
Siang hari sebelum pergi ke rumah Jesika, Jasmine pergi ke swalayan untuk membeli oleh-oleh, supaya nanti malam langsung ke rumah Jesika tidak mampir lagi ke toko untuk menghemat waktu. Karena nanti sore pasti suaminya pulang sudah dekat maqrib dan habis sholat mereka rencana langsung ke rumah Jesika biar tidak kemalaman.
Jasmine memilih beberapa macam buah-buahan. Dan setelahnya langsung di buatkan parcel buah oleh karyawan tokonya. Jasmine juga membelikan kue bolu gulung untuk tambahannya.
Sebelum pulang ke rumah, Jasmine mengambil uang di atm yang ada di swlayan itu untuk nantinya diberikan kepada Jesika. Jasmine mengambil uang sesuai yang akan dia berikan nanti yang berjumlah lima juta rupiah. Setelah semuanya beres, Jasmine segera pulang ke rumahnya.
Waktu tidak terasa sudah malam, mereka bersiap akan ke rumah Jesika.
"Parcel buah dan bolunya tolong bawakan ke mobil ya sayang, Jasmine yang akan mengunci pintu rumah juga pagar." Pinta Jasmine kepada Suthan untuk sekalian membawa buah tangan mereka itu ke dalam mobil.
"Ia sayang." Sahut Suthan dan menjinjingnya ke dalam mobil.
Setelah pintu rumah dan pagar sudah dikunci, mereka segera bergegas ke rumah Jesika.
Tok....tok....tok.... "Asaalamualaikum" Jasmine mengetuk pintu rumah Jesika.
Tidak berapa lama terdengar sahutan dari dalam rumah. "Waalaikum salam" Lalu pintu rumah dibuka dari dalam.
"Silahkan masuk Mbak, Pak" Jesika mempersilahkan tamunya untuk masuk.
Lalu Suthan menyerahkan oleh-oleh mereka kepada Jesika. Jesika menerimanya sambil tersenyum manis terhadap Suthan. Dia bahagia sekali bisa melihat wajah pria yang sangat dirindukannya itu. Apalagi dari tangan Suthan sendiri dia terima oleh-oleh tersebut. Perasaannya semakin berbunga-bunga seperti musim semi.
"Kita cuman bawa ini aja Jesika" Ucap Jasmine yang mengalihkan pandangan Jesika kearah Jasmine.
"Kenapa harus repot-repot sih Mbak, bawa oleh-oleh segala. Ini sudah lebih dari cukup, banyak sekali Mbak bawa oleh-olehnya karena kami juga cuman berdua di rumah ini. Tapi saya ucapkan terima kasih ya Mbak." Sahut Jesika.
"Gak repotlah karena cuman bawa ini aja kok, semoga Jesika suka ya." Ucap Jasmine lagi.
__ADS_1
"Iya Mbak saya pasti menyukainya." Sahut Jesika.
"Sudah bagaimana keadaan kamu, sudah sembuhkan? Kemaren Mas Suthan cerita sama saya kalau dokter mengatakan sudah baikan. Tapi kan yang merasakan bagaimananya Jesika sendiri, makanya saya ingin memastikannya." Ucap Jasmine.
"Ia Mbak saya sudah baikan kok, saya juga sudah masuk kerja, memang di kerjaan saya belum melakukan aktivitas yang berat-berat. Teman-teman semua pada bantu saya. Mereka adalah team kerja yang sangat baik dan perhatian. Kami di kerjaan kekeluargaan mbak. Saling membantu satu sama lainnya." Jelas Jesika panjang lebar.
"Syukur Alhamdulillah..." Ucap Jasmine.
"Senang ya bekerja, banyak teman-teman, saya sejak menikah sudah tidak bekerja lagi, Mas Suthan melarang saya bekerja, dia menyuruh fokus mengurus rumah terutama dirinya." Ucap Jasmine sambil tersenyum.
"Senang ya Mbak memiliki suami yang baik, mana ganteng, suami idaman." Ucap Jesika.
"Alhamdulillah, mudah-mudahan kamu juga menemukan pasangan hidup yang baik dan tanggung jawab." Sahut Jasmine.
"Semoga Mbak, aku sangat berharap dapat seperti suami Mbak." Ucap Jesika.
