
Rania tetap membisu membiarkan bagaimana tangannya yang digenggam oleh pria yang rela membela dirinya dan menentang sang istri.
Rania juga tidak mengerti bagaimana respon yang harus ia tampilkan saat ini. Hatinya terasa lebih tenang dan menghangat ketika mendapatkan perlakuan yang demikian dari sang suami.
Rania tersenyum begitu samar. Tak bisa menampikkan jika dirinya merasa bahagia karena dibela begitu oleh sang suami.
"Apa kau lapar?" Rangga bertanya dengan tatapan yang lurus ke depan.
Saat ini keduanya sedang berada di dalam lift yang di mana, lift ini hanya boleh digunakan oleh Ceo perusahaan saja.
Jadi, tak heran jika Rangga berkata sebebasnya karena tidak akan pernah mungkin ada orang yang bisa mendengarnya.
Rania yang masih merasa ada jejak air mata yang setia bertengger di wajahnya pun lantas memutuskan untuk menyekanya sejenak menggunakan tangan kirinya yang terbebas dari genggaman Rangga.
"Te--terserah." Rania membalas dengan nada suaranya yang masih saja terbata-bata.
Hal itu tentu saja merupakan efek dari dirinya yang sengaja menahan untuk tidak menangis sedari tadi.
Setelahnya, tidak ada lagi percakapan yang terjadi di antara keduanya.
Ting! Pintu lift pun kini terbuka lebar. Menampilkan bagaimana Rangga yang sengaja tetap mempertahankan genggaman tangannya pada wanita itu.
Semua karyawan yang ada di sana pun sontak menajamkan pandangan mereka. Banyak desas-desus yang tidak enak mengenai pria dan wanita yang saling bergandengan tangan itu.
Merasakan aura yang sangat tidak mengenakan mulai menyelimuti dirinya. Rania lantas memilih untuk menundukkan wajahnya dalam-dalam.
Satu waktu pun, ia sama sekali tidak berani untuk mengangkat wajahnya.
Menyadari bagaimana Rania yang kala ini merasa sedikit kurang nyaman dengan segalanya. Rangga kemudian mulai memelankan langkah kakinya.
Rangga sengaja melakukan hal itu agar dirinya bisa mensejajarkan langkah kakinya dengan sang wanita yang setia menundukkan pandangannya.
__ADS_1
"Apa kau melakukan kesalahan sehingga berjalan menunduk seperti itu? Angkat kepalamu! Kau sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun! Ini perintah dari saya!" Rangga berucap dengan tegas membuat Rania yang sejujurnya masih kurang percaya diri pun terpaksa harus tetap menuruti perintahnya.
Entah dapat dorongan dari mana, dengan berani Rania kemudian melingkarkan tangannya pada lengan pria itu. Rangga sempat terhenyak tak menduga jika sang wanita akan bersikap berani seperti seperti.
"Kita akan pergi ke restoran di depan sana." Rangga berucap sebelum akhirnya mereka melangkah bersama dengan ditemani tatapan demi tatapan tak menyangka dari para karyawan.
Tepat ketika Rangga dan Rania sudah berada di lobi. Rangga pun lantas menuju meja resepsionis mengatakan jika ia perlu dipanggilkan seorang supir untuk mengantarkan mereka.
Mengingat jika tujuan mereka hanya berada tepat di sebrang jalan sana pun membuat Rania mengangkat suaranya.
"Tunggu, Pak Rangga. Kita bukannya hanya akan pergi ke depan sana. Kenapa harus memanggil supir juga?" Rania bertanya pelan.
Rangga yang mendengar hal itu pun lantas mengalihkan pandangannya. "Apa perlu saya jelaskan lebih detail lagi?" Rangga menjawab dengan begitu sinis.
Tampak setelahnya, Rania yang menghela nafasnya cukup panjang. Sebelum akhirnya ia kembali melakukan hal yang menurut Rangga sungguh di luar kebiasaan wanita itu.
"Ayo ikut saya, Pak Rangga!"
Tanpa ada rasa gentar sedikit pun Rania menuntun sang pria untuk menyebrang jalan menuju restoran yang tepat berada di sebrang perusahaan Rangga itu.
"Meskipun sedikit panas. Tapi, akan lebih baik kita nyebrang jalan kaki aja, Pak Rangga. Kasihan tau Pak Rangga sama supir kantornya kalau cuman di suruh nganter kita ke depan jalan kayak gini doang. Beliau juga pasti kecapean karena harus nganter Pak Rangga kesana dan kemari." Rania berucap dengan santainya.
