
"Sekali lagi saya mohon maaf tidak bisa terima Mbak, cukup Mbak anggab saya sebagai keluarga Mbak, karena saya juga tidak memiliki keluarga di kota ini." Ucap Jesika.
Jasmine jadi bingung atas penolakan Jesika.
"Baiklah jesika, kamu tidak mau menerimanya dan saya juga tidak bisa memaksa kamu. Tapi mengenai ucapan kamu tadi saya senang, saya juga tidak memiliki keluarga di kota ini, saya dengan suami juga belum setahun tinggal disini karena suami harus mutasi dari kerjaannya ke kota ini. Saya senang dapat saudari di kota ini." Ucap Jasmine.
"Kalau kamu butuh apa-apa jangan sungkan hubungi saya ya, InsyaAllah kalau saya bisa saya akan bantu." Ucap Jasmine kepada Jesika.
"Benar Mbak saya boleh meminta bantuan dari Mbak?" Tanya Jesika memastikan.
"Kalau bisa saya bantu, saya akan bantu" Jawab Jasmine meyakinkan Jesika.
"Mbak kan da beberapa kali maen ke rumah saya, jadi saya bolehlah mampir ke rumah Mbak juga ya." Ucap Jesika meminta persetujuan Jasmine.
"Silahkan datang berkunjung, dengan senang hati saya akan menerima Jesika di rumah kami." Ucap Jasmine dengan tulus karena tidak tau apa niat jahat Jesika kepada dirinya yang ingin merebut suaminya.
"Benaran ya Mbak. Saya akan datang secepatnya ke rumah Mbak." Ucap Jesika dengan tersenyum bahagia karena dia akan bisa sering bertemu dengan Suthan, dengan mendekatkan diri terlebih dahulu dengan Jasmine istrinya.
Jasmine dengan tersenyum mengiyakan permintaan Jesika. Dia juga merasa pengen punya teman di kota ini. Dia melihat Jesika anaknya sangat ramah dan ceria, walau mereka beda usia yang lumayan jauh menurut Jasmine lebih dari sepeuluh tahun. Setidaknya dia bisa menganggab Jesika adalah adiknya.
Jesmine merasa perlu juga ada teman di kota ini, sesekali ada teman shooping ke mall dan ada teman untuk nongkrong di cafe untuk sekedar bercerita menghilangkan rasa bosan di dalam rumah.
__ADS_1
Jasmine tidak berpikiran sedikitpun kalau Jesika mempunyai niat buruk terhadap pernikahannya. Karena dia merasa Jesika masih sangat muda, dan tidak mungkin menyukai pria yang sudah matang usianya apalagi sudah memiliki istri. Pasti Jesika menyukai usia yang tidak jauh usianya dari dirinya.
"Sudah jam sembilan malam, kita pamit pulang dulu ya Jesika, kalau mau main ke rumah datang saja ya. InsyaAllah saya selalu di rumah, kalau keluar pun palingan belanja, atau pas lagi libur jalan dengan suami. Kabari saja kapan mau datang ya." Ucap Jasmine.
"Ia Mbak, saya akan menghubungi Mbak terlebih dahulu sebelum datang. Terimakasih ya Mbak sudah mau berkunjung ke rumah saya. Terimakasih juga ya Pak." Ucap Jesika, Suthan hanya menganggukan kepalanya.
"Kita pamit ya Jesika. Assalamualaikum" Ucap Jasmine dan masuk ke dalam mobil mereka. Jasmine juga membuka kaca jendela mobil dan melambaikan tangan kepada Jesika.
"Waalaikumsalam" Jawab Jesika dan membalas lambain tangan Jasmine. Jesika belum beranjak dari tempat dia berdiri sampai hilang mobil yang dinaikin Jasmine dari pandangannya.
Setelah mobilnya sudah jauh, Jesika kembali masuk kedalam rumah dan mengunci pintu. Terus mencabut kunci dari sarangnya supaya nanti waktu Nuri pulang Jesika tidak repot membukakan pintu karena mereka memiliki kunci rumah masing-masing.
