
Rania hanya diam melihat hal itu, dia kelihatan seperti masih syok, tidak lama kemudian wanita itu pun bicara lagi dengan Rania. "Non, kapan Anda akan mandi?" tanya perempuan itu dengan lembut.
Rania yang sebelumnya sedang merenung, seperti meratapi nasibnya, dia pun mendadak mengangkat wajahnya dan melihat ke arah wanita itu. "Hm, iya, aku akan segera mandi dan turun menemui Pak Rangga," balas Rania dengan tegas. Tapi suaranya begitu lemas dan masih gemetaran. Selaksa air matanya juga masih ada di matanya yang bulat.
Perempuan pelayan itu hanya diam, meskipun dia bisa melihat sendiri bagaimana kondisi dari Rania. Dia juga, tidak bisa melakukan apapun kepada Rania. Apalagi melihat tubuh Rania yang merah seperti itu. Rania dengan perlahan bangkit dari duduknya dia menggunakan selimut untuk menutup tubuhnya. "Kamu pergi saja, aku bisa melakukannya sendiri, kok!" ucap Rania. Dia melangkahkan kaki jenjangnya saat dia turun dari kasur.
Rania berjalan dengan sangat hati-hati seperti sedang menyembunyikan sesuatu di dalam diri. Mendengar apa yang diucapkan oleh Rania tentu saja membuat pelayan itu terkejut. "Hah? Anda benar tidak membutuhkan bantuan saya? Saya bersedia kok melayani Anda," balas wanita itu dengan tegas. Dia juga seperti takut jika tidak melakukan hal yang baik nanti malah akan terkena masalah dengan Pak Rangga.
Mendengar hal tersebut, Rania langsung memalingkan wajahnya dan melihat lagi diri wanita itu. "Tidak perlu kok, aku ingin melakukannya sendiri saja, tidak perlu sampai harus merepotkan kamu," tambah Rania sambil tersenyum manis dihadapan pelayan itu.
Akan tetapi pelayan itu terlihat masih sangat ragu dengan apa yang diucapkan oleh Rania. "Biarkan saya membantu Anda ya?" kata perencanaan itu lagi sambil memohon.
"Bisakah jangan? Aku hanya ingin melakukannya sendiri, aku tidak ingin diganggu dulu, bisakah?" balas Rania dengan penuh harapan.
Melihat dan mendengar Rania, tentu saja pelayan muda itu menjadi semakin paham. Tapi dia juga hanya ingin berlaku profesional. Akan tetapi Pelayan itu pun menghela napasnya cukup dalam. "Baiklah kalau begitu, saya akan menunggu Anda di luar ruangan kamar, saya tidak akan pergi kemanapun, jadi jika Anda memerlukan sesuatu panggil saja saya, nama saya Asa," tutur gadis pelayan itu dengan sopan kepada Rania. Dia juga terlihat tulus.
Rania segera tersenyum dengan tenang, mendapati jawaban itu dari Asa. Rania merasa Asa adalah seorang pelayan yang sangat baik kepada dirinya. "Terima kasih, Asa, namaku Rania," balas Rania dengan suara yang pelan.
Rania pun mengambil barang yang diberikan oleh Asa, saat itu sudah ada di atas kasurnya. Dia memasuki kamar mandi yang besar. Dan langsung menumpahkan air matanya yang tidak bisa dia bendung lagi. Dia menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Asa hanya diam dan keluar dari kamar Rania.
__ADS_1
"Kesucianku yang telah aku jaga puluhan tahun, akhirnya direnggut oleh seorang pria yang tidak aku kenal, tidak aku cintai juga, sungguh menyedihkan! Semua hanya karena perkara uang! Hidup ini kejam sekali padaku, aku telah hina sekarang, aku tidak memiliki jalan lagi setelah ini," dalam benak Rania yang masih merasakan sesak di dalam dada. Rania seperti terpuruk saat itu di jatuh sendiri.
Akan tetapi Rania mengingat kembali mengenai hutang Ayahnya dan kondisi dari Ayahnya sendiri. Rania tidak bisa melakukan apapun karena itu.
