
"Selamat siang, Pak Rangga. Apa ada yang bisa saya bantu?" Erizal datang menemui sang atasan di kantor pusat milik keluarga Rangga.
Pria yang dipanggil dengan embel-embel Pak itu pun tampak memasang wajah datar tanpa ekspresinya seraya memutar-mutar tempat duduknya saat ini.
Rangga mendongak menatap dalam ke arah sang asisten.
"Kemarilah. Duduk di depan saya." Rangga memerintah membuat Erizal sebagai asisten pun langsung menganggukkan kepalanya menyetujui.
Sembari melangkahkan kakinya ke arah sang atasan, Erizal menutup mulutnya rapat-rapat. Dalam hatinya, Erizal memantapkan dirinya agar tidak menolak atau berkata sepatah kata pun lagi kepada sang atasan sebab ini adalah kali pertamanya dari sekian kali sang atasan memanggil dirinya, ia diminta untuk duduk di kursi dan menghadap sang atasan tersebut.
"Apa tujuan kamu mengikutinya?" Erizal terhenyak kala sang atasan tiba-tiba berkata yang demikian. Dengan terbata, Erizal lantas menjawab. "Ma--maksud anda, Pak Rangga?" tanyanya mengundang seringai yang langsung terbit di wajah Rangga kala itu.
Jujur, Erizal sama sekali tidak mengerti dengan maksud perkataan dari sang atasan itu. Lebih tepatnya, Erizal merasa tidak percaya jika sang atasan mengetahui setiap gerak-geriknya itu. Tak bisa ditampikkan, sebuah perasaan cemas dan takut jika sang atasan akan mengintrogasi lebih lanjut dirinya atau bahkan bisa saja memecat dirinya mulai menyelimuti diri Erizal.
Biarpun Rania notabenya hanyalah selir bagi sang atasan, bukankah wanita itu tetap menjadi bagian dari hidup sang atasan?
Erizal mengelap bibirnya yang tiba-tiba saja mengering, sorot matanya menggambarkan jelas bagaimana perasaannya saat ini.
Rangga lantas berdecak memandang Erizal dengan tatapan yang Erizal sendiri tidak mengerti. "Saya suka dengan keputusan kamu yang memancingnya pergi ke mall itu. Sudah sejak lama saya ingin melihat wanita itu menunjukkan bagaimana sifat aslinya. Melihatnya seperti saat memarahimu tadi, siapapun akan merasa malu untuk mengakui jika wanita itu adalah milik kita, bukan?" Erizal sontak mengangkat wajahnya.
Tampak bagaimana kening pria itu mulai berkerut ambigu. Tunggu dulu! Apa jangan-jangan sekarang Erizal tengah salah dalam mengartikan? Sepertinya sosok yang dimaksud oleh Rangga saat ini bukanlah orang yang sama dengan pemikiran Erizal.
"Apakah Pak Rangga tengah membicarakan Nyonya Olive?" Erizal bertanya dengan sorot tatapan seriusnya.
__ADS_1
Hal itu justru membuat kerutan akhirnya kembali terbit di wajah tampan sang atasan itu. "Tentu saja. Siapa lagi yang saya bicarakan jika bukan wanita itu?" Erizal mengerjap sebelum akhirnya ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tegas.
"Tidak, Pak. Tidak ada wanita lain. Saya hanya tidak mengira saja, tumben sekali Pak Rangga membicarakan soal Nyonya Olive seperti ini dengan saya. Apakah Pak Rangga ada di tempat kejadian saat itu?" Erizal bertanya dengan nada penuh hati-hati.
Helaan nafas yang melegakan pun tak bisa dibohongi langsung berhembus dari mulut pria itu. 'Untunglah, Pak Rangga membahas perihal Nyonya Olive. Semoga saja dia tidak mengetahui tentang aku yang diam-diam mengajak Rania jalan-jalan bersama denganku tadi.' Erizal membatin pelan berharap jika batinannya itu bisa didengar dan dikabulkan oleh sang pencipta.
"Haha.. ada apa? Tidak. Saya hanya mendengar kabar itu dari beberapa orang yang saya kenal dan kebetulan berada satu tempat denganmu. Entah kenapa saya bisa membicarakan soal wanita itu kepadamu. Tapi, mungkin semua ini terjadi spontan karena saya merasa senang saja. Wanita itu memang pantas dipermalukan. Saya dengar, ini sudah kesekian kalinya dia memarahimu." Rangga berkata demikian membuat Erizal mampu bernafas lega saat ini.
