Selir Jadi Yang Pertama

Selir Jadi Yang Pertama
Belum Siap


__ADS_3

Rania terkejut saat melihat Lita yang sangat cemas dengan keadaannya. "Aku tidak apa kok, jangan khawatir, jangan seperti ini, aku baik-baik saja, kok, terima kasih ya, karena kamu sudah mau menggantikan aku selama beberapa jam, hehe!" kata Rania dengan tersenyum, dan dia langsung mengusap kepala Lita.


Lita terlihat agak sedih dan masih penasaran sebenarnya apa yang terjadinya dengan Rania. "Aku kecelakaan ya? Siapa yang menabrakmu? Kamu sedang sakit begini kenapa malah masuk untuk bekerja?" tanya Lita yang terus memperhatikan tubuh Rania dari ujung kepala hingga kaki.


"Aku tidak ditabrak, aku hanya menyelamatkan seorang anak kecil yang hendak ditabrak saja, dan aku mengalami luka kecil, aku telah dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa dan tidak ada masalah apapun, aku dibantu oleh seorang wanita dewasa yang sangat baik dan cantik," balas Rania dengan jujur.


Mendengar hal tersebut, Lita hanya menganggukkan kepala. Lalu Rania kembali bicara, "Tadi aku juga diantarkan oleh ibu itu kemari menggunakan mobil," tambah Rania dengan tegas.


"Hmm, kamu tahu siapa namanya?" tanya Lita penasaran.


Rania langsung membulatkan sepasang matanya dengan tajam. "Waduh, nah itu! Aku lupa bertanya," sambut Rania dengan merasa bodoh.


"Hais!" ucap Lita sambil menggelengkan kepala.


**


Di dalam rumah Rangga Aditama, terlihat Olive yang masih uring-uringan sendiri, wanita itu langsung duduk di atas kursi besar yang terlihat sangat megah dan empuk. "Ish, aku masih kesal rasanya, mengapa sih Nenek lampir itu selalu sibuk untuk menyinyir! Apakah dia berharap bisa menyingkirkan aku? Rangga tidak mungkin melakukan itu kan! Dia dahulu sangat menyukaiku, meskipun aku tidak mampu berbuat apapun atas tindakannya, tapi aku masih percaya dihatinya tetap ada namaku!" dalam benak Olive percaya diri.


Wanita itu terlihat sangat kesal, sorot matanya begitu tajam dan mengerikan dari ekspresi wajahnya dia seperti menyimpan dendam.


"Aku tidak boleh disingkirkan oleh siapapun, aku kan masih membutuhkan harta Rangga, aku tidak boleh kalah dari wanita itu, kalau hanya perempuan yang dijadikan rahim mesin anak aku tidak peduli, mana mungkin Rangga dapat tergoda dengan perempuan seperti itu, hahaha! Sungguh rendahan!" kembali Olive berbicara di dalam hati. Dia sangat yakin dengan apa yang dia pikirkan sendiri.


**

__ADS_1


Terlihat saat ini Rangga yang sedang berada di dalam ruangan kerja dia masih sibuk melakukan ini dan itu. Hingga tidak lama kemudian ponsel Rangga berbunyi. Membuat lelaki itu membuyarkan fokusnya. Dia memalingkan wajahnya dan menatap ke arah saku bajunya. Rangga merogohnya dengan cukup dalam lalu mengambil benda pipih hitam.


Rangga membaca nama kontak yang tertera di sana. "Mamah?!" dalam benak Rangga yang penasaran.


Segera Rangga pun mengangkat telepon. "Halo, Mah? Ada apa? Aku sedang kerja nih," kata Rangga dengan jujur dan tegas.


"Maaf, Sayang! Mamah mengganggu kamu, Mamah hanya ingin bertanya saja padamu, apakah kamu sudah memulainya? Apakah kamu merasa cocok dengan gadis-gadis itu," balas Mamah Rangga yang balik melontarkan pertanyaan kepada Rangga.


Rangga hanya diam mendengarkan setiap perkataan dari Mamahnya sendiri. "Hm, aku belum menemui mereka lagi, untuk pertemuan awal aku cukup dengan mereka, tapi aku tidak tahu bagaimana kedepannya, Mamah tenang saja, jika ada perkembangan mengenai rencana ini aku pasti akan selalu menghubungimu," jawab Rangga dengan tegas. Rangga menunjukkan tatapan dingin dan cukup tajam.


