Selir Jadi Yang Pertama

Selir Jadi Yang Pertama
Perlawanan


__ADS_3

Rania hanya diam saja menatap semua itu. Dia terlihat sangat tenang.


"Wih, banyak juga uang yang kamu berikan ini, dapat dari mana? Jual diri ya?" kata seorang pria yang langsung menatap wajah Rania dengan tatapan yang merendahkan gadis itu.


Mendengar apa ya g diucapkan oleh pria itu tentu saja membuat diri Rania jadi sangat tidak senang, dia sangat kesal karena pria itu malah menyinggung dirinya. "Ada urusan apa kamu dengan aku? Aku cukup membayar hutang dan kamu menerimanya, hanya itu dan sudah cukup! Apa urusanmu sampai harus membahas masalah pribadiku? Apakah tidak cukup?" tanya Rania yang sudah benyak mengontrol perasaan kesal dan marahnya kepada pria itu.


"Widih, galak juga kamu ya, sudah berani sepertinya melawan? Kenapa? Apakah kami telah dihidupi oleh seorang pria kaya? Apakah kamu memberikan pelayanan yang luar biasa kepada lelaki itu? Hingga kamu bisa membuat dia jadi tergila-gila dengan kamu? Apakah pelayananmu sangat memuaskan?" balas pria itu dengan tatapan dingin dia menatap tubuh Rania dari atas sampai ke bawah dengan pandangan gila.


Rania merasa sangat kesal mendengar ejekan itu, ditambah dengan suara tawa dan tatapan menjijikkan. Rania sudah mengepalkan telapak tangannya dengan cukup kuat. Gadis itu sebenarnya tidak terima, namun dia mencoba untuk bersabar. "Apakah kalian tidak ingin pergi? Bukankah masih banyak hal yang seharusnya kalian urus? Atau kalian ingin mendengarkan aku yang akan membalas kalian di sini? Tapi apa sih gunanya melawan gonggongan Anjing? Fufufu, aku kan manusia yang waras!" Rania menjatuhkan sindiran kepada lelaki itu. Dia seolah tidak takut dengan hal apapun. Apalagi hanya dua pria seperti mereka. Kan sama-sama makan nasi, apa yang seterusnya Rania khawatirkan?


"Kurang ajar! Berani sekali kamu bicara seperti itu kepada kami?! Apakah kamu tidak takut jika kami melakukan hal buruk padamu? Apakah kamu masih dapat berkata dengan sombong kepada kami, hah?!" lelaki itu membentak Rania dengan kasar. Tatapan dingin itu segera mendatangi Rania.

__ADS_1


"Coba saja kalau kalian bisa! Aku sudah merekam semuanya, dan aku juga telah mengumpulkan banyak bukti mengenai tindak tanduk kalian kepadaku selama ini, jika aku menyebarkannya ke sosial media pasti akan banyak orang yang mengecam kalian, apalagi jaman seperti sekarang ini apa sih yang tidak bisa langsung viral? Ingin coba?" kata Rania dengan tegas dia tersenyum licik di hadapan kedua pria itu.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Rania tentu saja membuat mereka jadi khawatir dan resah sendiri. "Hei! Apa-apaan kamu ini, cepat berikan ponsel itu kepada kami, atau segera lenyapkan apapun yang kamu simpan di dalam HP itu mengenai kami, jangan sampai karena itu dapat merusak citra kami sebagai pegawai Bank!" sahut keduanya yang terlihat cemas dan takut. Jika Rania mengindahkan apa yang dia katakan sendiri.


Rania sedikit tertawa kecil, dia tahu apa yang gadis itu lakukan dapat membuat mereka berdua jadi kebakaran jenggot. "Boleh saja, tapi cepat tinggalkan tempat ini, dan jangan ganggu aku lagi, dengan terror kalian dalam bentuk apapun itu! Dengar tidak?" balas Rania dengan galak.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Rania tentunya membuat kedua pria itu sebenarnya kesal. "Kalau kamu membayar hutang dengan lancar, mungkin kejadian seperti ini kan tidak akan pernah terjadi, tapi kamu malah menggunakan cara lain untuk menekan kami," tambah pria itu dengan tegas dan agak khawatir.


'Kurang ajar, gadis kecil ini sungguh berani sekali, aku tidak menyangka dia akan melakukannya padaku, tapi kini aku tidak mampu melakukan apapun, di sini kan masih perumahannya. Banyak warga sekitar yang tinggal jika aku melakukan hal buruk mungkin banyak dari mereka yang akan segera melaporkan aku ke pihak berwajib, reputasiku kan bisa hancur, ah! Sialan!' dalam benak pria itu tidak senang.


"Baik, kami akan segera pergi, tapi kamu juga harus ingat, jangan sampai menunggak lagi, atau jika tidak kamu tidak akan sanggup mendengar apalagi menerima apa yang akan kami lakukan padamu dan juga Ayahmu! Roy, ayo kita pergi!" kata pria itu dengan tegas. Dia segera melangkahkan kaki jenjangnya untuk bisa meninggalkan Rania.

__ADS_1


Mereka pergi dengan perasaan tidak senang pada diri Rania. Sementara itu Rania masih diam tanpa melihat sedikit saja ke arah mereka. Setelah mereka berdua benar-benar telah tidak ada lagi, Rania langsung menghela napasnya dengan dalam dan berat.


"Haaaaaah! Akhirnya mereka pergi juga, syukurlah, aku sungguh takut," dalam benak Rania yang langsung lemas.


Sebenarnya Rania itu sangat ketakutan, saat menghadapi dua pria itu, dia memang membutuhkan keberanian yang luar biasa. "Mereka hanya digertak seperti itu saja langsung takut dan kabur. Padahal aku tidak melakukan apapun, tidak sempat juga aku melakukan itu, karena aku yang terlalu sibuk mengurus ini dan itu, aku sungguh tidak menyangka mereka langsung mempercayainya begitu saja," dalam benak Rania yang merasa agak tenang.


Dia memeluk ponsel genggamnya begitu erat. "Mereka tidak mungkin kembali lagi, kan? Aku telah membayar hutang, lho! Jangan sampai mereka datang, aku takut sekali, aku sungguh sudah tidak peduli lagi dengan hidup ini akan dibawa ke mana? Rasanya aku sudah tidak memiliki harapan apapun setelah aku menerima uang itu dan menjadi selir dari pria kaya itu, hanya dijadikan mesin anak, haah ... Tidak masalah lah. Yang terpenting aku dapat uang." Rania seketika menjatuhkan harga dirinya dan hanya bisa menerima nasibnya sekarang ini menjadi simpanan pria kaya.


Rania menundukkan kepalanya dia terlamun sejenak mengingat setiap kejadian yang telah terjadi padanya.


"Aku tidak penting, yang paling aku pikirkan adalah Ayah sekarang ini!" kembali benak Rania bicara dia membayangkan Ayahnya sendiri.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2