Sebenarnya, diam-diam Erizal merasa nyaman menjalin pertemanan dengan selir atasannya itu. Untuk saat ini, tidak ada rasa apapun selain hanya pertemanan di antara mereka.
Rutinitas Rangga yang hari itu sibuk membuat Rania ditemukan oleh Erizal tampak bosan dan merenung. Tak lama inisiatif lantas muncul di dalam benak Erizal yang akhirnya membawa pria itu untuk mengajak Rania pergi jalan-jalan bersamanya.
Tepat kala itu, untunglah Rania sedang berpamitan ke toilet. Olive yang entah darimana datangnya langsung memarahinya. Terlepas dari Rangga tau atau diberitahukan oleh orang-orang yang menyaksikan perdebatan mereka, Olive sempat mengatakan jika wanita itu menuduh Erizal ada mendekati Rania.
Rania yang notabenya hanya dari kalangan biasa pasti tidak akan mengerti bagaimana cara menenangkan Rangga. Menurut pemikiran Olive, setelah Rania hanya membuat emosi Rangga meledak nantinya dirinya lah yang akan berperan lagi untuk peluluh hati pria itu.
Berhubung cukup lama Olive mengomel dan Rania masih belum menunjukkan batang hidungnya, untuk kesekian kalinya Olive merasa malu karena tuduhannya sama sekali tidak benar.
Satu hal lainnya, Erizal sama sekali tidak menyangka jika Rangga selalu mendapatkan informasi mengenai setiap kejadian yang ada. Mungkin Rangga tengah sengaja mengawasi Olive, batin Erizal berkata.
Untung saja lah, Rangga tidak mengetahui perihal dekatnya Erizal dengan Rania itu.
"Erizal? Kamu baik-baik saja? Ada apa? Kenapa tidak menyahut ucapan saya sedari tadi?" Rangga bertanya membuat Erizal tersadar dari lamunannya saat itu juga.
__ADS_1
Kembali, Erizal menegakkan tubuhnya. Perlahan terlihat bagaimana kepalanya yang digeleng-gelengkan oleh pria itu dengan sengaja.
"Tidak mengapa Pak Rangga. Saya hanya sedang memikirkan satu hal lain saja. Mungkin tentang orang tua saya." Erizal bersilat lidah.
Entah benar atau tidak sang atasan percaya pada ucapannya, namun yang pasti kala itu sang atasan tampak mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.
"Apa ada masalah terhadap ekonomi keluarga kamu? Kamu bisa meminta pinjaman pada saya jika kamu memang butuh sebelum gaji kamu keluar." Seperti biasanya Rangga selalu menawarkan hal demikian.
Erizal sudah menjadi kepercayaan bagi Rangga sejak lama sekali, tak heran jika dari gaya bicaranya memperlihatkan bagaimana Rangga yang tidak menganggap Erizal layaknya orang asing pada umumnya. Bisa di bilang mungkin Erizal sudah menjadi saudara sendiri bagi Rangga.
"Tidak perlu, Pak Rangga. Saya masih memiliki beberapa uang di tabungan. Jika saya memang sangat perlu dan tidak ada dana lagi mungkin nanti saya bisa menghubungi Pak Rangga." Erizal kembali bersilat lidah. Rangga kemudian mengangguk, "Tolong kamu panggilkan Rania agar datang menemui saya sekarang juga. Ada urusan penting yang harus saya bicarakan segera dengannya."
Erizal mengerjap tanpa sadar sebuah kalimat yang tidak sepantasnya terucap justru terlontarkan dari mulutnya. "Urusan apa, Pak?" Rangga mengernyit seakan menandakan jika Erizal tak pantas mengatakan hal demikian.
"Apa perlu saya katakan urusan antara saya dan Rania kepada kamu?" Erizal buru-buru menggeleng, dalam hati ia merutuki mulutnya yang tak terkontrol.
"Tidak Pak. Kalau begitu saya permisi dulu." Erizal berniat pergi, ingin segera memanggil Rania untuk menemui sang atasan segera.
Namun baru beberapa langkah ia pergi, Rangga lantas menghentikannya.
"Tunggu! Apakah kamu masih bisa berpikir saya tidak mengetahui alasan kamu pergi ke Mall itu? Apakah kamu berpikir saya hanya memata-matai Olive saja?"
Deg! Erizal terdiam tak bisa berkutik lagi.
__ADS_1
***