
Akhirnya Jesika selesai juga mengenakan pakaian pilihan Nuri, pakaian simple kaos warna pink dan bawahan celana blue jeans. Berdandan sederhana, dengan memakai lipstik warna pink lembut juga cuma pakai pelembab wajah saja tanpa memakai bedak, karena wajah Jesika memang sudah putih dan mulus, tidak memerlukan banyak kosmetik wajahnya sudah kelihatan cantik.
Tidak berselang lama terdengar suara mobil berhenti di depan rumah Jesika, dia segera keluar dari kamar menuju teras. Suthan melihat Jesika sudah keluar rumah, jadi dia tidak turun lagi dari mobilnya. Suthan hanya membuka jendela kaca mobil dan menyuruh Jesika segera masuk.
"Ayo kita berangkat sekarang biar gak kelamaan nanti pulangnya." teriak Suthan dari dalam mobil.
"Sabar Pak ne saya kan lagi mau mengunci pintu rumah." sahut Jesika sesaat setelah Suthan menyuruhnya naik ke mobil.
Setelah mengunci pintu rumah Jesika berjalan menuju mobil Suthan dan langsung duduk disamping Suthan. Lalu Suthan pun llangsung menjalankan mobilnya menuju rumah sakit tempat mereka datang kemaren pas kecelakaan itu.
Sementara Nuri mengintip dari jendela kamar dan melihat semua gerak - gerik mereka sampai mobil menghilang dari pandangannya. Dan sebagai sahabat yang baik Nuri membantu Jesika menata pakaian - pakaiannya yang pindah alamat kembali kedalam lemari pakian.
Didalam mobil diantara mereka tidak ada yang bersuara. Mereka berdua larut dalam lamunannya masing - masing.
Jesika bingung harus memulai berkata apa, karena tadi siang waktu berbicara ditelepon Suthan sangat ketus kepadanya.
Sementara Suthan berpikiran bagaimana semua cepat selesai, gadis ini segera sembuh supaya dia bisa menghindarinya. Dan dia tidak ingin juga pulang kemalaman karena kasihan istrinya terlalu lama menunggunya nanti.
Tidak berselang lama mereka tiba di rumah sakit. Jesika dan Suthan bergegas turun dari mobil menuju ruang perawatan. Setelah dokter memeriksa luka Jesika, dokter mengatakan bahwa luka Jesika sudah kering dan tidak perlu diperban lagi. Terus dokter juga membuka gips yang ada ditangan Jesika dan menyuruh Jesika menggerak - gerakkan tangannya perlahan. Setelah dilakukan ronsen ternyata tangannya juga sudah membaik.
"Semua sudah baik - baik saja, tidak perlu ada yang dikahwatirkan lagi." kata dokter kepada Jesika dan membuat hati Jesika jadi lega.
__ADS_1
"Terimakasi dokter." balas Jesika menjawab pernyataan dokter barusan dengan bernafas lega.
Suthan yang sedari tadi mendampingi pemeriksaan Jesika juga merasa tanang. Jadi dia tidak perlu lagi harus repot - repot mengurus gadis ini. Setelah nya Suthan akan mengajak Jasmine istri nya memberikan uang sebagai ucapan maaf kepada gadis ini.
Setelah melakukan pembayaran ke administrasi rumah sakit, lalu mereka meninggalkan rumah sakit.
Didalam mobil Jesika meminta diajak makan malam oleh Suthan. Dia mengatakan kalau dia sangat lapar.
"Pak Alhamdulillah tadi dokter mengatakan kalau saya sudah baikan, jadi Bapak tidak perlu lagi repot - repot untuk mengurus saya. Tapi boleh saya mengajukan permintaan Pak?" tanya Jesika memberanikan diri kepada Suthan.
"Kamu ingin apa?" jawab Suthan.
"Saya sangat lapar sekali Pak, boleh kita singgah untuk makan malam?" sahut Jesika dengan tersenyum memohon.
Suthan berpikir sejenak. Sebenarnya dia sangat berat untuk mengabulkan permintaan Jesika, tetapi dia tidak enak menolak memberi makan orang yang lagi kelaparan. Apalagi gadis yang sudah ditabraknya kemarin.
