
"Jadi sekarang saya boleh pamit pulang?" Tanya Suthan dengan hati-hati supaya tidak menimbulkan kecurigaan di hati Jesika.
Jesika berpikir sejenak sebelum menjawab permintaan Suthan. "Baiklah...tapi jangan sampe Bapak ingkar janji, kalau Bapak mengingkarinya saya punya banyak cara untuk mendapatkan Bapak. Dan saya tidak akan segan menyakiti Mbak Jasmine." Ancam Jesika yang sudah tertutup hati nuraninya.
"Jangan kahwatir saya tidak akan mengingkarinya, saya hanya ingin membicarakan prihal ini kepada Jasmine." lagi-lagi Suthan berbohong untuk bisa keluar dari rumah Jesika secepatnya.
"Baiklah...tapi dengan satu syarat..." Ucap Jesika.
"Syarat apa lagi?" Tanya Suthan yang mulai emosi, tetapi dia berusaha tetap mengontrolnya supaya tidak menimbulkan kecurigaan Jesika.
"Saya ingin Bapak mencium saya." Ucap Jesika dengan tidak tahu malu.
Mendengar itu, Suthan ingin sekali menampar Jesika supaya sadar dari hayalannya yang begitu tinggi.
"Sabar, besok setelah setelah sah saya akan melakukan apa pun yang kamu inginkan, sekarang belum saatnya, karena kita belum muhrim, saya tidak mau menodai malam pertama kita nantinya." Ucap Suthan sambil tersenyum memaksakan diri.
Jesika berpikir sejenak dan berkata "Baiklah kalau begitu, sekarang pulanglah dan secepatnya bicarakan kepada Mbak Jasmine tentang rencana pernikahan kita besok. Dan saya tidak mau ada penolakan." Ucap Jesika.
"Iya, sekarang saya pulang dulu ya." Ucap Suthan.
Jesika mengantarkan Suthan sampe depan pintu rumahnya, dia menunggu sampai mobil yang dikendarai Suthan menghilang dari pandangannya, lalu ia segera masuk kedalam rumah dengan tersenyum bahagia.
"Akhirnya aku akan menikah dengan pria yang sangat aku cintai." Ucap Jesika pada dirinya sendiri.
Aku akan segera menghubungi Ayah supaya dia besok pagi datang kemari. Saya juga akan mengatakan ini kepada ibu yang punya kontrakan untuk memanggil Pak Ustad yang ada di daerah sini.
Jesika segera menghububgi Ayahnya dan meminta untuk datang.
"Ayah, besok pagi datanglah bersama Ibu ke rumah kontrakan Jesi." Ucap Jesika ketika ayahnya mengangkat telepon darinya.
"Ada apa Nak, kenapa tiba-tiba menyuruh Ayah dan Ibu datang?" Tanya Ayah Jesika penasaran.
__ADS_1
"Besok malam Jesi akan menikah." Ucap Jesika yang membuat orang tuanya kaget.
"Kenapa mendadak seperti ini?" Tanya Ayahnya dengan perasaan yang tidak enak.
"Ini tidak mendadak Ayah, sudah lama ini direncanakan, tapi Jesi tidak mau merepotkan Ayah dan Ibu, Jesi berpikir setelah semua sudah selesai di urus tinggal mengabari Ayah dan Ibu." Ucap Jesika dengan berbohong.
"Tapi tidak begitu juga caranya Nak, seharusmya Pria calon pendamping kamu harus mendatangi Ayah dan Ibu minta ijin terlebih dahulu. Jangan mengambil anak gadis orang seenaknya saja." Ayah Jesika berusaha menjelaskan.
Mendengar itu Kesika jadi merasa tidak senang dan mulai protes kepada Ayahnya.
"Jesi selama ini tidak pernah menuntut lebih kepada Ayah, sekali Jesi meminta sesuatu kepada Ayah kenapa Ayah seakan mempersulitnya. Kalau memang Ayah gak mau jadi Wali Jesi gak apa-apa, Jesi akan cari Wali Hakim disini." Ucap Jesika dengan angkuh kepada orang tuanya.
"Jangan begitu Nak, Ayah masih hidup kenapa kamu tega menggantikan Ayah dengan orang lain, baiklah besok Ayah dan Ibu akan datang, kami akan berangkat dengan penyeberangan pertama besok pagi." Jawab Ayahnya dengan perasaan sedih dengan perkataan anaknya.
