Selir Jadi Yang Pertama

Selir Jadi Yang Pertama
Mencari Pembelaaan


__ADS_3

Sementara itu di sudut lain, Olive tampak masih kesal dan ingin marah tanpa henti. Yah, pikirannya masih sangat kacau karena Rania dan juga Rangga suaminya yang menurutnya semakin menjadi. Ia seperti kehilangan banyak hal dari Rangga dan itu membuatnya sangat marah alih-alih takut perceraian akan terjadi diantara mereka.


Ia mematung di depan cermin berusaha mencari titik kelemahan nya dimana. Sejenak senyuman tergambar jelas di wajahnya bertanda ia lumayan bangga dengan dirinya sendiri. Tapi kemudian, ia mendadak marah dan menunjuk dirinya sendiri yang ada di dalam cermin.


"Kamu pikir kamu siapa? Hah? Berani sekali bersikap tidak sopan padaku?" tudingnya.


Entah kepada siapa ia mengatakan hal itu, tak ada yang tau pasti. Bahkan petugas ART yang ada di rumah itu juga ikutan bingung ada apa dengan nyonyanya. Pulang langsung marah-marah tanpa sebab dan kemudian berganti pakaian dan memarahi pantulan wajahnya di cermin tanpa menutup pintu kamarnya juga. Jika memang ia butuh waktu sendiri untuk membuat dirinya sedih, setidaknya ia tak membiarkan orang lain tau tentang hal itu.


Setelah puas marah-marah sendiri, Olive mengganti pakaian lagi dengan pakaian kurang bahan yang sangat seksi. Yah, dia mengenakan atasan dengan kerah rendah hingga belahan dadanya sedikit menantang dipadukan dengan rok depan pendek yang memaparkan paha mulusnya secara gratis. Melihat gelagat seperti ini tentu saja akan menuai amarah dari Rangga jika saja pria itu ada dirumah. Tapi sepertinya hal itu dilakukan Olive hanya untuk membuat Rangga marah dan akhirnya kembali padanya setidaknya hanya untuk melarangnya melakukan hal-hal yang tidak ia sukai.


"Kamu sangat cantik seperti itu," katanya tiba-tiba memuji dirinya sendiri lagi.


Ia kemudian tersenyum dan tertawa terbahak-bahak tanpa sebab hingga art nya hanya bisa geleng-geleng kepala saja sambil menghembuskan nafas berat yang panjang. Melihat Artnya yang melakukan hal itu, membuat amarah Olive naik lagi. Dengan tatapan sinis dan tajam, ia menghampiri Art nya itu dan membentaknya.


"Kamu pikir kamu siapa? Berani melakukan hal itu padaku? Kamu mau dipecat?! Hah??"


Tak hanya sampai di sana, makian dan hinaan keluarlah sudah dari mulut mungilnya. Membuat Art nya sangat takut hingga bersujud di hadapannya. Namun dengan angkuhnya, Olive menendangnya Hinga tersungkur dan dia pergi begitu saja. Yah, Rangga berhasil membuat Olive menjadi sosok yang angkuh, sombong dan menyeramkan.


Lalu kemanakah dia pergi?

__ADS_1


Senyuman sinisnya kembali terlempar saat ia berhenti di sebuah club malam yang terkenal ramai karena minuman, judi dan juga kegiatan di dalamnya. Dengan elegan, ia melangkah masuk ke dalam . Yah, ini bukan kali pertama untuknya meskipun ia tak bisa sering ke mari karena larangan Rangga. Tapi jangan kira tak ada orang yang mengenalnya disini, malahan sembilan puluh persen orang di sini mengenalinya dan tak suka dengan sikapnya.


"Hai, kenapa dengan muka kamu?"


Cherry menyapa Olive dengan senyumannya yang sama mengerikannya. Yah, dia tak datang sendiri melainkan dengan teman-teman mereka yang punya kualitas sama.


"Tidak perlu dipikirin deh, mending kita minum aja dan mabuk sampai pagi," kata Olive sang sudah memesan minuman.