Jesika tersenyum karena sudah bisa mendekati Jasmine dengan begitu dia akan lebih mudah untuk merebut suaminya. Dia tahu kalau Suthan tidak gampang untuk didekati makanya dia masuk melalui istrinya. Kalau dia sudah berteman dengan Jasmine maka dia akan sering melihat Suthan dan akan menjalankan aksinya.
Jesika berpikir kalau hari minggu sebelum dia berangkat bekerja, dia akan mampir ke rumah Suthan. Hari minggu pasti Suthan di rumah, dia gak akan masuk kantor, kalau hari lain mana mungkin pagi Suthan ada di rumah pikir Jesika.
Setelah semua dibersihkan, gelas sudah dicuci dan buah sudah disusun didalam kulkas, Jesika masuk ke kamar untuk beristirhat. Dia bermain hp di ranjangnya sebelum mengantuk. Karena biasa dia juga tidur larut makanya dia belum mengantuk.
Tidak terasa sudah jam sebelas lewat, Jesika mendengar suara sepeda motor yang dikendarai Nuri. Mereka hanya mempunyai satu sepeda motor yang mereka beli bersama secara kredit. Kalau ini sudah lunas mereka berencana membeli satu lagi supaya mereka bisa memiliki masing-masing. Makanya mereka selalu bareng berangkat kerja karena tempat kerja mereka juga sama.
Jesika bangkit dari ranjangnya dan membukakan pintu rumah untuk sahabatnya itu.
__ADS_1
"Terimakasih" Ucap Nuri kepada Jesika yang sudah membukakannya pintu rumah.
"Iya" Jawab Jesika tersenyum.
"Gimana cafe hari ini, ramekah pengunjungnya?" Tanya Jesika sesaat selelah Nuri masuk. Mereka berjalan kearah sofa untuk berbincang sebelum tidur.
"Lumayan rame Jesi, aku lelah sekali, tapi sepertinya kita bakalan dapat bonus bulan ini karena pengunjungnya rame setiap hari. Bos kita memang baik, kita dapat makan dua kali sehari, gaji mingguan juga dapat karena kelebihan jam kerja, gaji pokok tiap bulan kita UMR juga bonus kalau bayak konsumen." Ucap Nuri memuji bos mereka.
"Iya makanya kita betah bekerja disitu sehingga lupa mencari pekerjaan di tempat lain, tapi mungkin aku gak dapat bonus bulan ini, aku kan ada libur satu minggu. Bos kita memang baik tidak mau memotong gaji pokok, kalau kita ijin atau dalam keadaan sakit. Kalau gak dapat bonus aku iklas karena memang aku banyak liburnya bulan ini." Jawab Jesika.
"Kemaren juga aku gak dapat gaji mingguan karena memang gak masuk." Ucap Jesika lagi karena gaji mingguan mereka juga lumayan bisa untuk kebutuhan mereka sehari-hari, jadi gaji pokok mereka tidak terpakai. Karena tiap bulan ada bonus mereka, itulah buat biaya bulanan mereka seperti listrik,air dan tabungan uang sewa rumah.
Mereka berdua membuat tabungan wajib satu juta perorang sebulan untuk membayar biaya air, listrik, uang sampah, kebutuhan rumah seperti sabun cuci piring, deterjen, pewangi kamar mandi, pembersih lantai, gas juga air minum dan sisanya disimpan untuk membayar sewa rumah tiap tahunnya.
Minyak sepeda motor mereka gantian beli setiap isi minyak. Makanya mereka tidak pernah berdebat masalah keuangan. Mereka juga tidak sembarangan membawa laki-laki masuk kedalam rumah mereka. Karena mereka takut akan jadi gunjingan warga setempat. Kalau pun ada tamu, mereka akan membuka pintu rumah lebar karena mereka berdua masih gadis dan tidak tinggal bersama orang tua.
Makanya warga tidak mencela mereka karena mereka masih menjaga batasan yang berlaku dimasyrakat. Dan yang punya rumah kontrakan pun rumahnya berada disebelah rumah yang mereka sewa.
Bersambung
Bersambung
__ADS_1