Mamah Rangga hanya diam dengan perasaan khawatir. "Hmm, begitu ya, maaf kalau Mamah banyak bertanya," kata Mamah Rangga bersalah.


"Rangga masih agak sibuk, Mah! Rangga lanjut kerja dulu ya." Rangga yang memang tidak bisa berlama-lama bicara dengan Mamahnya, karena pekerjaan kantor masih menumpuk dia harus buru-buru menutupnya.


"Hmm, iya, Mah!" tidak lama kemudian panggilan pun berakhir.


Rangga saat itu terlihat sangat dingin kepada Mamahnya sendiri. Bukan karena tanpa alasan, lelaki itu benar-benar sedang sibuk.


Mamah Rangga yang masih berada di dalam mobil hanya diam dan memperhatikan jalan di dalam mobil.


**


Hingga malam pun tiba, Rania sudah harus pulang ke rumah saat itu, karena cafe akan segera ditutup. Rania saat itu masih sibuk mengelap meja padahal sudah beberapa kali dia melakukannya, hal itu tentu saja membuat diri Lita yang melihat hal tersebut jadi bingung. "Hai, kamu itu sedari tadi belum selesai membersihkan meja? Apakah perlu aku bantu?" tanya Lita penasaran.

__ADS_1


Rania yang saat itu sedang melamun, dia pun segera memalingkan wajahnya dan menatap diri Lita. "Hehehe, iya, sebentar lagi, tidak perlu dibantu kok, aku sudah mau selesai, kamu silakan pulang duluan saja, biarkan aku yang mengurusnya, kerjaan kamu kan sudah selesai," balas Rania dengan tersenyum kaku.


Mendengar hal tersebut tentu saja membuat diri Lita jadi memakluminya, meskipun dia agak ragu. "Hmm, kamu yakin?" tanya Lita lagi.


"Iya, pergilah saja," sambut Rania lagi.


"Baik, aku pergi dulu ya, jangan pulang terlalu malam," kata Lita menasehati. Gadis itu segera pergi meninggalkan cafe.


Saat ini hanya tinggal Rania seorang diri di dalam tempat itu, dia kelihatannya sedang kebingungan dan memikirkan sesuatu. "Aduh bagaimana ini? Apakah aku yakin akan menemui dia, jujur saja aku sangat ketakutan, apalagi ini kali pertamaku berhadapan dengan dekat lelaki, dan mungkin aku juga harus menyerahkan Mahkotaku untuk dia, sungguh mimpi buruk yang teramat menyakitkan," dalam benak Rania. Kini terlihat tubuh Rania yang gemetaran.


Hingga beberapa saat kemudian, Rania dikejutkan dengan suara bel cafe yang ditekan oleh seseorang. Rania dengan cepat memalingkan wajahnya. "Halo selamat datang...." Rania terkejut seperti sedang melihat hantu, gadis itu dengan tatapan yang dingin, wajahnya pucat melihat seseorang berdiri tegap di depan pintu masuk.


"Tuan Erizal! Tamatlah aku!" dalam benak Rania. Sekarang ini degup jantungnya terdengar lebih cepat dari biasanya.


Rania hanya mampu menelan salivanya dengan perlahan. Sampai akhirnya Erizal berjalan masuk ke dalam lalu bicara tegas di hadapan Rania. "Mari, Non, ikut dengan saya," kata Erika dengan nada bicara yang tegas.


Rania terpaku seperti tidak mampu untuk bicara apapun. Hingga tidak lama kemudian Rania mencoba untuk memberikan sebuah balasan. "Ah, hahaha! Tuan Erizal, selamat datang, saya hendak tutup cafe dulu, saya juga tentu saja harus mandi, kan? Saya tidak menyangka Anda datang kemari, lho, hahahah!" Rania tertawa begitu kamu dan dibuat-buat.


Erizal yang melihat dan mendengar perkataan dari Rania hanya diam. Lalu pria itu menatap ke sekeliling. "Semua terlihat rapi dan baik, kok! Bagaimana kalau kita pergi sekarang?" tanya Erizal tegas.


Rania langsung menganggukkan kepala, meskipun dia sebenarnya tidak ingin, tapi sudah tidak ada jalan keluar lain.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2