Segera Suthan menelpon istrinya sebelum menjawab permintaan Jesika.
"Hallo sayang" ucap Suthan ketika Jasmine mengangkat teleponnya.
"Ada apa Mas, kenapa belum pulang sudah jam delapan malam, apa Mas lembur?" tanya Jasmine yang penasaran karena suaminya belum pulang. Biasanya sebelum maqrib suami sudah sampai ke rumah.
__ADS_1
"Maaf sayang tadi Mas lupa mengabari kalau pulang kerja tadi Mas menjemput gadis kemaren untuk melakukan cekup ke rumah sakit. Ini masih dalam pemeriksaan sebentar lagi Mas pulang ya. kalau sudah lapar makan saja duluan, gak usah tunggu Mas karena takutnya kemalaman pulang. Atau kamu mau sesuatu biar sekalian Mas belikan nanti?" jelas Suthan panjang lebar kepada Jasmine.
"Jasmine belikan sate aja ya Mas, kalau Mas sudah lapar gak apa Mas makan aja duluan sebelum pulang karena tadi juga Jasmine kebetulan tidak masak. Jasmine tadi ingin mengajak Mas makan malam diluar." jawab Jasmine.
"Ia sayang kebetulan Mas lapar, jadi nanti Mas makan duluan ya setelahnya Mas segera pulang." jawab Suthan berbohong mengatakan sudah lapar kepada istrinya. Sebenarnya dia tidak tega untuk berbohong tapi dia juga tidak mau menyakiti hati istrinya dengan mengatakan kalau ingin makan berdua dengan Jesika. Dia tahu walau istrinya bilang tidak apa - apa kalau dia jujur bilang diajak Jesika makan karena lapar tapi didalam hatinya pasti akan merasa sakit. Suthan tidak mau menyakiti hati wanita yang sangat dicintainya. Walau hubungan mereka saat ini lagi dingin karena peristiwa keguguran yang membuat hati Jasmine sangat berduka dan berdampak dia kurang memperhatikan suaminya.
"Baik sayang, hati - hati dijalan ya." jawab Jasmine.
"Ia sayang" sahut Suthan dan menutup teleponnya.
Setelah menutup telepon Suthan menoleh sejenak kearah Jesika lalu mengatakan.
"Kita makan dimana?" tanyanya kepada Jesika.
Jesika yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan pasangan suami - istri itu melalui telepon merasa cemburu. Dia cemburu karena Suthan sangat memperhatikan istrinya. Ada sedikit rasa takut dihati Jesika. Dia takut gak akan bisa menarik perhatian Suthan kepadanya. Tapi dia bertekat akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan hati Suthan dan perhatiannya. Karena dia sudah jatuh cinta kepada pria ini.
"Makan di cafe yang searah jalan pulang ke rumah saya aja Pak, biar Bapak juga gak kelamaan pulang, karena istri Bapak juga sudah menunggu Bapak kan?" jawab Jesika.
Suthan memperhatikan cafe disepanjang perjalanan pulang. Setelah menemukannya Suthan berhenti dan memarkirkan mobilnya.
"Bagaimana kalau disini saja, kamu setuju?" tanya Suthan sebelum mereka keluar dari mobil karena Suthan juga tidak ingin Jesika makan di tempat yang tidak diinginkannya.
__ADS_1
"Terserah Pak, saya tidak masalah mau makan dimana pun, karena saya tidak milih - milih makanan, yang penting bisa kenyang sudah cukup buat saya." sahut Jesika atas pertanyaan Suthan. Karena baginya Suthan sudah mengabulkan permintaannya saja saat ini sudah syukur. Jesika tidak mau terlalu terburu - buru menunjukkan perasaannya kepada Suthan karena dia sudah tahu kalau Suthan bukan tipe lelaki hidung belang. Dari perlakuannya tadi kepada istrinya, dia tahu kalau Suthan sangat mencintai dan menghargai istrinya. Tapi cinta sudah tumbuh dihati Jesika saat ini kepada Suthan dan dia bertekat untuk mendapat balasannya.
Bersambung