Selir Jadi Yang Pertama

Selir Jadi Yang Pertama
Di Curigai


__ADS_3

Rania yang kala itu turut menyaksikan bagaimana perdebatan antara Erizal dan Olive pun akhirnya terhenyak dalam beberapa waktu.


"Jadi, wanita itu adalah istri sah dari Pak Rangga? Terlihat sangat cantik dan penuh pendidikan. Tapi kenapa dia terlihat takut dan cemas seperti tadi ya?" Ranie bergumam tak bisa menampikkan jika selera yang dipilih oleh Rangga memang bukan main-main.


Tak heran rasanya jika Rangga hanya menjadikan wanita biasa seperti dirinya sebagai seorang selir semata. Jika dibandingkan pun pasti Rania sudah lebih dulu pergi saking mustahilnya, akan seimbangnya antara dirinya dan wanita yang menjadi istri sah oleh Rangga itu.


"Jika dilihat sekilas tidak ada yang kurang dari wanita itu. Rasanya mustahil dan tidak percaya saja jika wanita tadi masih belum memberikan keturunan pada Pak Rangga." Rania masih setia melakukan dialog pada dirinya sendiri.


Pikiran dan hatinya masih belum bisa menerima sepenuhnya jika Rangga dan wanita bernama Olive itu masih belum mendapatkan keturunan hingga saat ini.


"Aneh tapi ini adalah kenyataannya. Memang benar kata orang-orang bahwa tidak yang selalu terlihat sempurna di mata akan selalunya seperti itu. Ada kalanya seseorang pasti memiliki titik kelemahan dan kekurangan."


Seakan tidak ada habisnya Rania membatin membuat temannya yang sudah membawakan pesanan makanan dan minuman wanita itu pun menepuk meja pelan agar menyadarkan Rania dari lamunannya.


Bruk!


"Ya Tuhanku!" Rania tersentak tampak bagaimana wajahnya yang saat ini sudah menampilkan raut tak bersahabatnya.


"Jadi mau pesan makanan tambahan gak nih?" Lisa, sang teman pun terlihat mendatarkan wajahnya.


Mendengar hal itu membuat Rania menepuk keningnya pelan. "Ya ampun sampai lupa. Aku mau minta satu porsi kentang goreng lagi ya. Sekalian kalau ada bikin teh manis ya. Sorry gara-gara keributan tadi jadi gak fokus." Rania menampilkan cengirannya begitu khas.

__ADS_1


Sedangkan Lisa terdengar mulai menghembuskan nafasnya begitu gusar merasa lelah dengan wanita yang ada dihadapannya saat ini. "Kalau gak ada menu yang kamu pesan gak mungkin kali nih kafe bisa dibangun!" jawab Lisa terdengar begitu sinis.


Rania hanya bisa menggaruk tekuk belakangnya yang sebenarnya tidak terasa gatal barang sedikit pun. Tak lama setelah itu, seseorang datang menghampiri Rania membuat wanita itu terhenyak selama beberapa waktu.


"Tuan Erizal? Kamu?" Rania tampak salah tingkah, tidak tau jika pria itu akan datang menghampiri dirinya saat ini.


"Panggil saja Erizal, Ran. Lagi pula aku hanya manusia biasa sama sepertimu. Tidak perlu memanggilku sama dengan orang-orang yang biasanya memanggilku demikian. Panggil saja namaku, Erizal. Kita juga sekarang sedang berada diluar. Tidak ada Pak Rangga di sini." Erizal memberitahukan membuat Rania yang tak tau harus memberikan respon apalagi memilih menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengiyakan.


"Kau melihatnya tadi?" Erizal bertanya dengan nada hati-hati. Rania mendogak menatap dua manik mata tegas milik pria itu. Rania menelan saliva-nya dengan susah payah, wanita itu merasa ambigu harus mengatakan semuanya dengan kalimat sebenarnya atau justru malah sebaliknya.


"Tadi. Aku hanya sedang.. tak sengaja karena.."


Terdengar jelas bagaimana kalimat ucapan Rania yang mulai dilontarkan tak beraturan membuat Erizal tau jelas bagaimana wanita itu yang merasa cemas dan sedikit takut untuk berkata kepadanya saat ini.


"Apa kau mempertanyakan tentang keberadaanku yang ada di kafe ini?" Erizal bertanya dengan nada yang jelas menuntut untuk dijawab.