"Kami sudah sepuluh tahun lebih menikah, akan tetapi kami belum juga mendapat rejeki anak." Jawab Jasmine dengan polos dan jujur karena tidak mengetahui akan niat jahat Jesika.
Sementara Jesika mendengarnya serasa mendapat peluang yang besar, dia merasa akan lebih mudah mendapatkan Suthan dengan alasan anak. Tetapi dia berpura-pura merasa simpati dengan cerita Jasmine.
"Sabar ya Mbak, kalau Allah sudah berkehendak Pak Suthan akan segera diberi keturunan." Ucap Jesika tanpa sadar hanya menyebutkan nama Suthan.
"Maksud saya Mbak dan suami." Ralat Jesika.
Jasmine menarik napas panjang, seakan berusaha tabah dan kuat. Karena setiap orang mempertanyakan masalah anak maka emosinya mulai tidak stabil. Dia menarik napas untuk dapat menguasai emosinya.
"Aamiin...terimakasih." Ucap Jasmine singkat. Karena kata-kata itu sudah sering di dengarnya, bahkan banyak kata-kata yang menyakitkan yang sudah didengarnya.
__ADS_1
Jesika berdiri dari duduknya, "Sebentar saya ambilkan air minum ya Mbak, Mbak mau minum apa, Bapak mau minum apa?" Tanya Jesika kepada mereka berdua.
"Gak usah repot-repot Jesika" Ucap Jasmine.
"Gak repot lah Mbak, waktu datang pertama orang Mbak gak minum apa-apa karena tangan saya kemaren masih sakit, ne saya sudah bisa buatkan minuman bahkan kalau lapar saya bisa juga masakkan." Ucap Jesika.
"Saya air putih aja ya, kalau Mas Suthan buatin kopi aja. Mas mau minum kopi kan?" Tanya Jasmine kepada suaminya.
"Terserah saja" Jawab Suthan singkat.
Jesika berlalu ke dapur, dia membuatkan kopi kepada Suthan dengan penuh cinta, dia berusaha membuat kopi seenak mungkin supaya Suthan terus mengingat kopi buatannya. Setelahnya dia menyajikan kepada tamunya.
"Silahkan diminum Mbak, silahkan diminum juga Pak" Ucap Jesika.
Jasmine meminum air putih yang disuguhkan tuan rumah, sementara Suthan mulai menyeruput kopi buatan Jesika. Lumayan enak ucap Suthan dalam hatinya.
"Bagaimana kopi buatan saya Pak?" Tanya Jesika penasaran karena dari tadi dia memperhatikan Suthan meminum kopi buatannya.
"Tidak buruk" Ucap Suthan lagi-lagi dengan singkat. Jesika serasa melayang mendengarnya, dia bahagia sekali karena kopi buatannya dipuji oleh pria yang dicintainya. Dan terlihat senyuman dibibir Jesika.
Jasmine mengeluarkan amplop dari dalam tasnya. Dan menyerahkannya kepada Jesika.
"Ini ada sedikit uang untuk kamu sebagai ucapan kata maaf dari kami dan juga ucapan terimakasih karena waktu kejadian itu kamu tidak melaporkan suami saya kepihak berwajib. Saya harap jesika bisa bisa menerimanya ya." Ucap Jasmine sambil menyodorkan amplop uang itu kepada Jesika.
"Apa-apaan lah Mbak ini, saya tidak butuh ini Mbak, saya tidak marah dan kecelakaan itu juga bukan disengaja atau diinginkan Pak Suthan. Dan lagi Pak Suthan sudah bertanggung jawab kepada saya dengan membawa saya berobat sampai sembuh, sekarang juga Mbak dan suami datang bersilaturahmi buat menjenguk dan menanyakan keadaan saya. Jadi saya tidak bisa menerima ini Mbak." Ucap Jesika dengan tegas.
"Tapi kan kamu sudah tidak bekerja beberapa hari karena harus memulihkan kondisi, saya berpikiran takutnya atasan kamu akan memotong gaji karena tidak bisa bekerja. Jadi saya harap kamu bisa menerima ini, anggab aja ucapan maaf dari kami." Desak Jasmine kepada Jesika.
__ADS_1
"Sekali lagi saya mohon maaf tidak bisa terima Mbak, cukup Mbak anggab saya sebagai keluarga Mbak, karena saya juga tidak memiliki keluarga di kota ini." Ucap Jesika.