
Rania terkejut saat mendengar apa yang diucapkan oleh Rangga saat itu. Dia jadi bingung saat ini apa yang seharusnya dilakukan oleh gadis itu.
"Waduh, bagaimana ini? Aku kan tidak punya uang untuk melunasinya, aku juga masih memiliki hutang dengan bank, waktu tiga hari itu Sang singkat bagiku, bagaimana ini?" dalam benak Rania yang kebingungan sendiri.
Rangga menatap wajah Rania dengan tegas dan tajam, dia hanya diam sambil menunggu Rania bicara untuk memberikan sebuah balasan kepada dirinya.
Rania jadi ketakutan, dia tatap wajah Rangga yang saat itu sedang berdiri dengan tegap dihadapan gadis itu. Rania tidak bisa berkata apapun sebelumnya karena sangat khawatir.
Melihat Rania yang tidak berani untuk memberikan suaranya, Rangga langsung menghela napas cukup dalam, dia pun mulai berkata lagi, "Jika kamu memang tidak bisa melunasinya dalam tempo yang sudah aku tetapkan, maka kamu harus bersedia menjadi selirku sampai kamu memilih keturunan dariku, lagipula kamu sudah menandatangani berkas yang sebelumnya diberikan oleh Erizal, sekarang kamu main menolaknya begitu saja, apakah kamu tidak membaca semua informasi yang tertera di dalam sana?" tanya Rangga dengan tegas kepada Rania.
Rania kembali terkejut, dia telah melupakan surat perjanjian itu, sungguh teledor. "Astaga, aku baru mengingatnya, sungguh bodoh, mungkin sudah tidak ada jalan lagi bagiku saat ini untuk berjalan mundur, aku hanya bisa menerimanya dengan ikhlas," dalam benak Rania yang baru tersadar.
Rania langsung jadi sedih saat itu juga, dia seperti telah patah harapannya, karena kecerobohannya sendiri. Waktu itu Rania asal saja menandatangani dokumen tanpa membacanya dengan lebih teliti lagi. Karena dia sudah didesak oleh Bank dan pihak rumah sakit.
"Tamat sudah," dalam batin Rania yang hanya bisa pasrah.
Melihat Rania yang jadi kaku dan diam lagi, Rangga pun langsung duduk di atas kasur dengan tenang. "Kamu sekarang yakin dengan pilihanmu untuk pergi? Silakan saja aku tidak akan melarang kok, gadis labil seperti kamu, mungkin kedepannya juga tidak akan cukup baik untuk diriku!" Rangga langsung merendahkan Rania, dengan memasang tatapan dingin dan tajam kepada gadis itu.
Rania semakin tidak menyangka dengan hal tersebut, dia khawatir dan itu terlihat jelas dari raut wajahnya. Suasana di dalam ruangan kamar pun menjadi tegang dalam seketika.
__ADS_1
"Aku... Aku... Aku minta maaf, Pak! Aku akan menerimanya dan tidak akan mundur lagi," kata Rania. Dia sebelumnya telah mencengkram erat telapak tangannya. Dan batinnya pun berdebat dengan sangat hebat sebelum akhirnya Rania memutuskannya.
Rangga hanya terdiam dengan tenang. "Yakin?" tanya Rangga yang memeriksa.
Rania menganggukkan kepala, sambil tersenyum sepat. Rangga pun menganggukkan kepala dan segera mengulurkan tangan kanannya dihadapan Rania. "Kemari kamu, aku akan langsung memulainya saja, aku malas terlalu lama, apalagi sebelumnya kita sempat berbincang, aku masih agak sibuk!" ucap Rangga debat terus terang.
Saat itu juga terlihat kok, bagaimana Rangga yang sudah menjadi badmood kepada Rania. Rania memang masih ragu dalam hati, namun dia harus melakukannya. "Sudahlah, Ran! Tidak apa, anggap saja ini hanya mimpi buruk, jangan menangis di dalam hati, sudah cukup! Semua akan baik-baik saja," dalam benak Rania yang masih ragu. Namun dia harus melakukannya.