Rania mengelap bibirnya yang terasa mulai kering. "Hmm.. mungkin saja tidak. Lagi pula ini kan sebuah kafe. Tempat di mana orang-orang bebas berada di sini, bukan? Jadi jika kau berada di sini rasanya itu bukan suatu hal yang perlu dibesarkan." Rania mencoba untuk menjawab pertanyaan dari Erizal dengan penuh kehati-hatian.


Rania tidak ingin sampai ada kalimatnya yang akan menyinggung pria itu. Erizal kini tampak tersenyum tipis. "Harus aku akui kau adalah wanita yang sangat bijak. Andai saja, aku memiliki tahta dan kekayaan sama seperti Pak Rangga. Aku pasti tidak akan menyia-nyiakan begitu saja wanita sepertimu. Tuanku itu sungguh sangat beruntung karena telah memilikimu." Rania lantas mengerjap merasa asing dengan kalimat yang baru saja dilontarkan oleh asisten sang selir itu.


"Maaf.. apa yang baru saja kau katakan Tu.. Erizal? Rasanya sedikit aneh, aku benar-benar tidak mengerti dengan maksud perkataanmu itu." Rania mencoba untuk mendapatkan penjelasan yang lebih lanjut lagi.

__ADS_1


Ia tentu tidak bisa mengambil kesimpulan sepihak begitu saja. Entah kenapa rasanya Rania terus menolak segala pendapat yang masuk di dalam benaknya.


Rania merasa, tidak seharusnya kalimat kesimpulan yang dibuat olehnya itu ada di dalam benaknya. Maka dari itu, tak heran ia selalu mengatakan agar lawan bicaranya mengulang kembali kalimatnya.


Erizal menggeleng dengan tempo yang pelan. "Tidak. Tidak ada. Apa kau sudah memesan menu makanannya?" Erizal menatap Rania penuh perhatian membuat Rania tak menampikkan jika dirinya merasa agak aneh dengan tatapan itu.


"Apa Pak Rangga memintamu untuk ikut mengawasiku?" Erizal menggeleng cepat menandakan jika dirinya tidak membenarkan apa yang baru saja dilontarkan oleh Rania itu.


"Tidak. Aku sama sekali tidak menjadi mata-mata. Aku kemari benar apa katamu karena ingin memesan makanan seperti layaknya pelanggan kafe pada umumnya. Hanya itu saja. Aku benar-benar tidak sedang mengada-ngada sebuah kisah." Erizal sampai-sampai mengangkat jari tengah dan telunjuk dari tangan kanannya menandakan jika dirinya benar tidak berbohong sama sekali. "Apa aku bisa mempercayaimu?"


Tampak bagaimana kedua alis Rania yang mulai terangkat, menaruh rasa curiga yang besar pada pria yang ada di hadapannya itu.


"Sumpah, Rania! Aku sama sekali tidak sedang membohongimu. Kau bisa mempercayai diriku." Erizal kini sampai memegang satu telinganya sebagai tanda jika dirinya tidak membohongi wanita itu. Rania pun kemudian menganggukkan kepalanya berulang kali.


"Baiklah. Aku mempercayaimu sekarang. Awas saja jika kau sampai berbohong. Aku pasti tidak akan pernah memaafkan dirimu jika kau sampai menipu diriku." Rania tampak mulai mengancam pria di hadapannya itu. Kedua sorot matanya berubah menjadi tajam.


"Aku baru saja memesan kentang goreng dan juga es teh. Rasanya bosan dan tidak nyaman juga jika terus memakan starbuck terus-menerus. Memang pada kenyataannya lidah merakyat akan terus mencintai produk rakyat. Contohnya seperti es teh." Rania bergumam dengan suara yang masih terdengar jelas di telinga Erizal.


Pria itu terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. "Ada-ada saja kamu, Ran. Semua orang kan sama saja. Tapi memang es teh manis adalah minuman favorit semua orang. Aku pun juga menyukainya." Erizal tak menampikkan fakta itu.


Hingga tak terasa, Erizal dan Rania pun terus saja mengobrol tidak tau waktu. Mereka terus berbicara sampai-sampai membuat seseorang menatap curiga pada dua insan itu. "Apa mereka menjalin suatu hubungan? Kenapa aku merasa curiga pada dua manusia itu ya?" gumamnya sebelum akhirnya memberikan pesanan dari salah satu di antara kedua insan itu.

__ADS_1


***


__ADS_2