
Saat Rania sedang ketakutan sendiri di dalam kamarnya, tidak lama kemudian dia mendengar suara mobil dari seseorang yang masuk ke dalam halaman. "Apakah itu adalah dia? Bagaimana ini?" dalam benak Rania yang kebingungan.
Dia pun menjadi tidak bisa mengontrol seribu sendiri dengan baik, sepasang matanya melirik ke kanan dan kiri. Dia tidak mampu tenang saat itu karena terus teringat dengan kejadian yang mungkin akan menimpa dirinya. "Aduh, bagaimana ini? Aku takut!" dalam benak Rania yang jadi semakin memuncak resahnya.
Meninggalkan Rania yang sedang dilema di dalam ruangan kamar, kini terlihat Rangga Aditama yang menggunakan jas hitam dengan pakaian formal terlihat menawan, wajahnya pun begitu tampan dengan alis yang tebal. Dia pun segera keluar dari dalam mobil dan menatap rumah besar dihadapannya. Rangga Aditama langsung melangkahkan kaki jenjangnya untuk bisa memasukinya.
Tidak lama kemudian, terlihat pintu besar itu dibuka oleh seseorang, yang tidak lain adalah Erizal. Lelaki itu langsung menyambut Rangga. "Selamat datang, Pak!" kata Erizal dengan tegas.
"Iya, oh iya, data kantor tolong kamu periksa lagi ya, aku sudah membawanya ada di dalam mobil, aku belum sempat memisahkan bagian 19 sampai 30. Bisakah kamu membantuku?" tanya Rangga dengan tatapan tegas kepada Erizal. Dia menghentikan jalan di samping kanan lelaki itu.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Rangga tentu saja langung diterima oleh Erizal, pria itu segera menganggukkan kepalanya di hadapan Rangga. "Baik, Pak! Saya akan segera meniliknya, oh iya! Di dalam kamar sudah ada Nona Rania yang sedang menunggu Anda, saya harap Anda segera menemuinya," balas Erizal sambil menyampaikan pesan sebelumnya.
Rangga terlihat biasa saja, seolah tidak ada gairah apapun. "Ya, biarkan saja! Nanti aku akan datang, apakah dua penata rias sudah pergi?" tanya Rangga penasaran.
"Benar, setelah mereka mendapatkan bayaran, mereka langsung pergi begitu saja," jawab Erizal dengan jujur.
"Oh baik, aku masuk terlebih dahulu," kata Rangga tegas.
__ADS_1
Dia lun segera melangkahkan kaki jenjangnya, dan tiba-tiba saja Erizal datang untuk kembali bicara, "Pakaian ganti Anda sudah saya letakan di atas meja, dan itu juga masih baru, saya yang memesannya sendiri, semoga Anda menyukainya," tambah Erizal dengan tegas.
Rangga hanya diam sambil menganggukkan kepalanya, dia masuk ke dalam rumah itu, suasana yang begitu tenang dan nyaman. Rangga memandangi tempat megah itu dengan tatapan dalam.
Rangga menghela napas cukup dalam, lalu pria itu pun menuju ke salah satu ruangan yang besar, dia membuka pintu dan segera masuk ke dalam.
Saat itu juga Erizal langsung menutup pintu rumah. Dia mendekati mobil yang terparkir dan membawakan beberapa dokumen yang diminta oleh Rangga untuk Erizal periksalah kembali.
**
Rania kebingungan saat itu, dia memiliki banyak pertimbangan dalam diri. "Apakah aku pulang saja? Apakah aku membatalkannya saja? Aku sungguh tidak siap, ini kebodohanku sendiri, aku kembalikan saja nanti uangnya, tapi darimana aku dapat uang sebanyak itu? Aku juga takut jika dia malah menuntutku, aduh aku pusing jadinya! Dia terlihat kaku dan galak, aku khawatir hidupku akan semakin dipersulit olehnya, toh dia juga tidak datang kemari, mungkin sebenarnya dia memang tidak ingin kali melihatku, atau tidak tertarik juga denganku! Hahaha, wajar saja sih, aku kan norak, tidak masuk juga ke dalam kriterianya," dalam benak Rania yang langsung menyimpulkan.