"Setuju!"


Ucapan yang langsung disetujui oleh rekannya membuat kesenangan tersendiri dalam diri Olive. Sejenak ia berharap lupa akan rasa marah dan kesalnya setidaknya saat minuman ini masih mengalir di tubuhnya dan meracuni darahnya.


"Yah, kenapa itu penting? Tak masalah juga dia marah atau tidak. Ia tak punya waktu buat aku dan selalu sibuk di kantornya, kenapa aku harus punya waktu dengan dia?" kata Olive Dangan sikapnya yang sudah di luar batas sadar.


"Percuma ngomongin itu, mending sekarang kita party aja," kata temannya yang lainnya.


Saat sedang asik-asiknya mabuk mabukan dan tertawa bersama tanpa beban, seorang pria datang menghampiri mereka dan mengedipkan mata pada Olive. Yah, siapa lagi kalau bukan pria tanpa tanggung jawab dan memang sengaja mencari mangsa di tempat seperti ini. Namun sialnya, ia malah harus menelan ludah kasar saat melihat Olive membuang muka dan menyeringai bertanda kalau ia sama sekali tak tertarik atau mungkin enggan terlibat dengan pria seperti itu.


"Hai cantik," sapa Pria itu sambil mengelus punggung Olive.

__ADS_1


Olive diam saja dan malah menenggak isi gelasnya dengan santainya dan tersenyum pada teman-temannya. Kemudian ia malah mencari topik pembicaraan agar mereka semua tidak diam saja dengan tujuan pria itu merasa diasingkan dan dianggap tidak ada.


"Kamu mau bersenang-senang dengan aku malam ini?"


Pria itu sepertinya memang tau siapa diantara mereka semua yang punya uang paling banyak. Yah, meskipun Olive menunjukkan sikap sombong dan acuh, ia tetap mencari cara agar wanita target ini bisa mematuhi dirinya malam ini saja.


Ia tak segan-segan segan menunduk dan berbisik di relingan Olive. "Kita akan menikmati malam ini tanpa rasa dingin loh, aku hanya minta sedikit saja darimu," katanya.


Bukannya mendapatkan angin segar, Olive malay bangkit dan mendorong pria itu hingga tersungkur. Dengan sombongnya ia menuding wajah pria itu dan menuangkan isi gelasnya ke wajah pria itu. Semua temannya hanya diam dan bersikap seolah mereka tak melihat apa-apa.


"Sampah seperti dirimu ingin tidur denganku malam ini? Ngaca ngga sih?" kata Olive dengan angkuhnya.


Mendapatkan perlakuan yang tidak wajar seperti itu membuat pria di hadapannya marah dan kemudian menampar Olive hingga ia tersungkur dan menabrak kursi juga. Tapi anehnya, tak ada seorang pun temannya yang punya inisiatif membantu dan malah asik sendiri menenggak minumannya yang membuat mereka merasa semakin tenang. Apa mungkin hal itu karena pengaruh alkohol yang membuat mereka tak punya perasaan yah? Bukan karena itu. Mereka tau benar sifat asli Olive yang tak ingin urusannya dicampuri.


"Wanita ****** seperti kamu tidak berhak berkata sampah di hadapanku. Kamu ingat kan seberapa sering kamu dipakai?" kata Pria itu marah.


"Kamu bilang apa? Kamu tau siapa aku?"


Tak lama kemudian pertengkaran mereka semakin menjadi dan cacian makian itu mentari tanpa bisa dipisahkan lagi. Karena sikap Olive yang semakin menjadi, pria itu akhirnya mengalah dan memutuskan pergi meskipun ia masih tak tahan dengan sikap wanita yang satu ini.

__ADS_1


Melihat itu membuat Olive besar kepala dan merasa kalau dirinya memang jago. Tanpa ia sadari di club yang sangat berat ini sekalipun tak ada orang yang menganggap dirinya layak disebut manusia. Bahkan saat dia dilecehkan seperti tadi saja semua orang diam dan menikmati waktunya sendirian.


__ADS_2