"Aku tidak boleh putus harapan, tidak boleh, tidak! Aku bukan seorang wanita bayaran, Aku masih memiliki harga diri kok, aku hanya terhimpit ekonomi, Aku menjijikkan!" dalam benak Rania yang semakin masuk ke dalam hancurnya kesedihan.
Sementara itu di ruang makan terluka Rangga yang masih duduk di atas kursi meja, di hadapannya ada piring dan minuman. Rangga saat itu sedang menggunakan pakaian formal, ya! Dia hendak berangkat ke kantor, namun sebelum itu Rangga hendak sarapan. Karena sekalian ingin mengajak Rania makan bersama, sekaligus Rangga juga hendak meminta maaf, karena mungkin semalam dia telah bertindak kasar terhadap Rania. Apalagi gadis itu masih perawan.
Rangga menunggu cukup lama, hingga dia beberapa kali melihat ke arah jam tangannya sendiri. Saat itu ada Erizal di samping kanan Rangga. Lelaki itu juga merasa bahwa Rania yang tidak kunjung turun menemui Rangga.
"Mengapa Non Rania tidak segera kemari? Mandi saja kok lama sekali," dalam benak Erizal yang sangat bingung.
Mendengar hal tersebut, Rangga tidak langsung memberikan jawaban, hingga Rangga membuka suaranya. "Tidak perlu, biarkan saja! Aku masih sanggup menunggunya," jawab Rangga tegas.
"Mungkin dia masih ketakutan, jadi dia ragu untuk turun menemuiku, tapi jika tidak seperti ini bagaimana mungkin hubunganku dengan dia akan baik? Dia kan harus melahirkan anak untukku, Mamah menginginkan seorang cucu lho!" dalam benak Rangga yang berpikir dengan logis.
Erizal yang di dekat Rangga langsung menganggukkan kepala karena dia mengerti, dia tidak jadi melakukannya karena dilarang oleh Rangga.
"Baik, Pak!" jawab Erizal tegas.
__ADS_1
Hingga beberapa saat kemudian, akhirnya Rania pun turun dengan seorang pelayan wanita. Dia menggunakan dress abu-abu dengan rambut yang panjang hitam. Rania menuruni anak tangga. Rangga yang mendengar suara seseorang dia pun segera memalingkan wajahnya dan melihat diri Rania dengan tegas.
"Akhirnya dia turun juga," dalam benak Rangga.
"Kemarin malam dia juga terluka di lengan bawahnya, aku baru menyadarinya saat aku menyentuh gadis ini, apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya?" dalam benak Rangga yang baru sadar.
Rania langsung duduk di kursi depan, berhadapan dengan Rangga, Rania hanya diam di sana. Dia diperintahkan oleh Pelayan untuk langsung menempatkan diri di kursi itu. "Maaf menunggu lama," kata Rania dengan gugup.
Rangga hanya diam mendengar perkataan dari Rania, lelaki itu pun segera menurunkan kode kepada Erizal dan pelayan untuk pergi meninggalkan mereka. Mengetahui hal tersebut kedua orang itu segera meninggalkan ruangan makan.
Rania hanya diam.
"Apakah kamu baik-baik saia?" tanya Rangga penasaran.
Mendengar hal tersebut, Rania langsung terkejut. Dia jadi khawatir. "I... Iya!" jawab Rania dengan cepat.
"Kamu sempat terluka, dan aku sangat kasar padamu, apakah kamu mengalami sebuah kecelakaan?" tanya Rangga dengan penasaran kepada Rania, dengan tatapan yang tajam.
"Hmm, tidak kecelakaan! Hanya saja kemarin karena kurang berhati-hati jadi terjatuh dan tidak sengaja terluka saat di jalan," balas Rania seadanya.
__ADS_1
Mendengar hal tersebut, sebenarnya Rangga tidak terlalu percaya dengan ucapan Rania. Namun dia juga tidak terlalu peduli. "Makan lah dulu, nanti aku akan bicara denganmu," kata Rangga lagi.