Dengan perlahan, Rania pun melangkahkan kaki jenjangnya untuk bisa mendekati Rangga, dengan tubuh yang masih gemetaran. Rania mengulurkan tangan kanannya. Rangga tentu saja bisa merasakan bagaimana kondisi dari Rania saat itu. Melihat Rangga seperti seorang penjahat muda kepada dirinya.
Rangga segera menggapai tangan Rania, dan menariknya ke dalam dekapan lelaki itu. Rania duduk tepat di pangkuan Rangga. Rania terkejut bukan main, dia mencoba untuk tetap tenang meskipun jantungnya seperti ingin copot saja rasanya. Irama yang kencang merasuk dalam dirinya.
"Aku kuat! Aku bisa! Aku kuat! Aku bisa! Ini hanya mimpi buruk! Aku tidak mungkin kalah! Aku bisa!" dalam benak Rania yang ketakutan, tubuhnya semakin gemetaran, dan lebih kencang lagi dari sebelumnya.
"Gadis ini memang tidak berminat denganku, tapi salahnya sendiri sudah memilih tindakan yang dia sendiri tidak sanggup menanggungnya! Gadis yang lemah dan mudah rapuh tapi sok kuat dan sok mampu! Aku tidak suka! Dia begitu polos hingga menaruhkan apapun meski harus menyakiti dirinya sendiri! Sungguh menyedihkan!" dalam benak Rangga yang saat itu masih menatap diri Rania.
"Tidak masalah, semua akan baik-baik saja!" dalam benak Rania yang sangat cemas.
Dia memejamkan sepasang matanya begitu lama, namun Rangga belum juga memulainya membuat Rania membuka matanya dengan besar. Rangga melihat Rania tajam. Rania kembali memejamkan matanya lagi.
__ADS_1
Malam masih panjang
Di dalam kota yang begitu ramai dengan lalu lalang kendaraan, lampu di dalam bangunan besar kerlap-kerlip, ditambah dengan langit yang terang. Suara yang cukup berisik tidak dapat dipungkiri ibukota yang mentereng di wilayahnya.
Hingga keesokan harinya. Rania yang masih tidur dengan lelap di atas kasur seorang diri. Gadis itu menggunakan selimut yang sangat tebal berwarna putih bersih.
Rania terbangun dari tidurnya karena sinar matahari yang menyibak wajahnya. Terang itu memasuki celah dari jendela kamar yang besar. Tidak lama kemudian Rania pun bangun dari tidurnya dengan lemas. Rania duduk dengan raut wajahnya yang lesu.
"Sssssst! Sakit sekali," keluh Rania karena punggungnya yang seperti akan remuk.
Rania terdiam lagi, dan tanpa sengaja gadis itu mengingat kembali kejadian mengerikan kemarin malam. Rania langsung menangis dengan tersedu. "Semua sudah terjadi," dalam benak Rania yang Sang terpukul.
Terlihat tubuh Rania merah-merah semua karena ulah dari Rangga. Saat Rania masih meratapi nasibnya. Rania dikejutkan dengan suara orang yang mengetuk pintu kamarnya, dan itu membuat Rania jadi terkejut. Rania segera memalingkan wajah tanpa bicara.
"Non, apakah Anda sudah bangun?" tanya seseorang wanita dengan suara yang lembut kepada Rania.
Rania segera menghapus air matanya. "Eh, iya, sudah bangun," balas Rania tegas.
"Saya izin masuk," kata wanita itu dengan sopan.
__ADS_1
"Oh, silakan!" balas Rania lagi.
Tidak lama kemudian pintu pun dibuka oleh seseorang, Rania memalingkan wajah dan menatap wanita itu. Dia menggunakan seragam putih seperti seorang pelayan rumah, wanita itu membawa pakaian ke dalam. "Non, ini pakaian Anda, Pak Rangga sudah menunggu Anda di meja makan, meminta Anda untuk bersiap turun dan sarapan," tambah wanita itu yang segera meletakkan pakaian di atas kasur.