
Mendengar apa yang diucapkan oleh Mamah Rangga, tidak ada keraguan bagi Rania untuk tidak memberikan jawaban apapun. "Usia saya 22 tahun, Buk," balas Rabu dengan tenang. Dia tersenyum dihadapan Mamah Rangga.
Mendengar hal itu tentu saja Mamah Rangga langsung menganggukkan kepalanya, dia cukup senang dengan diri Rania. Dia juga merasa nyaman dan setiap ucapan Rania dapat dia terima dengan baik.
"Ternyata kamu masih berusia muda ya, kamu sungguh hebat!" puji Mamah Rangga kepada Rania.
Rania tersenyum kaku mendengar hal tersebut, gadis itu terlihat cukup sungkan kepada Mamah Rangga. "Hahah, tidak juga, saya hanya gadis biasa tidak sehebat yang Anda pikirkan, sayalah yang seharusnya mengatakan bahwa Anda Ibu yang luar biasa untuk memberikan dedikasi kepada Putranya sendiri," balas Rania sambil tersenyum. Mereka saling menatap satu sama lainnya.
Setelah tiba di rumah sakit, Rania memasuki ruangan pasien bersama dengan Mamahnya Rangga. Rania duduk di atas kasur di hanya diam sambil diobati oleh seorang perawat rumah sakit. Mamah Rangga hanya diam dengan pandangan yang cukup khawatir. "Wah sungguh beruntung, Anda memiliki seorang Ibu Mertua yang begitu perhatian," kata gadis perawat itu kepada Rania.
Rania langsung terkejut saat mendengar hal tersebut. Dia pun menggelengkan kepalanya. "Beliau bukan Mertua atau Ibu atau saudara, kita bertemu tidak sengaja di jalan, hehe, saya juga belum menikah," balas Rania dengan jujur.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Rania, gadis perawat itu langsung tersenyum. Tidak lama kemudian dia segera meninggalkan Rania. Mamah Rangga langsung mendatangi Rania dan berdiri tegap di hadapan Rania. "Apakah kamu sudah akan pergi?" tanya Mamah Rangga penasaran.
"Benar, saya harus bekerja lagi, Buk!" balas Rania dengan tegas.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Rania Mamah Rangga hanya menganggukkan kepalanya, dia sebenarnya tidak ingin jika Rania pergi. Namun Mamah Rangga juga tidak mampu untuk melarang Rania. "Baiklah, jika itu keinginanmu, aku akan mengantarkan kamu lagi, mari!" tambah Mamah Rangga dengan tegas.
Rania terkejut mendengar hal itu, dia pun menatap wajah Mamah Rangga tegas. "Hah?! Tidak perlu, Buk! Saya bisa pergi sendiri kok, tidak seharusnya saya kembali merepotkan Anda," kata Rania terlihat sungkan.
Akan tetapi Mamah Rangga menjadi tidak senang dengan hal tersebut. "Tidak bisa dong! Kamu harus pergi denganku, ini adalah amanah untuk seorang anak kecil, apakah kamu berani membuatku mengingkari amanah ini?" tanya Mamah Rangga dengan tegas.
Rania sebenarnya hanya tidak ingin merepotkan Mamah Rangga lagi, jika wanita itu kembali mengantarnya. "Tidak, bukan seperti itu, Buk! Saya...." Rania mendadak terkejut, sehingga gadis itu harus menghentikan ucapannya sendiri. Dia tatap dengan tajam wajah Mamah Rangga yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Tidak ada penolakan, pokoknya kamu harus ikut denganku, ayo sini aku bantu," timpal Mamah Rangga. Wanita itu segera mendekati tubuh Rania dan menyentuh tubuh Rania dengan perlahan.
"Sebenarnya tidak perlu, tapi mohon bantuannya ya, Buk," kata Rania yang tidak bisa menolaknya lagi.
Dia dan Mamah Rangga segera keluar dari rumah sakit. Di dalam perjalanan Rania lebih banyak diam, namun Mamah Rangga yang tidak senang merasa canggung jadi dia pun langsung kembali memulai percakapan lagi.