Bahkan sampai-sampai Rangga merasa mungkin saat ini wanita itu tengah kerasukan, saking tak percayanya dengan sikap tiba-tiba wanita itu.
"Sebelum Pak Rangga bakalan bilang semua itu sudah menjadi resiko dan supir kantor itu dibayar untuk bekerja bukan dibebaskan begitu saja. Saya mau jelasin ke Pak Rangga. Ada kalanya kita harus memberikan ruang kepada orang lain. Selama ini supir kantor kan selalu memberikan pelayanan yang terbaik untuk Pak Rangga. Jadi, tidak ada salah bukan kalau sesekali kita kasih dia waktu longgar buat istirahat. Lagi pula kan sekalian aja buat kita olahraga nyebrang jalan gini."
Entah kenapa Rangga justru hanya terdiam tanpa memberikan perlawanan apapun kepada wanita itu.
Rangga seakan kehabisan kata-kata untuk menjawab wanita itu. Hingga sekitar 2 menit berlalu dan keduanya masih setia berdiri di koridor restoran barulah Rania seperti tersadar dari segalanya.
"Ya ampun! Apa yang baru saja aku katakan?! Bisa-bisanya aku berani menceramahi Pak Rangga. Dasar gadis bodoh! Kalau Pak Rangga sampai marah kayak gimana?! Mampus kamu, Rania!" Wanita itu pun lantas bergumam dengan suara yang masih terdengar jelas di telinga Rangga.
__ADS_1
Melihat tingkahnya yang demikian, entah mengapa membuat Rangga mampu menyunggingkan senyuman meski hanya samarnya.
"Pak Rangga! Saya benar-benar minta maaf untuk semua yang saya katakan tadi, Pak. Saya sama sekali gak bermaksud untuk menggurui Pak Rangga atau sebagainya. Saya menyesal sudah mengatakan semuanya. Saya mohon jangan marah kepada saya, Pak Rangga. Saya akan melakukan apapun asal Pak Rangga tidak sampai..."
"Saya susah lapar. Ayo kita masuk!" Rangga yang memang tidak ingin mendengar celotehan dari wanita itu pun memintanya untuk mengikuti Rangga saja.
Bahkan tanpa ragu, Rangga langsung saja menggandeng wanita itu agar lebih cepat mengikutinya.
Sebelum duduk, Rangga tampak melakukan observasi guna mencari tempat yang kosong dan tak berpenghuni kala itu.
Seperdetik kemudian barulah Rangga menemukan satu tempat duduk yang kosong, tepatnya berada di ujung sudut restoran itu.
Tanpa basa-basi lagi, Rangga langsung saja berjalan menuju sudut restoran itu. "Cepat duduk. Baca daftar menunya dan pesan makanan sesuai dengan keinginan saya sekarang ini."
Rangga berucap membuat Rania buru-buru duduk dan membaca daftar menu di hadapannya itu. Rania tampak tertegun, bukan karena makanannya melainkan karena nominal makanan itu yang menurutnya sangat fantastis.
Jujur, Rania tidak mengira jika makanan di sini cukup mahal. Sekilas, rasanya biasa saja tapi ternyata mahal juga.
Rania pikir harga di sini akan sama seperti warung makan biasanya ternyata di sini jauh lebih mahal.
"Pak Rangga. Apa gak sebaiknya kita cari tempat makan lain aja? Mending kita cari warung makan aja yuk Pak. Di sini harga makanannya mahal banget." Rania berbisik membuat Rangga sontak mengerutkan keningnya.
"Pesan makanan yang ingin saya makan hari ini. Jangan banyak bicara. Saya yang akan membayarnya dan kamu tidak perlu memikirkan harganya." Rangga menekankan kalimatnya.
Tepat ketika Rania ingin kembali memprotes namun dengan cepat Rangga memberikan kode mata yang membuat Rania memutuskan untuk bungkam.
"Mbak! Pesan ini dan minumannya ini ya, Mbak!" Rangga tersenyum saat menu yang dipilih Rania memang yang sedang diinginkannya.
Tanpa mereka sadar ada seseorang yang ikut mengawasi mereka. "Maaf jika aku harus melakukan ini." Sosok itu bergumam seraya memandang serbuk putih di tangannya itu.
***
__ADS_1