
Segera Suthan menggendong tubuh Jasmine ke dalam mobil untuk segera membawa kerumah sakit untuk mendapat kan perawatan. Suthan sangat kahwatir karena masih keuar darah - darah segar sehabis keguguran tadi.
Hujan sangat lebat turun malam ini, Suthan melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi walau hujan sangat lebat dan jalanan gelap karena sekarang sudah jam satu dini hari.
Dalam deras nya hujan, air mata Jasmien seakan - akan lebih deras mengalir mengalahkan air hujan.
Perasaan Suthan juga campur aduk, dia sangat terpukul dengan kejadian ini, dan dia juga sangat mengkahwatirkan istri nya.
Dalam waktu sepuluh menit mereka sudah sampe ke rumah sakit terdekat.
Suthan menghentikan mobilnya di depan IGD dan menggendong Jasmine ke ranjang. Sebelum nya Suthan menyerah kan kunci mobil kepada security yang berjaga dekat ruang IGD untuk memarkirkan mobilnya.
Perawat langsung bertanya apa yang terjadi.
"Ada apa dengan ibunya pak?"
"Istri saya baru keguguran suster" sahut Suthan.
perawat mulai memeriksa keadaan Jasmine, suster membukakan pakaian dal** untuk memeriksa keadaan nya.
Suster melihat keadaan va**** dan mengatakan kalau sudah terjadi buka satu. Lalu memasukkan alat seperti cocor bebek untuk melihat kondisi rahim nya.
Suster melakukan test tekanan darah, juga melakukan EKG ( Elektrokardiogram ), pengambilan sempel darah, test covid. Sewaktu melakukan semua test tersebut perawat bertanya tentang banyak hal.
"Ini keguguran ibu yang pertama atau sebelumnya sudah pernah keguguran?" tanya perawat.
"Ini kehamilan saya yang pertama suster otomatis juga pertama kali saya keguguran" jawab Jasmine dengan sensi karena kejadian ini benar - benar mengguncang jiwa nya.
"Apa ibu ada riwayat sakit yang kronis?" tanya perawat lagi.
"Tidak ada suster"
__ADS_1
"Apa ibu ada penyakit hipertensi?" kembali suster mengajukan pertanyaan nya
"Tidak ada suster"
"Apa ada riwayat diabetes?"
"Tidak ada juga"
"Apakah ada riwayat penyakit jantung?"
"Tidak ada suster" Sahut Jaminine lagi.
Setelah suster mencatat semua jawaban Jasmine dan melakukan semuat test yang di butuhkan, kemudian Perawat memasangkan infus ke tangan Jasmine.
"Malam ini ibu rawat inap dulu ya, dan besok pagi ketemu sama dokter kandungan untuk melakukan pemeriksaan selanjut nya." Jelas suster kepada Jasmine.
Dokter jaga yang juga ikut memeriksa kondisi Jasmine tadi, mengucapkan perkataan sabar, nanti sudah sehat lagi ibu pasti bisa hamil lagi. Yang terpenting ibu sehat dulu, jangan putus asa, serahkan semua kepada yang Kuasa. Dokter mengatakan perkataan ini untuk membuat hati Jasmine supaya tegar.
Serangkaian pemeriksaan yang dilakukan memang sakit, apalagi alat yang dimasukkan ke dalam va**** tadi, tetapi rasa sakit kehilangan calon anak lebih menyakitkan dibanding semua nya.
Jasmine hanya merasakan menjadi seorang ibu dalam waktu kurang dari dua bulan. Dia harus kehilangan calon bayi nya yang belum sempat dia lahirkan dalam keadaan sehat. Peristiwa keguguran ini sangat mengguncang hati dan jiwa nya.
Dari ruang IGD Jasmine dipindahkan ke ruang rawat inap, suster mendorong nya keruang khusus ibu - ibu yang baru melahirkan atau seperti dia saat ini, baru keguguran.
Setelah suster memastikan infus sudah terpasang dengan baik, suster pamitan keluar dari ruangan inap tersebut. Dan mengatakan kalau butuh bantuan tekan saja tombol ini ya pak. Jelas perawat kepada Suthan.