Rania segera menganggukkan kepalanya sendiri dan dia langsung merasa yakin semua akan baik-baik saja kok. Dia bangkit dari duduknya dan melangkahkan kaki jenjangnya untuk dapat menuju pintu dan membukanya. Rania mengulurkan tangan kanannya agar dapat menggenggam erat daun pintu, hingga Rania mendapatkannya, dan dia pun langsung mendorongnya ke dalam. Akan tetapi saat Rania baru ingin melangkah keluar kamar, tiba-tiba saja muncul dihadapan gadis itu Rangga yang sudah menggunakan pakaian biasa, dengan rambut yang masih basah, tapi tersisir begitu rapi wangi. Lelaki itu menatap wajah Rania dengan tatapan tegas.
Sementara Rania tentu saja sangat terkejut. "Waduh?!" dalam batin Rania yang saat ini dia jadi salah tingkah sendiri.
Rania tidak tahu apa yang harus gadis itu lakukan, dia jadi kaku di depan Rangga. "Ingin pergi ke mana kamu?" tanya Rangga penasaran. Dengan suara serak basahnya yang agak tebal.
__ADS_1
Tatapan yang tajam itu langsung membidik Rania, membuat Rania jadi ketakutan, degup jantungnya berirama naik turun dan kencang, dia sangat gugup dihadapan Rangga karena khawatir sekali.
Rani tentu saja tidak bisa terus diam tanpa memberikan Rangga jawaban apapun. "Ah.. Mmm, aaa... Anu.... Hmmm, tidak kemana-mana, heheh," jawab Rania yang sudah kebingungan dan tidak tahu lagi harus bicara apa. Karena mendadak pikiran gadis itu jadi blank.
Mendengar hal tersebut, Rangga hanya diam saja, dia terlihat begitu galak dihadapan Rania. Teringat pertemuan pertama mereka memberikan kesan buruk pada diri Rania. "Oh," jawab Rangga dengan tegas. Lelaki itu segera melangkahkan kaki jenjangnya untuk dapat masuk ke dalam kamar.
Rania yang ketakutan tentu saja, tidak tahu harus bagaimana lagi, dia pun memilih untuk berjalan mundur ke belakang, saat Rangga berjalan ke arahnya.
Rangga menutup pintu dengan cepat, dan itu dilihat oleh Rania. Rania pun langsung berjalan ke arah ujung, dia berdiri tegap dan tidak tahu harus berbuat apa pada saat itu.
Rangga segera menatap ke arah ranjang dan membaringkan tubuhnya di atas kasur. Rania hanya diam melihat hal tersebut, saat ini kondisi dari mereka sangat canggung. Mereka terdiam sepersekian detik. Rangga menatap ke arah langit-langit atap. "Apa yang ingin kamu katakan, sampaikan saja!" ucap Rangga dengan tegas dan jelas kepada Rania.
Tanpa lelaki itu memalingkan wajahnya dia masih memfokuskan diri pada atap rumah. Mendengar hal tersebut Rania jadi diam sejenak, dia jadi berpikir lagi. Apa yang sebenarnya harus dia katakan. "Tunggu? Ucapannya ini, apakah dia tahu jika aku ingin membatalkannya saja?" dalam benak Rania tegas.
"Hm... Boleh tidak jika aku membatalkannya saja, hehe...," kata Rania dengan gugup.
"Ya! Kamu dapat melakukan apa yang kamu ingin," balas Rangga tegas.
__ADS_1
Rania sangat tidak menyangka dengan hal tersebut, dia pun terlihat senang, saat Rania hendak bicara lagi dan berterima kasih kepada Rangga, padahal dia sudah membuka mulutnya. Rangga langsung melanjutkan ucapannya, "Jika kamu bisa mengembalikan uang yang aku berikan padamu dalam waktu 3 hari, kamu bisa kok pergi," tambah Rangga tegas.