"Gitu dong, kan Jesi senang mendengarnya Ayah. Kalau begitu Jesi tutup dulu ya karena masih banyak yang mau Jesi urus." Ucap Jesika kepada orang tua nya dan segera menutup teleponnya. Kemudian Jesi segera ke rumah ibu pemiliki kontarakan mereka.
Tok...tok...tok...Jesika mengetuk pintu rumah Buk Laida pemilik kontrakan yang rumahnya di sebelah rumah Jesika.
"Terimakasih Buk"
"Ada apa Nak? Apa ada masalah dikontrakan?" Tanya Buk Laida.
"Gak ada masalah Buk, cuma Jesi mau minta tolong sama Ibuk, apa Ibu bisa bantu Jesi?" Tanya Jesika kepada Buk Laida.
"Nak Jesi mau perlu apa? Kalau bisa Ibuk bantu akan Ibu bantu." Jawab Buk Laida.
"Ibuk bisa memanggilkan Pak Ustad yang ada di daerah ini untuk datang besok malam ke rumah kontrakan kita Buk." Ucap Jesika.
"Loh...untuk apa memanggil Pak Ustad Nak?" Tanya Ibu kontrakannya dengan penasaran.
"Besok Jesi mau menikah Buk, tetapi secara siri dulu, menunggu berkas-berkas diurus. Karena masih banyak kendalanya Buk. Jesi kan harus mengurus berkas ke kampung, sementara Jesi bekerja dan belum dapat libur. Jadi kami berencana nikah siri dulu sampe semua selesai baru melaporkannya ke KUA. Makanya kami berencana dari pada pacaran dan menimbulkan dosa lebih baik kita menikah. Dan Pak Ustad nantinya yang akan jadi penghulu nikah kita Buk. Apa Ibuk bisa bantu Jesi?" Tanya Jesika dengan penuh harap.
__ADS_1
Ibuk Laida memandang Jesika sejenak sebelum menjawabnya. Dia masih merasa heran kenapa harus menikah siri, apakah Jesi sudah hamil duluan, atau dia memang tidak mau pacaran dan ingin langsung menikah. Tapi Buk Laida membuang pikiran jeleknya. Dia tahu kalau Jesika dan Nuri adalah wanita baik-baik, selama tinggal dikontrakannya mereka tidak pernah berbuat yang mesum, laki-laki juga jarang mampir ke rumah mereka. Kalaupun ada pasti mereka buka pintu rumah lebar-lebar.
"Baiklah nanti malam Ibuk akan menjumpai Pak Ustad dan meminta beliau datang besok malam selepas sholat Isya ke rumah Jesika." Ucap Ibuk Laida dengan tersenyum.
"Apakah keluarga kamu akan datang?" Tanya buk Laida.
"Besok pagi orang tua saya akan datang Buk, kemungkinan sore baru nyampai kemari." Jawab Jesika.
"Yang jadi saksi sudah ada?" Tanya Buk Laida lagi.
"Sekalian Bapak boleh jadi saksinya Buk? Dan nanti saya akan meminta teman saya sebagai tambahan saksinya." Pinta Jesika kepada Buk Laida supaya suami buk Laida bersedia jadi saksi.
"Baiklah nanti Ibuk minta Bapak jadi saksinya." Jawab Buk Laida.
"Terimakasih Buk." Ucap Jesika dengan bahagia kepada Buk Laida dan pamitan pulang untuk mengurus yang lainnya.
Jesika segera menghubungi Nuri sesampai di rumah kontrakannya melalui telepon karena Nuri belum pulang bekerja.
"Hallo Nuri." Ucap Jesika sesaat Nuri mengangkat telepon.
"Hallo Jesi, ada apa? Tumben menelpon pas jam kerja gini, apa ada hal yang penting? Tanya Nuri penasaran.
"Besok malam pesankan makanan untuk porsi lima belas orang ya." Ucap Jesika.
"Untuk siapa dan alamatnya dimana?" Tanya Nuri.
"Untuk kita, alamatnya ya kontrakan kitalah." Ucap Jesika.
"Untuk apa pesan untuk lima belas orang, mau ada acara apa?" Tanya Nuri penasaran.
"Acara akad nikah aku sama Pak Suthan." Jawab jesika.
__ADS_1
"Apaaa...." Jawab Nuri kaget dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.