pergi meninggalkan tempat itu.
Dua orang itu hanya diam dengan perasaan takut dan cemas, karena mereka tahu bagaimana liciknya Erizal. Meskipun terkesan ramah orang yang berada di sisi Rangga selalu mematikan.
"Gawat! Tidak mungkin, kan?" dalam benak seorang wanita yang sedang berpikir.
"Dasar gadis sialan! Dia sungguh beruntung," kata wanita itu yang terlihat kesal.
**
Meninggalkan dua orang itu, terlihat kini Jasmine yang masih digandeng oleh Erizal, Jasmine sangat risih dan juga merasakan takut. Dia langsung bicara kepada Erizal. "Tolong lepaskan saya!" kata Jasmine tegas. Sambil mencoba untuk menarik tangannya.
Mendengar hal tersebut, Erizal merasa bingung, dia pun langsung menghentikan jalan dan melihat ke arah Jasmine.
"Tentu saja saya bekerja, apakah saya masih harus menjawabnya? Sementara Anda melihat sendiri seragam yang saya gunakan! Tolong tinggalkan saya," balas Jasmine dengan kaku dan dingin.
Erizal terlihat sangat bingung dengan sikap dari Jasmine. "Hah? Anda kan perempuan Pak Rangga, tidak selayaknya Anda bekerja di sini, Pak Rangga mungkin akan marah jika mengetahuinya," kata Erizal lagi dengan tegas.
"Aku membutuhkan uang untuk bertahan hidup, apakah Anda kira enak ya jadi simpanan orang kaya? Tidak! Kami malu kok, tolong jangan pedulikan saya," tambah Jasmine dengan dingin.
Erizal hanya bisa diam, dia tidak tahu harus bagaimana dihadapan Jasmine. Dia memiliki watak yang keras seperti halnya Rania, tapi entah mengapa dia seperti kesulitan dengan Jasmine dibanding saat mendekati Rania.
"Tapi Pak Rangga pasti tidak akan senang," kata Erizal lagi.
"Tidak senang untuk apa? Saya hanya temannya di atas ranjang, untuk dijadikan mesin anak, hubungan kami juga tidak diketahui oleh publik, dia tidak akan malu juga, biarkan saya melakukan apa yang seharusnya, jangan mengekang!" Jasmine mencoba untuk melepaskan genggaman Erizal kepada dirinya.
Erizal hanya diam saat melihat reaksi dari Jasmine yang benar-benar membingungkan kepalanya.
__ADS_1
"Setidaknya Anda harus diobati," kata Erizal tegas.
"Tidak perlu, saya bisa melakukannya sendiri," sambut Jasmine dengan tegas. "Tolong lepaskan!" lanjut Jasmine yang segera menarik tangannya dengan kuat.
Karena Erizal pun tidak ingin mengekang Jasmine, dia pun langsung melemaskan genggaman tangannya. Jasmine segera melangkahkan kaki jenjangnya dan pergi meninggalkan Erizal dengan cepat dan tergesa.
Erizal hanya dapat melihat diri Jasmine dari tempatnya. Hingga Jasmine pun tidak terlihat lagi.
Setelah Rangga selesai dengan meeting di dalam ruangan, dia kembali ke ruangan pribadinya. Dia duduk dengan tenang di atas kursi, seperti biasanya dia bekerja dengan baik.
Tidak lama kemudian, Rangga mendengar suara pintu yang diketuk oleh seseorang. "Pak, saya Erizal, bolehkah saya masuk ke dalam?" tanya Erizal dengan tegas.
"Silakan," jawab Rangga dengan tenang.
Segera pintu ruangan Rangga dibuka oleh seseorang, Erizal masuk ke dalam dan melihat diri Rangga yang sesaat fokus dengan pekerjaannya.
"Pak, ini kotak p3knya, ingin saya letakkan di mana?" tanya Erizal tegas. Dia saat itu berdiri tegap di hadapan Rangga.
"Di laci saja," jawab Rangga tegas.
Erizal segera mengindahkan apa yang diucapkan oleh Rangga, lelaki itu meletakkan kotak itu di sana. Dia langsung memalingkan wajahnya dan menatap diri Rangga. Lelaki itu hanya diam di sana.
"Ada masalah apa, Zal?" tanya Rangga dengan tegas. Lelaki itu sepertinya tahu bahwa Erizal ingin mengatakan sesuatu kepada dirinya.
Rangga mengangkat wajahnya dan dia tatap diri Erizal dengan tegas.
"Hmm, begini Pak, saya tadi melihat Nona Jasmine bekerja sebagai OB di perusahaan," kata Erizal tegas.
Rangga terdiam dengan tatapan yang dingin. "Lalu?" tanya Rangga tenang.
"Lho, Bapak yang mengizinkannya?" tanya Erizal tidak mengerti.
__ADS_1