"Kalau saya boleh tahu kamu bekerja di mana? Agar kami dapat mengantarkan kamu langsung ke tempat kerja," kata Mamah Rangga dengan tegas sambil menatap wajah Rania tenang.
"Oh, saya bekerja di cafe Sakura Kencana," balas Rania dengan tegas. Dia kembali berkata jujur kepada Mamah Rangga menjawab dengan seadanya.
Obrolan mereka sama sekali tidak terputus, dikarenakan Mamah Rangga yang orangnya memang asik untuk diajak bicara.
"Wah, kamu bekerja di sana? Apakah kamu pelayan atau kasir? Bisa jadi juru masaknya ya?" tanya Mamah Rangga penasaran.
Mamah Rangga kebingungan. "Apakah di sana kekurangan karyawan?" tanya Mamah Rangga penasaran.
Rania menganggukkan kepala. "Benar," jawab Rania jujur lagi.
Mamah Rangga jadi cukup mengerti, semua bisnis akan ada pasang surutnya, semua bisnis yang dibangun memiliki pertimbangan besar. Dan menemukan karyawan yang cocok juga tidak mudah.
"Kamu harus semangat ya!" kata Mamah Rangga dengan suara yang sangat lembut.
Rania hanya tersenyum mendengar hal tersebut.
__ADS_1
Hingga beberapa saat kemudian akhirnya mereka pun tiba di depan cafe di tempat Rania bekerja. Mamah Rania yang berada di dalam mobil hitam hanya melihat pemandangan dari luar di balik kaca mobil yang hitam.
Segera Rania pun memalingkan wajahnya dan kembali menatap diri Mamah Rangga. "Buk, saya permisi dulu ya, terima kasih atas kebaikannya kepada saya, saya harus kembali untuk bekerja," kata Rania dengan suaranya yang lembut.
Mamah Rangga langsung memberikan balasan berupa senyuman kepada Rania. "Sama-sama, jangan sungkan kepadaku, selamat bekerja, ingat untuk selalu berhati-hati," balas Mamah Rangga yang begitu perhatian kepada Rania.
Rania memberikan balasan berupa senyuman yang manis kepada Mamah Rangga. "Baik, terima kasih sekali lagi, saya permisi, mari...." Rania segera membuka pintu mobil dan meninggalkan Mamah Rangga bersama supir di dalam kendaraan Mamah Rangga yang mewah.
Rania melangkahkan kaki jenjangnya untuk bisa mendekati cafe tempat gadis itu bekerja. Sementara itu dari kejauhan terlihat Mamah Rangga yang sangat fokus pada diri Rania, dia sama sekali tidak memalingkan wajahnya sebelum melihat Rania benar-benar hilang dari pandangan wanita itu.
Mamah Rangga mendadak tersenyum dengan manis. Sementara itu terlihat di depan ada seorang supir yang melihat diri Mamah Rangga dari kaca mobil.
"Nyonya kita pergi sekarang?" tanya supir itu dengan penasaran.
Mendengar apa yang diucapkan oleh lelaki itu segera menyadarkan Mamah Rangga. Dia memalingkan wajahnya dan menatap ke arah depan, melihat punggung supirnya. "Ya, kita harus pergi sekarang juga," balas Mamah Rangga dengan tegas kepada supir itu.
Supir itu langsung meninggalkan halaman depan cafe tempat Rania bekerja. Rania yang masuk ke dalam cafe dia segera mendekati tempat biasanya dia tinggal untuk melakukan pekerjaan. Lita dari kejauhan melihat diri Rania yang tiba, tapi tubuh gadis itu terluka, hal tersebut tentu saja membuat Lita terkejut.
"Ya ampun, Ran, kamu kenapa?" tanya Kita penasaran. Dia membulatkan sepasang matanya untuk bisa memperhatikan dengan jelas tubuh Rania.
Rania yang terkejut langsung memalingkan wajahnya meski terus berjalan. "Aku tidak apa kok, ini hanya kecelakaan biasa saja di jalan," balas Rania jujur.
Lita yang begitu khawatir, segera mendatangi tempat Rania. "Iiih, kok sampai seperti itu? Kamu ditabrak ya?" tanya Lita dengan tatapan tajam.
__ADS_1
BERSAMBUNG...