Jasmine menerawang meratapi nasib nya.Air mata nya tidak henti - henti nya mengalir. Jasmine tidak bisa memejam kan mata. Jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Tidak ada rasa kantuk nya, walau tubuh dan jiwa nya sudah lelah, tetapi dia tidak bisa memejamkan mata nya.
Tidak berselang lama terdengar tangisan bayi ke kamar Jasmine karena kamar Jasmine kebetulan di sebelah kamar baby yang baru lahir.
Lagi - lagi air mata Jasmine mengalir lebih deras, hatinya seakan - akan tersayat mendengar tangisan bayi - bayi itu.
__ADS_1
"Maaf kan mama sayang...huhuhu....maaf kan mama yang gagal menjaga mu...huhuhu..." Jasmine terus menyalahkan diri nya karena keguguran ini.
Jasmine memukul - mukul kepala nya karena merasa bahwa diri nya adalah ibu yang sangat buruk tidak bisa menjaga anaknya.
Suthan yang duduk di samping Jasmine langsung menahan tangan Jasmine supaya tidak melukai dirinya sendiri.
"Sudah sayang, jangan seperti ini, itu bukan kesalahan kamu, belum rezeki kita memilikinya" sambil menahan tangan istri nya, Suthan berusaha untuk menenangkan nya.
"Aku ibu yang bodoh, aku ibu yang jahat, aku tidak bisa melindungi anak ku...huhuhu...." Jasmine menangis makin keras...
"Sudah sayang jangan seprti ini, nanti para perawat mendengar dan mengira kamu dalam kaadaan bahaya." Suthan terus berusaha menenangkan Jasmine dan membelai rambut nya dengan lembut.
Suthan juga memperbaiki infus Jasmine karena tadi sempat darah nya naek ke selang karena memukul - mukul kepalanya.
"Sudah istirahat lah sayang, jangan seperti ini, nanti kamu pendarahan yang banyak." Suthan terus membujuk istrinya.
"Jasmine menyusul anak kita aja mas, kasihan dia di sana sendirian, dia masih sangat kecil, dia butuh ibunya" Jasmine kembali berkata yang mengaur karena perasaan bersalah kehilangan calon bayi mereka.
"Jangan berkata seperti itu sayang, ingat kita masih punya Tuhan kan, kalau kamu seperti ini kamu tidak meyakini Allah lebih sayang sama anak kita. Itu hak Allah mengambil nya kapan saja karena itu adalah titipan Nya" Suthan sudah mulai frustasi dengan keadaan ini melihat istrinya yang terus - terusan menyalahla diri nya sendiri.
Akan tetapi Jasmine tidak menghiraukan perkataan suaminya, dia masih larut dalam kesedihan. Dia belum dapat mencerna semua apa yang dikatakan suami nya.
Rasa kehilangan ini masih sangat membuat jiwa nya terguncang. Jasmine belum bisa menggunakan akal sehat nya. Masih terlarut dalam kesedihan yang sangat dalam.
Seumur hidup nya baru ini Jasmine merasakan kesedihan kehilangan seperti ini. Bagaimana tidak anak yang sangat di nanti - nanti kan nya selama sepuluh tahun pernikahan berakhir dengan keguguran.
Jasmine terus - terusan menangis dan menyalahlan semua. Dia merasa takdir hidup nya sangat buruk, dia merasa saat ini Tuhan tidak adil kepada dirinya.
Baru beberpa minggu dia bahagia dengan mengetahui diri nya hamil dan akan menjadi seorang ibu, dalam sekejab harapan itu sirna dengan keguguran ini.
Suthan sangat takut melihat kondisi istrinya, lalu dia menekan tombol memanggil perawat. Tidak berselang lama perawat masuk ke dalam kamar dan menanyakan ada apa.
__ADS_1
Suthan meminta supaya istrinya di beri obat penenang untuk beristirahat, karena dari tadi istri nya hanya menangis dan menyalahkan diri sendiri. Suthan takut istri nya pendarahan dan berakibat fatal buat nya.
Bersambung